, ,

Tahun 2021, PTBA Target Produksi 29,5 Juta Ton

Posted by

Jakarta, Petrominer – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mematok target volume produksi batubara tahun 2021 sebesar 29,5 juta ton. Target ini naik realisasi produksi tahun 2020 yang mencpai 24,8 juta ton. Tidak hanya produksi, PTBA juga menargetkan kenaikan penjualan dari 26,1 juta ton di tahun 2020 menjadi 30,7 ton di tahun 2021.

Direktur Utama PTBA, Arviyan Arivin, menyampaikan bahwa untuk mencapai target tersebut, PTBA telah meningktkan investasi dalam pengembangan diversifikasi dan hilirisasi batubara. Untuk tahun 2021, PTBA telah merencanakan investasi sebesar Rp 3,8 triliun untuk kedua sektor tersebut.

“Pada 2021, Perseroan akan meningkatkan investasi dalam mengembangkan diversifikasi usaha, hilirisasi batu bara. Total investasi yang direncanakan pada 2021 untuk sektor tersebut adalah sebesar Rp 3,8 triliun,” ujar Arviyan dalam press conference kinerja PTBA per 31 Desember 2020 yang diselenggarakan secara virtual, Jum’at (12/3).

Dia menyampaikan bahwa kinerja operasional dari sisi produksi, PTBA mampu memproduksi 24,8 juta ton batu bara hingga Desember 2020 atau 99 persen dari target yang telah disesuaikan menjadi 25,1 juta ton. Kinerja angkutan batubara juga menunjukkan performa yang terjaga dengan kapasitas angkutan batu bara tercatat mencapai 23,8 juta ton naik 3 persen dari target tahun ini. Serta kinerja penjualan batubara yang terealisasi sebesar 26,1 juta ton atau naik 5 persen dari target 2020.

Menurut Arviyan, PTBA masih mencetak kinerja positif hingga Desember 2020, meski terimbas pandemi Covid-19 serta fluktuasi dan lesunya harga batu bara dunia. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 2,4 triliun. Sementara dari sisi pendapatan, PTBA membukukan Rp 17,3 triliun.

Aset perusahaan per Desember 2020 tercatat masih kuat berada di angka Rp 24,1 triliun, dengan komposisi kas setara kas dan deposito berjangka di atas 3 bulan sebesar Rp 5,5 triliun atau 23 persen dari total aset.

Menurut Arviyan, kinerja PTBA sepanjang tahun 2020 terdampak oleh pandemi Covid-19 yang menyebabkan penurunan konsumsi energi akibat diberlakukannya lockdown di beberapa negara tujuan ekspor seperti China dan India. Begitu juga dengan kondisi di dalam negeri yang menjadi pasar mayoritas PTBA. Turunnya konsumsi listrik di wilayah besar Indonesia seperti DKI Jakarta, Banten, Jawa dan Bali juga berdampak turunnya penyerapan batubara domestik.

Harga batubara selama tahun 2020 juga menjadi tantangan tersendiri bagi PTBA. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), harga batubara acuan (HBA) sangat berfluktuasi sepanjang 2020. Berawal di angka US$ 65,93 per ton di awal Januari 2020 dan sempat menyentuh titik di bawah US$ 50 per ton pada September 2020.

HBA mulai merangkak naik dalam 3 bulan terakhir di 2020 dan menyentuh angka US$ 59,65 per ton pada Desember 2020. Kenaikan ini seiring dengan mulai pulihnya permintaan batubara di pasar global. Meskipun begitu rerata HBA sepanjang 2020 merupakan yang terendah selama 4 tahun terakhir dengan berada di level US$ 58,17 per ton.

Strategi Efisiensi

Lebih lanjut, Arviyan menjelaskan bahwa efisiensi merupakan salah satu strategi PTBA untuk menjaga dan mencatatkan kinerja positif di tengah volatilitas harga dan berkurangnya permintaan pasokan batu bara.

Beberapa strategi efisiensi yang telah dilakukan PTBA di segala lini adalah dengan terus melakukan upaya penurunan biaya usaha dan pengendalian biaya pokok produksi melalui penerapan optimalisasi di setiap lini operasi.

“Masih terjaganya kinerja operasional perusahaan sepanjang tahun 2020 tak lain merupakan hasil dari penerapan operational excellence yang berkelanjutan dan perluasan pasar yang menjadi strategi perusahaan dalam menjalankan bisnis di tahun ini,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *