Jakarta, Petrominer – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) terus memacu jumlah wirausaha muda di sektor industri kreatif. Tentunya, upaya ini untuk mendukung kontribusi positif terhadap perekonomian nasional, dan sekaligus membawa efek ganda (multiplier effect) bagi pertumbuhan ekonomi kreatif di tanah air.
Langkah tersebut terkait dengan penelitian yang dilaksanakan oleh IDN Research Institute (Indonesia Millenial Report 2019). Di mana disebutkan bahwa 94,4 persen generasi milenial Indonesia telah terkoneksi dengan internet. Selain itu 69,1 persen generasi milenial berminat untuk membuka usaha, artinya 7 dari 10 millennial memiliki jiwa entrepreneurship (kewirausahaan).
“Fenomena tersebut perlu ditangkap dan dipandang sebagai peluang,” ujar Direktur IKM Kimia, Sandang, Kerajinan, dan Industri Aneka, Ditjen IKMA, Kemenperin, E. Ratna Utarianingrum, dalam acara pembukaan Creative Business Incubator BCIC (Bali Creative Industry Centre) Batch I, Selasa (17/9).
Ratna, mengemukakan bahwa proyeksi penduduk Indonesia tahun 2005-2025 yang disusun oleh Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas), Badan Pusat Statistik (BPS) dan United Nation Population Fund (UNPF) menyatakan proporsi penduduk usia produktif pada tahun 2020 adalah 70 persen produktif dan sisanya 30 persen non-produktif.
Proporsi penduduk usia produktif tersebut akan didominasi oleh generasi millenial yang memiliki perilaku berbeda dengan generasi saat ini. Karena itulah, pemahaman terhadap generasi milenial sangat diperlukan untuk mengelola atau berinteraksi dengan mereka, baik sebagai konsumen ataupun mitra kerja.
Hal inilah yang mendorong Pemerintah melaksanakan kegiatan penumbuhan wirausaha kreatif (start-up company) bagi anak muda berusia di bawah 28 tahun. Melalui program ini, jelas Ratna, para pelaku IKM kreatif pemula bidang kriya dan fesyen akan diberikan pelatihan dan pendampingan untuk pengembangan bisnis (scalling-up).
“Tahapan ini cukup krusial mengingat banyak pelaku usaha kreatif pemula yang sudah mampu menjalankan usahanya namun mengalami kendala ketika akan meningkatkan kapasitas usahanya. Harapan kami, anak-anak muda kreatif ini nantinya bukan hanya pandai berbisnis, namun juga memiliki kepekaan sosial untuk membantu sesama,” paparnya
Gandeng Perguruan Tinggi
Dalam kesempatan tersebut, Ditjen IKMA menandatangani kerjasama dengan Sekolah Bisnis dan Ekonomi Universitas Prasetya Mulya serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (Fisipol UGM). Sekolah Bisnis dan Ekonomi Universitas Prasetya Mulya merupakan salah satu sekolah bisnis terbaik di negeri ini. Sementara Fisipol UGM selama ini aktif membina wirausaha muda kreatif melalui Fisipol Creative Hub dan Akademi Kewirausahaan Masyarakat.
Selain inkubator bisnis kreatif, kolaborasi dengan Prasetya Mulya dan Fisipol UGM juga dilaksanakan melalui program design lab, yang merupakan kolaborasi antara desainer dan sentra Industri Kecil dan Menengah. Materi dalam program inkubator bisnis antara lain strategi bisnis, manajemen, dan terkait juga dengan upaya peningkatan kualitas atau mutu produk.
“Meskipun usahanya masih kecil, namun para peserta diharapkan dapat menjadi pengusaha yang berorientasi pada prospek usaha ke depannya. Karena itu mereka harus memetakan industrinya dengan dasar-dasar wirausaha, sehingga perlu melalui sejumlah proses jatuh dan bangun menjadi pengusaha,“ jelas Ratna.
Dengan pendampingan selama kurang lebih 3 bulan yang berlangsung dari 17 September sampai dengan 5 November 2019 di Jakarta, mereka akan didampingi para mentor.
Rekruitmen peserta CBI – BCIC telah dilaksanakan secara terbuka melalui media sosial dan kegiatan creative talk diselenggarakan di Yogyakarta, Bandung, Surabaya dan Bali. Jumlah pendaftar CBI – BCIC Batch I tahun 2019 mencapai 840 orang. Kemudian diseleksi menjadi 30 peserta terpilih untuk mengikuti program CBI – BCIC Batch I.

Program ini bertujuan untuk membangun ekosistem industri di sentra IKM, meningkatkan nilai tambah bisnis berbasis pasar (market based) dan mendukung pengembangan pariwisata. Hal ini sejalan dengan visi Presiden Jokowi untuk menghubungkan pembangunan infrastruktur yang sudah dilakukan dengan kawasan industri rakyat, ekonomi khusus dan pariwisata.
Survei Khusus Ekonomi Kreatif (SKEK) 2016 yang dilaksanakan oleh Bekraf dan BPS memunculkan fakta, kontribusi ekspor ekonomi kreatif terbesar terdapat pada sub-sektor fesyen 56,27 persen kemudian diikuti oleh sub-sektor kriya 37,52 persen dari total ekspor ekonomi kreatif Indonesia.
Karena itulah, Ditjen IKMA melaksanakan program inkubator bisnis kreatif, dengan target generasi muda dan fokus di sektor kriya dan fesyen. Hal ini sesuai rencana pemerintah untuk mendorong peningkatan ekspor.








Tinggalkan Balasan