Jakarta, Petrominer — Pemerintah telah menetapkan 13 wilayah prioritas untuk dikembangkan potensi sumber energi baru terbarukan (EBT)-nya. Dengan kapasitas sekitar 210 gigawatt (GW), ke-13 wilayah ini dianggap menarik dari segi keenomiannya.
“Terdapat potensi EBT sekitar 210 GW di 13 wilayah prioritas yang keekonomiannya menarik,” ujar Direktur Panasbumi, Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Yunus Saefulhak, dalam acara Press Briefing Permen ESDM No 12 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber EBT untuk Penyediaan Tenaga Listrik, Senin (20/2).
Yunus menjelaskan, investasi EBT di 13 wilayah prioritas itu dianggap menarik untuk dikembangkan karena Biaya Pokok Produksi (BPP) setempat lebih tinggi dari BPP Nasional. Ke-13 wilayah itu adalah Aceh, Sumatera Utara (Sumut), Riau, Bangka Belitung (Babel), Kalimantan Barat (Kalbar), Kalimantan Timur (Kaltim), Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo (Sulutenggo), Maluku, Kalimantan Selatan dan Tengah (Kalselteng), lalu Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Barat (Sulselrabar), kemudian Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Maluku serta Papua.
“Kami fokus pengembangan pada wilayah yang keekonomiannya menarik, yakni BPP setempat lebih tinggi dari BPP nasional,” paparnya.
Untuk beberapa daerah khusus Jawa, pengembangan listrik berbasis EBT bisa lebih efisien. Sementara untuk Indonesia Timur terbuka luas peluang investasi, sebab dalam Permen 12/2017 juga disebutkan jika BPP setempat kurang dari BPP nasional bisa menggunakan BPP setempat.
Meski begitu, Yunus menegaskan bahwa Pemerintah akan mulai untuk mengarahkan investasi berbasis EBT ke wilayah Indonesia tengah dan timur. Alasanya, potensi sumber daya di wilayah tersebut masih tersimpan banyak.
“Kedepan kami mengarahkan proyek-proyek EBT ke Indonesia Timur, karena masih ada peluang sekitar 209,6 GW,” katanya.










Tinggalkan Balasan