Mendulang, aktifitas penambangan emas tradisional yang biasanya dilakukan oleh perempuan. (spesial)

Jakarta, Petrominer – Kalangan aktivis dan akademisi berpendapat bahwa pemberdayaan komunitas perempuan penambang emas tidak lantas menjadikan kaum hawa bisa ambil bagian di dalam seluruh aktivitas pertambangan. Pasalnya, kegiatan di bidang pertambangan tersebut tetap berisiko tinggi terhadap kesehatan dan keselamatan kerja mereka.

Koordinator Pusat Studi Lingkungan Hidup (KPSLH) Universitas Riau, Suwondo, mengatakan, tidak semua bagian di dalam aktivitas pertambangan emas itu tepat untuk dikerjakan kaum hawa. Meski begitu, mereka tetap perlu terlibat dan diberdayakan karena banyak perempuan menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja di bidang pertambangan emas skala kecil.

“Perempuan memang tetap harus dilibatkan, misanya pada aktivitas mendulang di sungai secara langsung. Namun, memang pelibatan mereka tidak untuk keseluruhan aktivitas pertambangan,” ujar Suwondo dalam seminar virtual bertajuk Partisipasi Perempuan dalam Pemberdayaan Komunitas Penambang, Rabu (15/7).

Mendulang emas, jelasnya, merupakan tradisi masyarakat di sejumlah wilayah pertambangan rakyat. Ini dilakukan mulai dari anak-anak hingga orang tua. Malahan di Sungai Kuantan dan Singingi, aktivitas mendulang emas didominasi perempuan paruh baya alias ibu rumah tangga.

Hasil mendulang sekitar dua hingga tiga buncis emas per hari, dengan harga per buncis sekitar Rp 43.000. Sementara untuk menghasilkan satu gram emas murni, dibutuhkan sekitar 2,5 buncis emas. Alhasil, kegiatan mendulang ini banyak membantu ibu rumah tangga untuk dapat memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.

Sementara itu, Direktur DeTara Foundation, Latipah Hendarti, berpendapat bahwa hal terpenting dalam proses pemberdayaan komunitas perempuan penambang tak hanya soal cakupan pekerjaan. Ada juga aspek lain yang butuh perhatian, salah satunya adalah bagaimana melindungi mereka dari dampak negatif pertambangan.

“Perempuan cenderung punya pengetahuan lebih terkait pengelolaan alam. Tapi, yang mendominasi untuk mengkomunikasikan itu biasanya laki-laki. Maka penting untuk memasukkan pendidikan lingkungan berperspektif gender,” ungkap Latipah.

Hal senada juga disampai Direktur Program Indonesia Pure Earth, Co-Founder WiME, Budi Susilorini.

Menurut Susilorini, ada banyak manfaat dari pemberdayaan perempuan penambang emas. Benefit ini dirasakan tidak hanya oleh para penambang sendiri tetapi juga pelaku usaha serta lingkungan hidup.

“Bagi penambang tentunya bekerja menjadi lebih aman, pendapatan mereka meningkat dan lebih stabil. Sementara bagi perusahaan perhiasan, bisa kolaborasi langsung dengan penambang serta mendapat material yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, kerusakan lingkungan hidup juga bisa ditekan,” tegasnya.

Sementara Pemerintah, yang diwakili Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), menyatakan dukungan terhadap aktivitas pemberdayaan komunitas perempuan penambang. Pasalnya, sekitar 30 persen peran perempuan penambang memiliki peran krusial dalam kestabilan perekonomian keluarga. Namun di lapangan, mereka menghadapi begitu banyak tantangan.

“Misalnya, untuk pekerjaan yang sama berat tetapi perempuan dibayar lebih murah dibandingkan laki-laki. Padahal, dengan bekerja di pertambangan yang masih menggunakan merkuri, risiko bagi perempuan usia subuh begitu tinggi, terlebih bagi perempuan hamil. Perempuan penambang juga multi beban dan bekerja lebih panjang daripada laki-laki,” kata Direktur Pengelolaan B3 KLHK, Yn Insiani.

Kesetaraan gender merupakan salah satu isu di dalam SDG yang selayaknya mendapatkan perhatian berbagai pihak. Pemberdayaan terhadap komunitas perempuan penambang emas adalah salah satu isu terkait gender equality yang perlu diperjuangkan, termasuk di Indonesia.

DRR UNDP Indonesia Sophie Kemkhadze menyatakan, pemerintah dan berbagai pihak terkait perlu menaruh atensi khusus terhadap isu tersebut. Dengan begitu, perempuan penambang tetap bisa memperoleh akses dan kesempatan yang sama dengan laki-laki.

Meki begitu, Sophue pun menyadari bahwa implementasi kesetaraan gender di Indonesia merupakan perjalanan panjang.

“Memberdayakan perempuan bukan hanya sekadar untuk mengedukasi satu orang. Pemberdayaan memiliki efek luas kepada keluarga dan masyarakat. Kita perlu mengedukasi perempuan agar dapat saling memberdayakan sesama perempuan, terutama mereka yang bekerja di sektor pertambangan,” ucapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here