
Paris, Petrominer – TotalEnergies mengambil langkah strategis untuk mempercepat proyek Papua LNG menuju Final Investment Decision (FID). Setelah memangkas biaya hingga hampir US$ 4 miliar, perusahaan energi asal Prancis itu juga sepakat mengalihkan posisi operator proyek kepada ExxonMobil.
Serangkaian kesepakatan komersial dan kontraktual yang diumumkan pada Minggu (7/9) tersebut menjadi sinyal kuat bahwa proyek LNG bernilai jumbo tersebut semakin mendekati tahap keputusan investasi akhir. Nilai belanja modal atau capital expenditure (capex) Papua LNG kini berhasil ditekan menjadi sekitar US$14 miliar.
Penghematan biaya menjadi salah satu kunci dalam meningkatkan keekonomian proyek. Sejak tahun 2024, TotalEnergies bersama mitranya melakukan optimalisasi desain pengembangan sekaligus meninjau kembali strategi pengadaan kontrak Engineering, Procurement and Construction (EPC). Salah satu langkah efisiensi dilakukan melalui pengembangan skema alternatif pengelolaan kondensat di sektor hulu yang terintegrasi dengan fasilitas PNG LNG. Selain itu, proyek juga melakukan tender ulang sejumlah paket EPC dengan memperluas keterlibatan kontraktor EPC dari Asia.
Strategi tersebut menghasilkan penghematan hampir US$ 4 miliar. Penurunan capex ini menjadi faktor penting bagi Papua LNG untuk memperkuat daya saingnya di tengah dinamika harga LNG global dan ketatnya persaingan proyek-proyek baru.
Alih Operator
Tidak hanya fokus pada efisiensi biaya, TotalEnergies juga memutuskan memaksimalkan sinergi Papua LNG dengan proyek PNG LNG. Langkah itu diwujudkan melalui pengalihan peran operator Papua LNG kepada ExxonMobil, yang selama ini mengoperasikan PNG LNG.
Perubahan operator dinilai mampu menciptakan efisiensi yang lebih besar, terutama pada fase konstruksi dan operasi. Dengan pengalaman serta infrastruktur yang telah dimiliki ExxonMobil di Papua Nugini, integrasi kedua proyek diharapkan dapat menekan risiko sekaligus meningkatkan efektivitas pengembangan.
TotalEnergies dan ExxonMobil akan memastikan proses transisi operator berjalan aman dan efisien. Kedua perusahaan juga berkomitmen menjaga kesinambungan kegiatan proyek dan seluruh komitmen yang telah dibuat kepada pemerintah Papua Nugini maupun para pemangku kepentingan.
Sejalan dengan pengalihan operator, TotalEnergies juga akan mengurangi porsi kepemilikannya dalam Papua LNG. Perusahaan akan menjual 9,1 persen hak partisipasi setelah pelaksanaan hak back-in oleh Kumul Petroleum kepada para mitra proyek secara proporsional.
Setelah transaksi tersebut rampung, TotalEnergies akan mempertahankan 20 persen kepemilikan di Papua LNG. Kendati mengurangi kepemilikan ekuitas, perusahaan tetap mempertahankan porsi hak pengambilan LNG atau LNG offtake dari proyek tersebut.
Finalisasi Gas Agreement
Struktur proyek juga diperkuat melalui finalisasi Gas Agreement dengan Pemerintah Papua Nugini. Perjanjian yang pertama kali ditandatangani pada 2019 itu telah diamendemen untuk menyesuaikan struktur biaya dan optimalisasi terbaru proyek.
Perubahan perjanjian tersebut diarahkan untuk memastikan proyek tetap memiliki keekonomian yang kuat, termasuk ketika industri LNG memasuki siklus harga rendah. Di sisi lain, kepentingan fiskal jangka panjang Pemerintah Papua Nugini tetap dipertahankan.
Dari sisi komersialisasi, TotalEnergies dan entitas terkait Pemerintah Papua Nugini yang diwakili Kumul Petroleum Holdings Limited juga membentuk perusahaan patungan pemasaran LNG. Entitas tersebut akan mengomersialkan 2,4 juta ton LNG per tahun atau million tonnes per annum (Mtpa).
Volume tersebut merupakan bagian dari total kapasitas produksi Papua LNG yang mencapai 5,6 Mtpa. Pembentukan perusahaan patungan pemasaran diharapkan dapat memberikan kepastian komersial sekaligus mendukung skema pembiayaan proyek.
TotalEnergies juga telah menandatangani Heads of Agreement untuk pembelian LNG dengan perusahaan patungan pemasaran tersebut. Melalui kesepakatan itu, TotalEnergies akan memperoleh akses terhadap 1,5 Mtpa LNG untuk memperkuat portofolio globalnya.
Chairman dan CEO TotalEnergies, Patrick Pouyanné, mengatakan berbagai kesepakatan tersebut menjadi langkah menentukan menuju FID Papua LNG. Menurutnya, perubahan struktur proyek dan pengalihan operator akan meningkatkan nilai serta daya saing proyek.
“Kesepakatan-kesepakatan ini menandai langkah yang menentukan menuju Keputusan Investasi Akhir Papua LNG,” kata Pouyanné.
Ia menilai pengalihan peran operator kepada ExxonMobil akan memungkinkan proyek memanfaatkan sinergi yang lebih besar dengan PNG LNG. Sinergi tersebut akan dimaksimalkan, baik selama tahap konstruksi maupun ketika proyek mulai beroperasi.
Bagi TotalEnergies, Papua LNG juga memiliki arti strategis dalam memperkuat portofolio LNG global perusahaan. Lokasinya yang dekat dengan pasar Asia memberikan keunggulan tersendiri di tengah meningkatnya kebutuhan energi di kawasan tersebut.
“Papua LNG akan memungkinkan perusahaan mengamankan volume LNG yang signifikan dan berada di lokasi strategis untuk mendukung diversifikasi pasokan energi di pasar Asia yang tumbuh pesat,” ujar Pouyanné.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Papua Nugini yang dipimpin Perdana Menteri James Marape. Dukungan pemerintah disebut menjadi salah satu faktor penting dalam pencapaian sejumlah tonggak strategis proyek.
Setelah seluruh transaksi pelepasan saham dan pelaksanaan hak back-in Pemerintah Papua Nugini selesai, ExxonMobil akan menjadi pemegang kepemilikan terbesar sekaligus operator Papua LNG dengan porsi 34,1 persen.
Santos akan memiliki 21 persen kepemilikan, disusul TotalEnergies sebesar 20 persen dan ENEOS Xplora sebesar 2,4 persen. Sementara Kumul Petroleum Holdings Limited bersama MRDC akan menguasai 22,5 persen saham proyek tersebut.
Dengan capex yang telah ditekan, struktur komersial yang semakin jelas, serta sinergi dengan fasilitas PNG LNG, Papua LNG kini memasuki fase krusial menuju FID. Keberhasilan proyek mencapai tahap investasi akhir akan membuka jalan bagi tambahan pasokan LNG baru di kawasan Asia Pasifik, sekaligus memperkuat persaingan dalam perebutan pasar LNG Asia yang terus tumbuh








Tinggalkan Balasan