Jakarta, Petrominer – Tahun 2022 menjadi tahun yang baik bagi perusahaan-perusahaan minyak besar; seperti ExxonMobil, Chevron, Shell, Total Energies, dan BP. Kelima perusahaan tersebut (Big 5) sukses meraup keuntungan yang signifikan dan menjadikan tahun lalu sebagai tahun yang paling menguntungkan.
Menurut TradingPlatforms.com, kelima perusahaan minyak besar tersebut memperoleh laba gabungan sebesar US$ 200 miliar pada tahun 2022.
“Meskipun terjadi krisis ekonomi global pada tahun 2022, perusahaan minyak berhasil melewatinya tanpa cedera, dan bahkan menghasilkan lebih banyak keuntungan. Perusahaan minyak besar berada di jalan untuk mendapatkan lebih banyak keuntungan karena energi terbarukan belum mendapatkan posisi yang aman di pasar global,” ungkap Analis Keuangan TradingPlatforms, Edith Muthoni, Selasa (16/5).
ExxonMobil memperoleh laba US$ 59,1 miliar, naik signifikan dari US$ 23,04 miliar tahun 2021. Namun, perusahaan minyak yang berbasis di Texas tersebut justru menghadapi kritik karena kenaikan laba tersebut, di mana Gedung Putih menyebutnya sebagai keterlaluan.
Shell memperoleh laba US$ 39,9 miliar, berada di urutan kedua setelah ExxonMobil. Chevron memperoleh laba US$ 36,5 miliar dari US$ 15,6 miliar pada tahun 2021.
Sementara Total Energies memperoleh US$ 36,2 miliar dari US$ 18,2 miliar, dan BP mendapatkan US$ 27,7 miliar dari US$ 12,8 miliar.
Munculnya pandemi Covid-19 menyebabkan penjualan perusahaan minyak anjlok. Namun, menyusul pencabutan pembatasan, permintaan minyak pun meningkat sehingga menyebabkan lonjakan harga minyak dunia. Akibatnya, perusahaan minyak memperoleh banyak pendapatan yang menyebabkan kenaikan laba yang signifikan.
“Invasi Rusia ke Ukraina juga menyebabkan menipisnya pasokan energi di seluruh dunia. Oleh karena itu dunia melihat harga minyak meroket dan perusahaan minyak raksasa menuai keuntungan,” tulis Edith.
Menurutnya, permintaan minyak di negara-negara berkembang juga meningkat secara signifikan. Dengan pertumbuhan populasi dan perkembangan ekonomi, negara berkembang mengimpor lebih banyak minyak. Tentunya, ini memberikan pendapatan yang signifikan bagi perusahaan minyak.
Meski meraup banyak keuntungan, perusahaan-perusahaan minyak juga menghadapi berbagai tantangan. Dengan adanya kenaikan laba, para pemimpin dunia memberlakukan pajak windfall profit kepada perusahaan-perusahaan minyak besar. Hal inilah yang mendorong ExxonMobil dalam mengajukan gugatan terhadap kebijakan tersebut yang diberlakukan oleh Uni Eropa. Pasalnya, besaran pajak tersebut bisa mencapai US$ 1,3 miliar.
Pembicaraan tentang perubahan iklim juga ikut mengancam industri minyak. Pasalnya, banyak negara berencana mengurangi penggunaan minyak untuk mendukung pengurangan efek pemanasan global.
Keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan-perusahaan minyak pada tahun 2022 memang sangat mengesankan, namun mereka juga harus memikirkan strategi untuk tetap kompetitif karena energi terbarukan telah menarik perhatian banyak negara. Meski begitu, perusahaan-perusahaan minyak besar masih bisa meraup banyak untung karena industri ini telah berkembang jauh sebelum sumber energi lain mengambil alih.








Tinggalkan Balasan