
Atambua, Petrominer — Cuaca ekstrim seperti hujan tidak membuat gentar PT PLN (Persero) untuk melistriki daerah perbatasan Indonesia-Timor Leste hingga ke pelosok-pelosok desa. Meski sempat mengalami pemadaman dan beberapa tiang roboh, para petugas lapangan yang menjadi garda depan tidak melihatnya sebagai batasan bagi mereka untuk terus bekerja.
Kondisi itulah yang menjadi tantangan bagi BUMN ini untuk mengalirkan listrik ke perbatasan RI-Timor Leste di Atambua, Nusa Tenggara Timur. Para petugas juga harus mampu menghadapi batasan lainnya, yakni jaringan menuju lokasi perbatasan (penyulang Atapupu) sepanjang 37 kilometer sirkit (kms) melalui daerah yang berkelok dan berbukit.
“Ini menjadi tantangan tersendiri bagi PLN khususnya untuk pemeliharaan jaringan dan perbaikan peralatan yang rusak di jaringan tersebut,” ungkap General Manager PLN Wilayah NTT, Richard Safkaur, Senin (17/4).
Pemadaman listrik ke perbatasan diakuinya pernah mengalami beberapa kali, namun tren penurunan gangguan penyulang sudah mulai membaik. Gangguan penyulang sebanyak 10 kali pada bulan Desember 2016, Januari 2017 sebanyak tujuh kali, Februari 2017 sebanyak enam kali dan sudah menurun menjadi lima kali pada bulan Maret 2017.
Selain cuaca ekstrim, gangguan yang ditemui PLN di awal tahun 2017 adalah adanya gangguan tiang roboh akibat proyek pelebaran jalan seperti di Lahuru yang telah tiga kali terjadi.
Meski begitu, jelas Safkaur, PLN terus berupaya untuk meminimalisir terjadinya gangguan dengan upaya-upaya pemeliharaan jaringan. Itu dilakukan dengan penggantian material yang sudah tua atau rusak dan pembersihan right of ways (ROW) jaringan dari pohon.
Menurutnya, aliran listrik ke wilayah perbatasan ini dipasok dari sistem Atambua yang diperkuat oleh dua Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), yakni PLTD Atambua dan PLTD Unamen. Kedua pembangkit ini mampu menghasilkan daya hingga 8.400 kilo Watt (kW). Sementara beban puncak di wilayah itu sebesar 7.365 kW, sehingga masih terdapat cadangan daya sebesar 1.035 kW.
Kapasitas ini sejalan dengan program PLN Wilayah NTT untuk terus berupaya melistriki sampai pelosok, seperti di perbatasan Atambua dan khususnya lima desa di Kabupaten Belu. Apalagi, kelima desa yang belum berlistrik ini sudah masuk dalam daftar Program Listrik Desa NTT Tahun 2017.
“Kami sudah menyinkronisasikan desa berlistrik dengan Pemda di Atambua, Februari 2017 lalu dan ditandai penandatangan komitmen bersama, harapannya proses pengerjaan proyek listrik cepat digarap dan didukung oleh masyarakat untuk wujudkan 100% NTT Desa Berlistrik,” tutup Safkaur.


























