Serpong, Petrominer — Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengklaim telah berhasil mengembangkan Sistem Pembangkit Listrik Hibrid Energi Baru Terbarukan (EBT) Smart Microgrid. Teknologi yang dikembangkan sejak tahun 2015 ini akan diaplikasikan untuk melistriki daerah-daerah terpencil.
Teknologi ini diharapkan bisa untuk pemenuhan kebutuhan listrik untuk skala lokal yang selama ini menjadi problematika pengembangan listrik di daerah terpencil. Ini juga bisa menjadi solusi bagi penyediaan listrik dengan memanfaatkan EBT setempat.
“Teknologi Smart Microgrid menawarkan sistem kelistrikan skala kecil dengan menggunakan potensi energi baru dan terbarukan di wilayah tertentu,” ujar Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Laksana Tri Handoko, dalam acara diskusi, Rabu (12/4).
Handoko menjelaskan, jangkauan layanan sistem pembangkit ini diutamakan hanya untuk masyarakat sekitar. LIPI telah merintis dan mengembangkan teknologi ini sejak 2015 lalu, Melalui Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronika.
“Kami menggabungkan beberapa pembangkit dari sumber energi terbarukan yaitu mikrohidro, biomassa, dan surya yang dikembangkan dari riset sebelumnya,” paparnya.
Sistem smart microgrid terdiri dari Intelligent inventer yang dapat mengkonversi sumber energi DC yang berasal dari surya, air, angin dan Biogas untuk pemakaian listrik AC. Kelebihan dari sistem ini adalah jika pasokan berlebih, maka akan disimpan di dalam baterai dan akan digunakan pada saat beban puncak (peak load). Teknologi ini telah diterapkan di Raja Ampat, Papua, dan Cipary, Jawa Barat.
Untuk ketersedian komponen pendukung, Pusat Penelitian Fisika LIPI juga telah mengembangkan riset penyimpanan energi. Apalagi, energi juga menghadapi masalah besar yaitu tentang penyimpanan energi. Karena itulah, LIPI telah mengembangkan teknologi pendukung untuk material maju seperti baterai Lithium, fuel cell, juga magnet permanen.









Tinggalkan Balasan