London, Petrominer – Terlepas dari Covid-19, konflik di Ukraina, dan peningkatan kesadaran atas ESG yang menyebabkan kekacauan luas pada sektor minyak dan gas (migas) secara global, Shell tidak hanya bertahan dari gangguan global tetapi juga mampu menumbuhkan nilai mereknya di tahun 2022 ini. Shell menjadi merek paling berharga di sektor migas dengan nilai US$ 49,4 miliar, naik 18 persen dibandingkan tahun 2021 lalu.
“Aramco mempertahankan posisi kedua secara global dengan pertumbuhan nilai merek 16 persen,” ujar Chairman & CEO Brand Finance, David Haigh, dalam pernyataan tertulis yang diterima PETROMINER, Rabu (11/5).
Brand Finance, dalam laporannya berjudul Oil & Gas 2022, menyebutkan bahwa setelah dua tahun yang sulit karena permintaan yang sangat berfluktuasi, sektor migas semakin maju dengan 50 merek migas paling berharga di dunia mencapai pertumbuhan agregat 8. Setiap tahun, konsultan penilaian merek terkemuka ini menguji 5.000 merek terbesar, dan menerbitkan sekitar 100 laporan, memberi peringkat merek di semua sektor dan negara. Ke-50 merek industri minyak dan gas paling berharga dan terkuat di dunia termasuk dalam peringkat tahunan Brand Finance Oil & Gas 50.
David menjelaskan, merek Shell semakin fokus pada pengembangan strategi transisi energi karena bertujuan untuk menjadi bisnis energi net-zero emissions (NET) tahun 2050, sejalan dengan kemajuan masyarakat menuju tujuan Perjanjian Paris tentang perubahan iklim. Meski transisi energi membawa risiko, namun Shell mampu menciptakan peluang baru bagi mereknya untuk berkembang. Secara bertahap, perusahaan tersebut terus memimpin transisi industri migas global secara berkelanjutan ke sistem energi nol bersih (net zero).
Transformasi energi merupakan tantangan terbesar sekaligus peluang terbesar yang dihadapi sektor migas. Industri dapat optimis dan realistis tentang risiko dan peluang yang ada di depan, tetapi akan sulit bagi merek untuk secara bersamaan menavigasi pemulihan dari Covid-19, konflik di Ukraina, dan kekhawatiran yang lebih luas tentang kelestarian lingkungan di masa depan. Shell, Aramco, dan lainnya, akan ditantang untuk bertransformasi di tahun-tahun mendatang guna memanfaatkan merek mereka untuk memberikan kepada pelanggan mereka.
Raksasa minyak Saudi Aramco menjadi merek migas paling berharga kedua di dunia dan telah secara substansial memulihkan nilai mereknya yang hilang selama pandemi. Merek Aramco naik 16 persen menjadi US$ 43,6 miliar.
“Aramco telah melayani permintaan yang meningkat secara signifikan untuk produk migas, terkait dengan program stimulus fiskal besar yang dimulai di seluruh dunia tahun lalu,” ujar David.
Menurutnya, peningkatan permintaan membuat laba kuartal ketiga Aramco lebih dari tiga kali lipat tahun-ke-tahun, membantu mendorong penilaian pasarnya menjadi US$ 2 triliun. Sebagai tanda kepercayaan dan ambisi untuk pertumbuhan yang berkelanjutan, Aramco mengumumkan rencana untuk meningkatkan kapasitas produksinya dari 12 juta barel per hari menjadi 13 juta pada tahun 2027. Perusahaan ini juga terus berinvestasi besar-besaran pada mereknya untuk mendukung pertumbuhan di bisnis inti dan pertumbuhan melalui kampanye global serta investasi dalam event-event olahraga, mulai dari Formula 1 hingga golf.
Sementara itu, posisi Pertamina turun dibandingkan tahun lalu, dari posisi 37 menjadi 40. Sedangkan Petronas (Malaysia) masih berada di 10 besar dan naik dibandingkan tahun lalu, dari posisi 8 ke 9 tahun 2022 ini. Tidak hanya nilainya naik 13 persen menjadi US$ 13,59 miliar, rating nya pun bertahan di AAA.
Petronas menjadi merek terkuat di peringkat dengan skor Indeks Kekuatan Merek (BSI) 87,7 dari 100 dan peringkat merek yang sesuai AAA. Perusahaan ini berada di posisi yang tepat untuk lebih memperkuat mereknya karena bertujuan untuk menyediakan berbagai pilihan energi dan bahan bakar secara berkelanjutan sejalan dengan target NZE tahun 2050.










Tinggalkan Balasan