Mesin turbin PLTA Bengkok, Bandung, Jawa Barat. (Petrominer/Pris)

Bandung, Petrominer – Bagi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Bengkok, usia bukanlah penghalang untuk tetap produktif. Meski sudah ada sejumlah pembangkit dengan kapasitas lebih besar, namun PLTA berkapasitas 3×1,5 megawatt (MW) masih menjadi bagian utama bagi pasokan listrik di kota Bandung dan sekitarnya.

Adalah PT Indonesia Power (IP) yang hinngga kini masih terus mengoperasikan PLTA Bengkok. Dengan memanfaatkan aliran air dari sungai Cikapundung, pembangkit ini sudah beroperasi sejak tahun 1923 lalu. Namun pemeliharan pembangkit peninggalan zaman kolobial Belanda ini bukanlah perkara mudah. Utamanya merawat mesin-mesin yang tua agar tetap beroperasi dengan prima.

Supervisor Senior PLTA Bengkok, Ahmad Zainuddin mengungkapkan, PLTA Bengkok merupakan warisan budaya sehingga pihaknya masih tetap mempertahankan mesin dari peninggalan Belanda itu. Meski begitu, jika ada mesin yang rusak tentu saja akan ada rekondisi.

“Kami punya program perawatan satu tahunan dan lima tahunan,” ungkap Ahmad, Jum’at (19/10).

Dia mengakui masalah utama bagi PLTA Bengkok adalah penggantian suku cadang. Masalahnya, di mana mencari suku cadang bagi mesin-mesin lama buatan Swiss? “Beruntung, kreativitas anak bangsa Indonesia mampu menyiasatinya. “Mesin-mesin semuanya masih yang lama. Kalau rusak ya kita lakukan rekondisi,” jelas Ahmad.

PLTA Bengkok berlokasi tersembunyi di tengah rapatnya kawasan Dago, Bandung. Dua gedung bergaya Belanda masih kokoh terpelihara, yakni gedung power house (lokasi turbin pembangkit) dan gedung kantor.

Di tebing belakang power house, terpasang pipa besi berdiameter 120 cm dari arah kolam tandon berkapasitas 30.000 meter kubik. Kolam ini untuk menampung air dari Sungai Cikapundung, yang dialiri melalui sebuah terowongan.

Selain unik, PLTA Bengkok juga memiliki nilai sejarah tinggi. Dibangun tahun 1923, PLTA ini adalah salah satu pembangkit awal yang memasok listrik ke Kota Bandung dan sekitarnya. PLTA ini adalah salah satu pembangkit yang tergabung dengan Lands Waterkracht Bedriven (LWB), perusahaan listrik yang didirikan Belanda.

Petugas sedang memeriksa salah satu turbin PLTA Bengkok, Bandung, Jawa Barat. (Petrominer/Pris)

Di 95 tahun usianya, mesin-mesin tua PLTA Bengkok masih setia dengan tugasnya. Pembangkit berkapasitas total 3×1.500 kW tersebut masih penting perannya memasok listrik ke sistem Jawa-Bali, khususnya ke daerah Bandung dan sekitarnya.

Tak hanya itu, dari sisi biaya, pembangkit tua ini juga masih mampu bersaing dengan pembangkit yang menggunakan solar sebagai sumber energinya, dengan biaya kira-kira hanya 1/5 saja.

Sampah dan Sedimentasi

Masalah lainnya, menurut Ahmad, adalah soal sampah di sungai Cikapundung. Pasalnya, tandon untuk menampung air bisa kotor karena hulunya terdapat banyak sampah. Semakin besarnya volume sampah dan sedimentasi, jadi ancaman untuk pembangkit tersebut. Sehingga pihaknya memang sudah bekerjasama dengan beberapa pihak untuk turut serta mengamankan Sungai Cikapundung dari sampah.

“Kendalanya itu sampah, terutama sampah pasar atau sampah rumah tangga. Kalau sampah masuk, bisa merusak turbin, makanya kita ada kolam saringan di atas (Bendung Bantarkawi). Masalahnya, sampah ini semakin hari semakin banyak,” ungkapnya.

Ahmad menjelaskan, sampah tersebut kian banyak dan menumpuk di aliran sungai. Akibatnya, tenaga dari air untuk memutar turbin jadi berkurang, harusnya bisa buat tenaga dua (turbin), karena mampet tenaganya hanya cukup buat satu.

Di dua kolam yang difungsikan sebagai penyaring, pihaknya bisa mengumpulkan sampah hingga dua truk. Sampah-sampah tersebut berasal dari hulu, termasuk kotoran sapi yang berasal dari Lembang. Sampah maupun kotoran ternak, ditambah dengan kerusakan hutan, membuat sedimentasi semakin tinggi.

“Makanya setiap 3 bulan sekali kita lakukan pengurasan kolam, setiap hari kita lakukan pembersihan sampah. Kerusakan hutan juga mempercepat sedimentasi dan menguragi debit air. Dulu saat hutan masih bagus di atas (Lembang), tangkapan airnya masih sangat bagus, setelah hujan aliran airnya bisa besar sampai 3 hari. Sekarang, setelah hujan, paling air gedenya hanya bertahan dua jam, sudah hilang,” jelasnya.

Diagram pemanfaatan air untuk PLTA Bengkok, Bandung, Jawa Barat. (Petrominer/Pris)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here