Faisal Basri. (Petrominer/Sony)

Jakarta, Petrominer – Pengamat ekonomi makro dari Universitas Indonesia, Faisal Basri, menyatakan, pengembangan kendaraan listrik di Indonesia sebaiknya segera direalisasikan. Ini sejalan dengan arah menuju green economy dan mengurangi dampak lebih besar dari perubahan iklim dan emisi gas buang. Apalagi, saat ini salah satu penyumbang gas buang terbesar adalah kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar fosil.

“Siapa yang mengkonsumsi bahan bakar fosil paling besar? Sepeda motor. Oleh karena itu, bila ingin mengembangkan kendaraan listrik, lebih feasible jika mengembangkan sepeda motor listrik. Selain teknologinya lebih sederhana, infrastruktur pendukungnya juga lebih mudah dibangun,” tegas Faisal, Selasa (19/2).

Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa infrastruktur untuk pengisian baterai sepeda motor listrik tidak harus menggunakan tenaga listrik tegangan tinggi seperti pada mobil listrik. Kendaraan lainnya bisa juga yang bentuknya berupa public transport seperti bus, mengingat sekarang ini jumlah kendaraan bus sudah semakin banyak di Indonesia.

Ada tiga hal pokok kenapa diawali dengan sepeda motor listrik, dibandingkan mobil listrik. Pertama, harga terjangkau, produksi bisa dilakukan secara bertahap dan teknologinya lebih sederhana.

“Bagi saya prioritas tertinggi sebenarnya adalah membangun industri sepeda motor listrik. Mengapa demikian, karena untuk sepeda motor listrik, argumennya adalah paling feasible dan paling mudah terjangkau harganya. Itu yang pertama,” ujar Faisal.

“Kedua, kita jangan membayangkan produksi sepeda motor listrik tetiba menjadi 10 juta unit. Produksi bisa dilakukan secara bertahap. Usul saya pengguna sepeda motor listrik diberi fasilitas untuk parkir khusus. Bahkan diupayakan di hotel dan mal, disediakan fasilitas parkir untuk sepeda motor listrik, dengan mengurangi jatah mobil. Hal tersebut akan menunjukkan adanya keberpihakan,” jelasnya.

Kebijakan seperti itu, menurut Faisal, telah dilakukan oleh Pemerintah Spanyol, yang memberi fasilitas khusus kepada pengendara sepeda motor. Karenanya diharapkan di Indonesia, retribusi parkir sudah diurus pemerintah daerah, ini menjadi harus perhatian khusus.

Begitu juga dengan pedagang kaki lima yang memakai sepeda motor listrik. Sebaiknya diberi tempat fasilitas khusus kaki lima, bukan lokasi angkutan barang.

Ketiga, apabila dipandang dari segi teknologi, pembuatan sepeda motor listrik lebih sederhana, dibanding teknologi untuk mobil listrik. Sebab jika industri produsen motor dari Jepang tidak mengembangkan industri sepeda motor listrik di Indonesia, maka saat ini menjadi momentum kita mengembangkan industri sepeda motor listrik sendiri.

“Nantinya apabila kita punya produksi sepeda motor listrik sendiri, dan menggunakan merek sendiri, akan mengurangi ketergantungan kepada produksi sepeda motor Jepang,” papar Advisory Board pada Indonesia Research and Strategic Analysis (IRSA) ini.

Salah satu Stasiun Penyedia Listrik Umum (SPLU) di Jakarta yang sudah bisa dimanfaatkan untuk mengisi ulang baterei sepeda motor listrik. (Petrominer/Sony)

Bicara sepeda motor listrik dan mobil listrik, maka teknologi kuncinya ada pada baterei. Karena itulah, bagaimana caranya supaya baterainya, jangan seperti keluhan mereka yang sedang mencoba kendaraan listrik, baru setahun sudah drop kapasitasnya. Untuk itu, industri nasional juga harus mampu menguasai teknologi baterei.

Di dunia ini hanya ada satu tempat untuk recycling baterei, yaitu Belgia. Karena teknologinya khusus, maka harus disiapkan dari sekarang. Untuk itu kita membutuhkan fasilitas recycling, sehingga nanti pengembangannya di dalam negeri, selain untuk orang Indonesia, juga ditujukan bagi negara-negara sekitar, agar juga melakukan recycling baterei ke Indonesia.

Pada akhirnya, jelas Faisal, saat industri motor listrik berkembang, industri baterei juga ikut berkembang, termasuk industri komponen (spare part) dan industri pengolah limbah.

“Supaya teknologinya bisa cepat dikuasai, bekerjasamalah dengan produsen baterei seperti misalnya Panasonic,” tegasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here