
Jakarta, Petrominer – Serat rami dari Wonosobo, Jawa Tengah, diperkenalkan sebagai bahan fesyen berkelanjutan dalam ajang World Fashion Exhibition (WFE) Times Square 2026 di New York City, Amerika Serikat, pada 9 Oktober 2026. Indonesia membawa dua karya berbahan rami, yakni bendera Merah Putih dan Planet Earth Flag, yang memadukan identitas nasional, kreativitas, dan pesan pelestarian lingkungan.
WFE 2026 mengusung tema “A Global Celebration of Sustainable Fashion and Cultural Unity” dengan menghadirkan desainer dari berbagai negara. Keikutsertaan Indonesia menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi serat alam lokal dalam pengembangan industri tekstil dan fesyen berkelanjutan.
Pengembangan rami di Wonosobo dilakukan sejak tahun 1999 oleh CV Ramindo Berkah Persada Sejahtera (RABERSA), yang didirikan Wibowo Akhmad bersama puluhan petani dan ribuan mitranya. Rami (Boehmeria nivea) dikembangkan sebagai bahan baku tekstil, termasuk untuk kebutuhan dekorasi rumah dan fesyen.
Ketua Dewan Serat Indonesia (DSI), Euis Saedah, mengatakan bendera Merah Putih berbahan rami menunjukkan potensi sumber daya alam Indonesia untuk diolah menjadi produk tekstil bernilai tambah.
“Bendera Merah Putih dari serat rami membawa cerita yang jauh lebih besar dari selembar kain. Di dalamnya ada petani, pengolahan serat, industri pemintalan dan pertenunan, kreativitas perajin, hingga semangat untuk membawa serat alam Indonesia semakin dikenal dunia,” ujar Euis dalam keterangan resmi yang diterima PETROMINER, Senin (12/10).
Menurutnya, pengembangan serat alam perlu diarahkan hingga menghasilkan produk tekstil dan fesyen yang berdaya saing, bukan hanya berhenti pada produksi bahan baku.
Selain Merah Putih, rami Wonosobo juga digunakan untuk membuat Planet Earth Flag, karya yang mengangkat hubungan antara industri fesyen, manusia, dan lingkungan. Bahan kain rami-katun disiapkan Wibowo Akhmad dari RABERSA dengan melibatkan pelaku kreatif di Wonosobo.
Karya tersebut memadukan sejumlah teknik pengerjaan. Desi Kristiana dari Batik Dieng Kalingga mengerjakan warna hitam dan gambar asteroid menggunakan teknik batik tulis, sedangkan visual bumi dibuat dengan teknik direct-to-film (DTF) oleh pelaku digital printing setempat.
Euis menilai, kedua karya tersebut memperlihatkan potensi serat alam Indonesia untuk menghubungkan sektor pertanian, pengolahan serat, industri tekstil, kerajinan, desain, hingga fesyen.
“Merah Putih dari rami dan Planet Earth Flag menunjukkan bahwa serat alam Indonesia dapat berbicara dalam banyak bahasa sekaligus, mulai dari identitas dan kebanggaan bangsa, kreativitas dan industri, hingga kepedulian terhadap lingkungan,” katanya.
Tantangan berikutnya adalah menghubungkan kekayaan serat alam, tradisi tekstil, kreativitas, dan sumber daya manusia ke dalam ekosistem industri yang kuat agar produk Indonesia semakin kompetitif di pasar global.








Tinggalkan Balasan