Politikus & Ketua Serikat Pekerja BUMN

Posted by

Jakarta, Petrominer — Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu, FX Arief Poyuono, belakangan ini jadi sorotan. Pasalnya, komentar-komentar tajamnya banyak mengkritisi Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno, Pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla dan BUMN-BUMN itu sendiri.

Sebenarnya, siapakah sosok Arief Poyuono ini?

Mengutip situs resmi DPP Partai Gerindra, Arief lahir di Jakarta, 4 Februari 1971. Dia aktif sebagai Wakil Ketua Umum Bidang Buruh dan Ketenagakerjaan di Partai Gerindra yang didirikan oleh Prabowo Subianto.

Selama ini, Arief kerap bersuara lantang mengatasnamakan buruh. Meski begitu, dia juga tidak juga jarang berteriak dan mengkritisi BUMN.

Mantan karyawan PT Merpati Indonesia ini memang cukup unik. Pasalnya, dia masih menjabat sebagai Ketua Umum Forum Serikat Pekerja BUMN walaupun sudah bukan karyawan BUMN lagi. Pertanyaan selanjutnya adalah karyawan BUMN mana yang menjadi anggotanya bila status ketuanya saja ilegal alias bukan karyawan BUMN.

Arief Poyuono bisa dipastikan bukan pegawai atau karyawan BUMN karena ada aturan yang melarang petugas partai politik duduk dalam serikat pekerja BUMN maupun sebagai karyawan BUMN. Peraturan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor PER-04/MBU/2012 tentang Kode Etika Aparatur Kementerian Badan Usaha Milik Negara tertanggal 9 April 2012.

Alhasil kredibilitas Politikus Gerindra yang selalu mengatasnamakan Ketua Umum Forum Serikat Pekerja BUMN Bersatu ini dipertanyakan sebagian pegawai BUMN.

“Saya juga bingung. Kami tidak boleh ikut partai, masak kami diwakilkan sama orang partai. Lucu sekali kan?” kata seorang pegawai sebuah bank plat merah bernama Rini di bilangan Sudirman.

Senada dengan Rini, salah seorang pegawai di BUMN lainnya, Donny, menyatakan risih dengan gaya Arief. Pasalnya, dia selalu mengatasnamakan para pegawai BUMN.

“Atas nama pegawai BUMN atau atas nama Parpol? Orang itu lucu, padahal kita tidak tahu dia dari pegawai BUMN mana,” kata Donny.

Caleg Gagal

Arief diketahui pernah mencalonkan diri untuk menjadi anggota DPR RI tahun 2014 lalu. Namun Caleg DPR Partai Gerindra dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kalimantan Barat gagal menjadi anggota DPR. Setelah itu, dia memang rajin mengirimkan siaran pers kepada wartawan dengan tema beragam.

Terakhir, Arief yang juga lulusan FE Universitas Jayabaya ini bahkan mengkritik Presiden Jokowi yang harusnya memimpin negara dengan filosofi tukang meubel dengan desain beragam, bukan seperti pengemis.

“Bukan seperti sekarang terlihat sebagai pengemis untuk tarik investor dan tidak punya rasa percaya diri, jadi Mas Joko Widodo gunakan saja pola berpikir sebagai tukang meubel dalam memerintah negara,” kata Arief.

Bahkan di tengah hiruk pikuk Pilkada DKI ini, Arief sempat mengatakan pendukung Ahok dan parpolnya sebagai orang bodoh.

“Ahok sudah pasti kalah, percaya saya. Tiga partai pendukung itu bodoh, apalagi Golkar yang sudah jelek di mata masyarakat,” kata dia di media.

Pengamat politik Sukardi Rinakit menilai masyarakat Indonesia tidak menyukai sesuatu yang berlebihan. Termasuk sikap mengkritik yang berlebihan terhadap lawan politik seperti yang dilakukan kader Prabowo ini terhadap Jokowi.

“Budaya politik kita kurang toleran hal yang ekstrem. Kelemahan Prabowo dan kadernya terlalu mengkritisi Jokowi, dari capres boneka dan puisi sindiran,” kata Sukardi.

Sudah seharusnya, etika politik dan gaya komunikasi para politisi harus sesuai dengan budaya masyarakat Indonesia. Jangan sampai mencederai partai sendiri.

“Penguasaan kontrol partai, kewibawaan, jaringan, dan sikap dalam negosiasi. Keempatnya menentukan arah kekuasaan,” kata Sukardi.

Jadi sudah seharusnya Prabowo ‘menyekolahkan’ kadernya dengan lebih baik sehingga Gerindra bisa kembali bersinar di kemudian hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *