
Jakarta, Petrominer — PT Pembangkitan Jawa-Bali Unit Pembangkitan (PJB UP) Muara Karang berhasil meningkatkan kinerja gas turbin hingga melebihi kondisi komisioning. Itu terjadi setelah dilakukan upgrade gas turbine dengan menggunakan teknologi baru, yaitu gas turbine seri 9E3-series.
Setelah upgrade, terjadi kenaikan Daya Mampu Netto (DMN) 16,3 MW pada siang hari (dari 90,53 MW menjadi 106,83 MW), dan meningkat 19,5 MW pada malam hari (dari 90,53 MW menjadi 110 MW). Selain itu juga berhasil menekan NPHR sebesar 296 kCal/kWh dibandingkan sebelum upgrade.
Keberhasilan upgrade gas turbine PLTGU Blok I Muara Karang ini memberikan kontribusi terhadap anak usaha PT PLN (Persero) ini berupa peningkatan pendapatan dari kesiapan pembangkit setara Rp 13,9 miliar per-tahun. “Tidak hanya itu, kami juga memperoleh kenaikan efisiensi pemakaian bahan bakar setara Rp 129,7 per-kWh,” ungkap General Manager PT PJB UP Muara Karang, Rahmat Azwin, di acara Inaugurasi Upgrade GT 1.3 Blok I PLTGU Muara Karang di UP Muara Karang, Senin (21/11).
Sementara itu, Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Barat dan Lampung PLN Murtaqi Syamsuddin menyambut baik inisiatif PJB dalam upgrade gas turbine PLTGU Blok I Muara Karang. Murtaqgi menyatakan, inisiatif perbaikan kinerja yang memberikan added value seperti ini harus selalu dicari dan diupayakan.
“Jangan ragu untuk mengambil inisiatif perbaikan yang bersifat operasional yang punya dampak secara korporasi,” tegasnya.
PLTGU Blok 1 Muara Karang mulai beroperasi tahun 1992 dengan turbin gas GE MS9001 tipe PG9161E. Untuk perencanaan major inspection GT13 tahun 2016, perlu dilakukan pembelian Hot Gas Path Parts (HGPP) baru karena life time hotparts yang ada sudah habis. Berdasarkan kajian teknis dan ekonomis, melakukan implementasi teknologi baru / upgrade menggunakan gas turbine seri 9E3 series (Advanced Extendor Combustor dan Advanced Gas Path), lebih menguntungkan dibandingkan membeli HGPP tipe standard (PG9161E).
Beberapa value yang diperoleh dari upgrade gas turbine dengan teknologi baru ini antara lain:
• Meningkatkan Power Output (MW).
• Meningkatkan efisiensi pemakaian bahan bakar.
• Meningkatkan kesiapan operasi / availability dengan memperpanjang durasi antar inspection dari 8.000 EOH menjadi 32.000 EOH.
• Memperpanjang lifecycle (combustion system lifecycle dari 48.000 jam operasi menjadi 64.000 jam operasi dan Hot Gas Path Parts lifecycle dari 72.000 jam operasi menjadi 96.000 jam operasi).
Dalam jangka waktu 12 tahun, upgrade gas turbine ini dapat mengurangi durasi pemeliharaan dari 198 hari menjadi hanya 80 hari, dengan rincian durasi untuk combustion inspection 10 hari, hot gas path inspection 21 hari, dan major inspection 38 hari. “Ini artinya, terjadi optimasi biaya operasi dan pemeliharaan yang berujung pada kontribusi peningkatan laba perusahaan yang cukup besar,” tutur Rahmat Azwin.























