Jakarta, Petrominer — Upaya PT PLN (Persero) mengejar target pembangungan pembangkit listrik 35.000 megawatt (MW) mendapat suntikan baru. Melalui salah satu anak perusahaannya, BUMN ini akan segera membangun pembangkit listrik berkapasitas 780 MW.

Bertempat di The Dharmawangsa Hotel, kontrak pembangunan Pembangkit Listrik Tambak Lorok Combined Cycle Power Plant (CCPP) Blok 3 ditandatangani, Jum’at (14/7). Pembangkit listrik ini akan dibangun oleh anak perusahaan PLN, PT Indonesia Power, bekerja sama dengan GE Consortium, yang terdiri dari GE Power, Marubeni Corp. dan PT Hutama Karya (Persero).

Disaksikan Direktur Utama PLN, Sofyan Basir, kontrak pembangunan tersebut ditandatangani oleh Direktur Utama Indonesia Power Sripeni Inten Cahyani, Senior Operating Officer Marubeni Corporation Takashi Fujinaga, Direktur Operasi Hutama Karya, Suroto, Regional General Manager GE Gas Power Systems GE Power, Venkat Kannan.

Sripeni Inten menjelaskan, proyek pembangunan yang ditandantangani mencakup pekerjaan konstruksi pembangkit listrik Tambak Lorok Blok 3 yang akan berlokasi di lahan eksisting area Unit Pembangkitan (UP) IP Semarang, Jawa Tengah. Dengan begitu, dipastikan tidak ada kendala dalam proses perizinan dan pembebasan lahan. Nilai proyek ini mencapai Rp 4,8 triliun, dengan nilai saving Rp 581 milyar.

“Proyek akan dilaksanakan dalam kurun waktu 28 bulan dan diperkirakan Commercial Operation Date (COD) pada April 2020 mendatang,” ujarnya.

Ini merupakan bagian dari implementasi program 35.000. Nantinya, pembangkit listrik dengan asumsi produksi mencapai 3,7 giga watt hour (GwH) ini akan berperan sebagai load follower, dengan mesin gas turbine berkapasitas 780 MW.

Combined Cycle Power Plant (CCPP) merupakan pembangkit perpaduan dari pembangkit gas turbine dan steam turbine, sistem dari pembangkit ini bisa dikatakan paling kompleks karena mengkombinasikan antara dua proses. Di Indonesia, pembangkit seperti ini biasa disebut sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU).

“Pembangkit listrik yang akan mulai beroperasi pada pertengahan 2020 ini diharapkan dapat menambah sekitar 780 MW listrik ke jaringan Indonesia. Pasokan ini setara dengan memasok hingga lima juta rumah tangga di Indonesia,” ujar Sripeni Inten.

Selain itu, jelasnya, PLTGU Tambak Lorok juga akan menjadi proyek tenaga terbesar yang dikembangkan dalam sejarah IP dan salah satu yang pertama di kawasan ini menggunakan teknologi turbin HA gas GE yang terbaru.

“Penandatanganan ini sekaligus menjadi komitmen IP dalam mendukung program PLN dalam mengejar target 35.000 MW,” paparnya.

Paling Efisien

Konsorsium GE, Marubeni, dan Hutama Karya bertindak sebagai kontraktor engineering procurement & construction (EPC) dalam proyek ini. Konsorsium ini akan membawa turbin gas paling efisien di dunia untuk menghasilkan listrik yang dapat diandalkan dan terjangkau untuk jaringan di Jawa.

CEO GE Power Indonesia, Handry Satriago, menyatakan turbin pembangkit listrik yang akan digunakan tersebut bersifat fleksibel dan efisien dibandingkan sebelumnya. Proyek turnkey ini mengubah cara pengiriman listrik ke seluruh dunia.

Handry mengaku sangat senang dapat bekerja sama dengan Marubeni dan Hutama Karya, untuk membantu membawa kekuatan yang lebih fleksibel, sederhana dan efisien ke Indonesia selama bertahun-tahun mendatang.

Divisi Bisnis Tenaga Operasi Senior Marubeni Corporation, Takashi Fujinaga, mengatakan Marubeni adalah mitra yang berkomitmen untuk berkontribusi pada pengembangan energi listrik di Indonesia, baik sebagai kontraktor EPC maupun pengembang independent power plant (IPP).

“Kami sangat antusias bermitra dengan GE dan Hutama Karya untuk menghadirkan teknologi turbin gas yang paling efisien di dunia ke Indonesia,” paparnya.

Hal senada juga disampaikan Direktur Operasi Hutama Karya Suroto. Dia menegaskan bahwa penandatanganan ini merupakan tonggak penting bagi Hutama Karya dalam komitmen untuk mendukung pembangunan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here