Jakarta, Petrominer — Pemerintah melalui PT PLN (Persero) terus berupaya meningkatkan pelayanan listrik bagi masyarakat, diantaranya dengan mempercepat penyelesaian proyek pembangunan pembangkit listrik beserta jaringan transmisi dan distribusinya. Namun kerap upaya ini tekendala pembebasan lahan, yang mengakibatkan proyek pembangunannya menjadi molor dari jadwal.
Seperti yang terjadi di Aceh dan Sumatera Barat. Padahal, kebutuhan listrik di kedua wilayah itu sudah cukup tinggi. Sehingga kehandalan pasokan listrik memegang peran penting dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dan juga perkembangan ekonomi setempat.
Akibatnya, keinginan masyarakat Aceh memilki pasokan listrik yang handal bisa saja tertunda. Pasalnya, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Peusangan beserta jaringan tranmisinya masih terkendala masalah pembebasan lahan.
Padahal, PLTA ini diharapkan dapat mendukung sektor pariwisata dan perekonomian setempat, juga akan menjadi kebanggaan masyarakat Aceh, khusunya Kabupaten Aceh Tengah dan sekitarnya karena merupakan PLTA yang terbesar kapasitasnya di wilayah Aceh.
Berdasarkan data PLN, Beban puncak sistem Aceh sekarang berkisar 320 MW s/d 340 MW, Kehadiran PLTA Peusangan di Aceh sangat penting untuk menambah pasokan listrik. Saat ini, sistem kelistrikan Aceh bertumpu pada beberapa unit pembangkit utama dari sistem Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), dan dua pembangkit besar yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Nagan Raya 160 MW dan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Arun 184 MW.
Ketika salah satu pembangkit ini mengalami gangguan, maka dapat berpengaruh terhadap kestabilan sistem dan mengganggu sistem kelistrikan secara keseluruhan. Selain itu apabila terdapat gangguan transmisi pada sistem Sumbagut, maka sistem kelistrikan Aceh akan mengalami gangguan secara keseluruhan.
Untuk itu, kehadiran PLTA Peusangan dan transmisi sangat penting untuk menambah pasokan energi yang lebih besar. Selain itu, dengan beroperasinya PLTA Peusangan, PLTD Ayangan 20 MW yang selama ini beroperasi melayani pelanggan Takengon dan sekitarnya dapat di matikan sehingga Biaya Pokok Penyediaan (BPP) semakin baik.
Meski begitu, PLN terus berupaya menyelesaikan proyek pembangunan PLTA Peusangan dengan kapasitas 88 Mega Watt (MW) itu. PLTA ini akan menjadi pembangkit listrik terbesar di Aceh yang memanfaatkan energi baru terbarukan (EBT).
Menurut Manager Senior Public Relations PLN, Agung Murdifi, saat ini pembangunan PLTA itu baru mencapai 56,7 persen. Padahal pembangkit listrik ini ditargetkan akan perkuat sistem Aceh pada tahun 2019 mendatang.
Selain pembangunan PLTA Peusangan, PLN juga tengah membangun transmisi yang menjadi penghubung antara Bireuen dengan Takengon dan membangun jaringan distribusi di Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Bireun. Kabar baiknya, pembangunan jaringan distribusi telah selesai 100%.
Pembangunan transmisi Bireun-Takengon merupakan bagian yang sangat penting dalam proses penyaluran energi yang nantinya akan dibangkitkan oleh PLTA Peusangan.
Proses percepatan pembangunan Pembangkit dan Transmisi ini mengalami kendala dalam pembebasan lahan. Hingga bulan Maret 2016, dari total 246 Ha lahan yang diperlukan, 209 Ha diantaranya telah dibebaskan. Sedangkan untuk SUTT 150 kV Bireun Takengon, dari 203 tower transmisi yang ditargetkan, sampai dengan April 2016, PLN baru berhasil membebaskan lahan untuk 119 tower transmisi, sementara 84 masih dalam proses pembebasan lahan.
“Beberapa permasalahan yang harus dihadapi dalam pembebasan lahan PLTA dan Transmisi ini yakni sengketa kepemilikan tanah yang tak kunjung selesai dan penetapan harga tanah oleh apraisal baru selesai pada bulan Juni 2015,” tegas Agung Murdifi.
Pembebasan lahan ini menjadi satu titik yang menghambat pembangunan pembangkit dan transmisi secara keseluruhan, untuk itu PLN berharap peran serta seluruh stake holder terkait untuk segera mengatasi permasalahan pembebasan lahan ini. BUMN ini juga optimis dengan bantuan Peraturan Presiden no 4 tahun 2016 terkait percepatan infrastuktur kelistrikan, masalah ini akan segera teratasi.
Selain masalah pembebasan lahan, dalam proses pembangunan PLTA Peusangan dan transmisi Bieruen – Takengon, PLN juga menghadapi beberapa kendala, diantaranya adalah kondisi geologi terowongan yang kurang baik, sehingga proses penggalian memerlukan waktu yang lama dan diperlukan adanya perubahan metode kerja. Lokasi Underground Powerhouse yang berada di daerah patahan bumi Semangko pun mengakibatkan perlu diadakannya penelitian ulang termasuk perubahan desain peta rancangan.
“Personil kami di lapangan saat ini bekerja ekstra keras untuk segera menyelesaikan hambatan yang terjadi, karena kami ingin menyelesaikan seluruh proses pembangunan sesuai target,” ujar Agung Murdifi.
Terhambat 8 Tahun
Masalah di Sumatera Barat lebih parah. Upaya PLN melanjutkan proses pembangunan 433 tower transmisi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kiloVolt (kV) dan melakukan penarikan kawat transmisi dari Bangko ke Merangin hingga Sungai Penuh masih menghadapi hambatan dari sebagian masyarakat di daerah Bangko, Merangin maupun Sungai Penuh.
Padahal, menurut General Manager PLN Wilayah Sumatera Barat, Supriyadi, apabila tidak ada hambatan sosial lagi dari sebagian masyarakat, seharusnya pembangunan transmisi dan gardu induk (GI) Sungai Penuh 2×30 MVA tersebut dapat diselesaikan tahun ini.
Sebenarnya sudah kurang lebih 8 tahun lalu, PLN telah berusaha agar kondisi pemadaman bergilir di Sungai Penuh ini tidak terjadi, yaitu dengan membangun jalur transmisi dari arah Bangko-Merangin serta membangun GI Sungai Penuh untuk menggantikan PLTD Kotololo yang terbatas kapasitasnya. Namun bertahun-tahun itu pula sebagian masyarakat di daerah Bangko, Merangin maupun Sungai Penuh ada yang masih menolak dan keberatan lahannya dilalui jaringan transmisi. Selain itu, berbagai permasalahan sosial lainnya juga ikut menghambat pembangunan tersebut.
“Pada akhirnya masyarakat juga yang menderita dengan pemadaman selama ini,” ungkap, Supriyadi.
Dia menjelaskan, lancarnya pembangunan transmisi dan GI Sungai Penuh diharapkan bisa mengakhiri pemadaman. Pasalnya, penyebab pemadaman bergilir yang terjadi di Sungai Penuh terkait kondisi kelistrikan di Sungai Penuh dan beberapa daerah di sekitarnya, sehingga terjadi kekurangan pasokan listrik ke pelanggan oleh karena itu pembangunan transmisi Bangko – Sungai Penuh harus segera diselesaikan.








Tinggalkan Balasan