Jakarta, Petrominer — PT PLN (Persero) menyatakan kesiapannya untuk memasok kebutuhan energi listrik ke lokasi tambang emas yang dioperasikan PT Masmindo Dwi Area di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. BUMN ini telah menandatangani kesepakatan dengan perusahaan tambang emas itu untuk memasok listrik dengan kualitas premium sebesar 30 MVA (Mega Volt Ampere) mulai tahun 2019 mendatang.
Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBTL) dengan Masmindo Dwi Area ditandatangani di PLN Kantor Pusat, Selasa (15/8). Kesepakatan itu ditandatangani oleh General Manajer PLN Wilayah Sulawesu Bagian Selatan, Barat dan Tenggara (Sulselrabar), Bob Saril, dan Direktur Utama Masmindo Dwi Area, Boyke Poerbaya Abidin, dengan disaksikan oleh Direktur Bisnis PLN Regional Sulawesi, Syamsul Huda.
Dengan ditandatanganinya kesepakatan ini, maka daftar pelanggan Premium Platinum PLN di Sulselrabar bertambah. Bisa dikatakan, surplus daya listrik di Sistem Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) telah membawa angin segar bagi iklim investasi di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara.
Pelanggan Premium Patinum adalah pelanggan yang menjadi prioritas utama dimana ditunjang oleh dua penyulang. PLN melayani ketersediaan listrik pelanggan premium dalam kurun waktu 24 jam setiap hari. Selain itu, pelanggan premium juga mendapat layanan khusus dimana tidak boleh trip atau padam.
“Penandatanganan ini merupakan bukti bahwa kesiapan pasokan listrik yang baik dapat mendorong investasi dan kemajuan di daerah setempat,” ujar Boyke.
Dia menjelaskan, kesepakatan dengan PLN ini merupakan tahap awal Masmindo untuk mulai memasuki masa konstruksi tambang emas Awak Mas di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Pasalnya, pasokan listrik yang handal merupakan salah satu pendukung utama kelancaran kegiatan tahap konstruksi dan kemudian tahap operasi produksi.
“Proyek ini sangat-sangat maju dengan adanya ketersediaan listrik. Hal inilah yang sangat kami dambakan, yakni suplai tenaga yang handal. Kami harap proyek ini dapat menjadi kontribusi bagi pembangunan di wilayah Sulawesi Selatan,” ungkap Boyke.
Terkait kesiapan pasokan listrik di Sulawesi, Syamsul Huda menyatakan bahwa hampir semua sistem kelistrikan surplus, tidak ada lagi yang defisit. Ini berarti pasokan listrik ke depan juga akan surplus. Dengan begitu, Sulawesi siap menerima permohon pasang baru.
Saat ini, Sistem Sulbagsel sendiri memiliki Daya Mampu rata-rata sebesar 1.240 MW dengan Beban Puncak sebesar 1.050 MW. Dengan begitu, Cadangan Daya dimiliki sebesar 190 MW. Sementara itu, Sistem Sulawesi Utara dan Gorontalo (Sulutgo) memiliki Daya Mampu rata-rata sebesar 440 MW dengan Beban Puncak sebesar 340, sehingga ada Cadangan Daya sebesar 100 MW.
“Kami tegaskan kembali bahwa ke depan Indonesia tidak akan lagi ada kendala di tegangan listrik. Hal ini terkait dengan Program 35.000 MW yang dicanangkan oleh Pemerintah dalam 5 tahun. Memang berat, namun kami terus bersinergi dengan berbagai pihak,” ujar Syamsul Huda.








Tinggalkan Balasan