Bandung, Petrominer – Indonesia memiliki banyak potensi pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT), mulai dari panasbumi, tenaga air, bioenergi, surya dan angin. Melimpahnya sumber energi bersih ini menjadi modal PT PLN (Persero) dalam memenuhi target Indonesia net zero emission 2060.
Laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyebutkan, faktor perubahan iklim diproyeksikan akan berdampak pada peningkatan potensi bencana. Seperti cuaca ekstrem, banjir, kekeringan parah, kenaikan temperatur, kenaikan permukaan air laut, serta potensi kesulitan tumbuhnya tanaman pangan.
Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN Agung Murdifi menyampaikan, berkaca pada laporan tersebut, dengan kebijakan business as usual (BaU) sekarang ini, kenaikan suhu akan mencapai 3,1 derajat Celcius pada tahun 2030. Sedangkan jika semua pihak konsisten untuk menurunkan emisi gas rumah kaca, maka kenaika suhu tersebut dapat teredam pada level 1,5 derajat Celcius atau bahkan lebih rendah.
“Mau atau tidak, kita harus melakukan akselerasi dalam transisi dari PLTU batubara ke energi yang ramah lingkungan seperti surya, angin, air, panasbumi, dan jenis energi baru terbarukan yang lain,” ungkap Agung, Sabtu (13/11).
Dia menjelaskan, PLN telah memiliki strategi transisi energi dalam tiga tahap. Pertama, pengembangan pembangkit PLN harus selalu mempertimbangkan keselarasan supply and demand, potensi ketersediaan sumber energi setempat, keekonomian, keandalan, serta ketahanan energi nasional dan sustainability.
“Kita harus tetap menjaga keselarasan supply and demand. Jangan sampai kita kelebihan supply yang nanti secara bisnis akan merugikan atau tidak baik,” kata Agung.
Strategi kedua yakni akselerasi pengembangan EBT pada daerah defisit, serta daerah yang menggunakan bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang sumber energinya menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM).
“Ini merupakan langkah strategis, baik dari sisi bisnis PLN maupun mengurangi belanja di sektor BBM,” jelasnya.
Berikutnya yang menjadi strategi ketiga, yakni pada sistem kelistrikan dengan cadangan daya besar yang perlu mempertimbangkan harmonisasi supply and demand. Peran serta dan dukungan pemerintah dan stakeholder lainnya sangat penting dalam menumbuhkan iklim investasi yang baik, khususnya di bidang industri dalam rangka peningkatan demand dan pertumbuhan ekonomi.
Di PLN sendiri, menurut Agung, kapasitas terpasang pembangkit pada tahun 2020 mencapai 63,3 Giga Watt (GW). Sesuai dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021 – 2030, akan ada penambahan pembangkit baru sebesar 40,6 GW selama 10 tahun dengan porsi EBT mencapai 20,9 GW atau 51,6 persen.
“Secara bertahap direncanakan pembangkit PLTU dilakukan retirement dan penggantian PLTD/PLTMG/PLTG tua tersebar sehingga kapasitas pembangkit PLN pada 2030 menjadi 99,2 GW dengan porsi EBT bertambah,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Indonesia Power, M. Ahsin Sidqi, menyampaikan bahwa di Indonesia banyak energi yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber penggerak pembangkit listrik. Karena itulah, Indonesia Power menyambut baik RUPTL 2021–2030 yang mendukung peningkatan pembangkit EBT secara masif.
Tak hanya membangun pembangkit saja, sesuai arahan dari PLN sebagai induk usaha, Indonesia Power juga banyak berinovasi dalam pemanfaatan EBT di pembangkit lama. Salah satunya dengan mengadopsi program cofiring dengan memanfaatkan gulma eceng gondok yang selama ini tidak dimanfaatkan. Ini dilakukan untuk mencegah terjadinya pendangkalan pada waduk dan juga mendukung pelaksanaan cofiring pada PLTU.
“Program Biomass Operating System of Saguling (BOSS) tersebut merupakan program unggulan PT Indonesia Power dalam mewujudkan program Saguling Clean, yakni waduk Saguling yang bersih dari sampah dan gulma eceng gondok,” ujar Ahsin.








Tinggalkan Balasan