
Jakarta, Petrominer – PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) menyatakan bahwa tiga wilayah kerja yang dikelola anak-anak usahanya berhasil mencapai target lifting minyak dan gas bumi (migas) tahun 2018. Kinerja ini mendorong kenaikan produksi migas PHI tahun 2018 dibandingkan tahun sebelumnya.
Hingga akhir tahun 2018, produksi total minyak dan kondensat PHI mencapai 49 ribu barrel oil per day (MBOPD). Angka ini naik 7 persen dari target yang telah ditetapkan sebesar 45,9 MBOPD. Sementara, produksi total gas tahun lalu sebesar 929 million standard cubic feet per day (MMSCFD). Produksi ini sangat penting dalam menunjang pemenuhan energi dan pendapatan negara.
“Terkait kinerja produksi dan lifting migas, PHI senantiasa melakukan upaya-upaya untuk menahan laju penurunan produksi migas dari lapangan-lapangan yang sudah tua,” ujar Direktur Utama PHI, Bambang Manumayoso, dalam acara workshop Direktorat Hulu Pertamina, Kamis (17/1).
Menurut Bambang, tiga blok migas di bawah PHI berhasil memenuhi target lifting yang ditetapkan. Ketiga anak usaha itu adalah Pertamina Hulu Mahakam (PHM) yang mengelola Blok Mahakam, Pertamina Hulu Sanga-Sanga (PHSS) yang mengelola Blok Sanga-Sanga, dan Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) yang mengelola Blok East Kalimantan. Bahkan PHSS dan PHKT dapat meningkatkan jumlah lifting hingga melebihi target.
Melalui PHKT sebagai satu-satunya blok migas yang menyuplai gas langsung ke Refinery Unit (RU) V Balikpapan, PHI berhasil menyuplai lebih dari 36 MMSCFD sejak minggu ketiga Desember 2018. Tentunya, ini berdampak pada berkurangnya kebutuhan impor.
Selain itu, PHI melalui PHM, PHSS dan PHKT memasok sekitar 380 MMSCFD untuk kebutuhan gas pipa domestik di wilayah Kalimatan Timur yang penting dalam menunjang kegiatan ekonomi di wilayah tersebut.
“Untuk 2019, PHI terus fokus untuk dapat mempertahankan dan meningkatkan suplai gas untuk kebutuhan domestik ini,” tegas Bambang.
Untuk tahun 2019, PHI menargetkan total produksi minyak dan kondensat sebesar 52,8 MBOPD dan gas sebesar 944 MMSCFD. Upaya pencapaian target itu dilakukan dengan terus menjalankan program drilling, work over & well service yang lebih banyak dengan biaya yang lebih rendah.
“PHI terus mendorong inovasi, value creation dan potensi efisiensi untuk menjadikan operasi yang lebih efisien dan kompetitif di antara anak-anak perusahaan Pertamina, mengingat tantangan yang kompleks dari lapangan-lapangan yang sudah tua,” paparnya.
Bambang menjelaskan bahwa sinergi antara PHM, PHSS dan PHKT terus ditingkatkan di tahun 2019 ini terkait kontrak-kontrak dan penggunaan fasilitas bersama sehingga dapat meningkatkan efisiensi biaya. Terkait program drilling, PHI melalui PHM akan terus mendorong inovasi untuk mempercepat waktu pengeboran sehingga dapat mengefisiensikan biaya dan kehilangan produksi.
Salah satu inovasi lainnya di Blok Mahakam, jelas Bambang, berupa pemasangan protection frame, sehingga tidak perlu mematikan sumur-sumur lain di saat pekerjaan intervensi sumur dilakukan.
Dalam bidang keselamatan, kesehatan, keamanan dan lingkungan (HSSE), PHI terus mempertahankan kinerja keselamatan unggul dengan memelihara operasi migas dengan tingkat LTI, TRI dan NOA yang rendah. PHI telah mencatat total 14,1 juta jam tanpa kecelakaan sejak LTI terakhir di masing-masing blok migas.
Pada tahun 2019, selain berkomitmen mencapai target nihil LTI, TRI dan NOA, PHI juga menargetkan untuk mencapai Proper Hijau, ISRS level 8, budaya keselamatan yang proaktif dan sistem manajemen pengamanan di tingkat Emas. Program-program peningkatan keselamatan kerja dan operasi PHI melibatkan komitmen dan usaha dari seluruh pekerja dan mitra kerja di PHM, PHSS dan PHKT.

























