Jakarta, Petrominer — PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) mengklaim berhasil menekan laju penurunan produksi alami hingga 20% dari semula 50%. Malahan, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) ini mencatat laju penurunan 10% sepanjang enam bulan pertama tahun 2016 ini.
“Dengan berbagai upaya kegiatan operasi, kami berhasil menahan laju penurunan alamiah di blok WMO menjadi sekitar 20% per tahun. Biasanya laju penurunan produksi alamiah mencapai 50% per tahun,” ujar President/GM PHE WMO, Sri Budiyani, di sela-sela acara buka puasa bersama wartawan, Selasa malam (21/6).
Sri Budiyani, yang akrab disapa Yani, menjelaskan, dengan melakukan kajian teknis operasi dan simulasi permukaan dan bawah permukaan, sampai dengan semester I tahun 2016 laju penurunan produksi alamiah dapat ditekan hanya menjadi 10%.
Berbagai kegiatan yang dilakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan laju produksi migas tahun 2016 tersebut antara lain melalui pekerjaan wellwork dan optimasi produksi yang berhasil menambah produksi sekitar 1.183 barel minyak per hari (BOPD) dan 18,2 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) gas bumi.
“Ini merupakan tambahan produksi yang cukup signifikan. Kondisi harga minyak dunia yang masih rendah dalam dua tahun terakhir ini sangat berpengaruh terhadap aktivitas operasi kami,” paparnya.
Tahun 2015 lalu, jelas Yani, PHE WMO membukukan produksi minyak sebesar 13.453 BOPD dan 103,84 MMSCFD gas bumi.
Sementara target produksi migas PHE WMO yang ditetapkan SKK Migas dalam Work Program dan Budget (WP&B) Revisi tahun 2016 adalah 9.300 BOPD untuk minyak bumi dan 102,6 MMSCFD untuk gas bumi.
“Sampai bulan Mei 2016, kami berhasil membukukan catatan produksi minyak 10.411 BOPD atau 111.9% dari target WP&B Revisi 2016 dan 105,735 MMSCFD atau 103% dari target WP&B Revisi 2016,” ujar Yani.
Dia menyatakan, menyiasati harga minyak mentah dunia yang masih rendah, PHE WMO sampai saat ini telah melakukan berbagai efisiensi dan berhasil melakukan penghematan dengan melakukan renegosiasi kontrak, penghematan bahan bakar, optimasi kapal laut, penghematan pelatihan, penghematan perjalanan dinas, dan pengurangan kendaraan operasional.
“Total nilai efisiensi yang berhasil dilakukan sampai saat ini adalah sekitar Rp 1,01 triliun atau setara dengan US$ 75, 4 juta,” paparnya.
Pencapaian 2015
Selain berhasil menahan laju penurunan alamiah yang signifikan, PHE WMO juga berhasil mencatatkan sejumlah prestasi di berbagai bidang di tahun 2015. Di bidang pengembangan sumber daya manusia, PHE WMO berhasil memperoleh peringkat empat laporan Career Development Monitoring dari SKK Migas. Ini menunjukkan sistem dan implementasi pengelolaan sumber daya manusia di PHE WMO telah berjalan cukup efektif.
Dalam pengelolaan lingkungan, PHE WMO berhasil mempertahankan penghargaan PROPER Hijau tiga tahun berturut-turut sejak tahun 2013 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Berdasarkan penilaian tim PROPER, PHE WMO masuk dalam 25% teratas dan peringkat ke-4 skor PROPER dari semua sektor industri.
Prestasi membanggakan lain juga berhasil didapatkan oleh PHE WMO, yaitu sebagai perusahaan migas pertama di Indonesia yang berhasil memperoleh sertifikasi ISO 14064 yaitu standar internasional untuk perhitungan dan pelaporan Green House Gas (GHG)/emisi Gas Rumah Kaca (GRK), termasuk persyaratan untuk desain, pengembangan, pengelolaan, pelaporan, dan verifikasi dari inventarisasi emisi GRK di Perusahaan.
Sejalan dengan visi dan misi untuk menjadi perusahaan kelas dunia, PHE WMO berhasil mendapatkan sertifikat International Sustainability Rating System 7th Edition (ISRS7) Level 4 dari Det Norske Veritas-GL (DNV-GL).
Pada tahun 2016, PHE WMO sedang mengembangkan beberapa program pengembangan masyarakat unggulan untuk mendukung perusahaan meraih PROPER Emas tahun 2016. PHE WMO berkomitmen untuk terus melakukan perbaikan berkelanjutan.
PHE WMO juga berhasil memperoleh sertifikasi ISO 9001:2008 untuk seluruh proses bisnis manajemen rantai suplai.








Tinggalkan Balasan