Jakarta, Petrominer – PT Pertamina (Persero) melayangkan surat resmi kepada pengelola Fortune Global terkait pemeringkatan Fortune 500 tahun 2020 yang tidak mencantumkan nama Pertamina. Padahal, Pertamina merasa yakin tetap tercatat dalam daftar Fortune Global 500 dengan posisi yang lebih tinggi.

Menurut VP Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman, untuk mendapatkan informasi mengenai proses pemeringkatan, Pertamina sedang melakukan penelusuran dan meminta penjelasan langsung kepada pihak pengelola. Fortune Global 500 merupakan ajang tahunan oleh majalah Fortune yang memberikan peringkat kepada 500 perusahaan berdasarkan total pendapatan yang tertuang dalam laporan keuangan perusahaan pada tahun fiskal sebelumnya.

“Berdasarkan Laporan Keuangan Tahun Buku 2019, Pertamina berhasil meraup pendapatan sebesar US$ 54,58 miliar dan laba bersih US$ 2,5 miliar. Dengan capaian kinerja keuangan tersebut, Pertamina seharusnya berada di posisi 198 Fortune Global 500 Tahun 2020,” ujar Fajriyah, Minggu (16/8).

Dia menjelaskan, daftar yang dibuat Fortune Global 500 tersebut merupakan aksi monitoring pasif yang dilakukan Fortune, tanpa melakukan klarifikasi langsung kepada Pertamina. Dengan revenue yang diraih Pertamina pada tahun 2019, seharusnya masih terdaftar di posisi 198 Fortune Global 500.

“Hal inilah yang mendorong kami untuk minta penjelasan resmi dari institusi penyelenggara,” ungkap Fajriyah.

Dia menegaskan, Pertamina membukukan pendapatan yang sejajar dengan peringkat ke-198, yaitu Nippon Steel Corporation dengan pendapatan US$ 54,45 miliar atau Rp 806 triliun (kurs Rp 14.800 per US$). Sedangkan Pertamina mencatatkan pendapatan US$ 54,58 miliar atau Rp 808 triliun pada 2019. Bahkan, berdasarkan Fortune Global 500, Nippon Steel Corp. membukukan kerugian sekitar US$ 3,97 miliar, sedangkan Pertamina justru mencatatkan profit US$ 2,5 miliar.

“Kami seharusnya tidak terlempar dari daftar, bahkan bisa sejajar dengan peringkat ke-198, dengan Nippon [Nippon Steel Corporation]. Jadi sebetulnya kami masih dapat berada dalam kisaran Top 500,” ujarnya.

Dengan revenue US$ 54,58 miliar dan posisi di peringkat 198, Pertamina bahkan tercatat masih unggul dari beberapa perusahaan global terkenal lainnya, seperti Goldman Sachs Group, Morgan Stanley, Caterpillar, dan LG Electronic yang berada di posisi 202 – 207 dengan pendapatan sekitar US$ 53 miliar. Sementara perusahaan energi dunia lainnya seperti Repsol dan ConocoPhilips bahkan berada di peringkat 245 dan 348.

Fajriyah menyatakan optimistis pada tahun mendatang Pertamina dapat kembali tercatat dalam daftar Fortune Global 500, tentunya dengan posisi yang lebih tinggi.

“Restrukturisasi yang dijalankan Pertamina saat ini merupakan bagian dari transformasi bisnis sebagaimana perusahaan energi kelas dunia untuk meningkatkan nilai perusahaan. Dengan dukungan dari Pemegang Saham, Dewan Komisaris dan Direksi serta seluruh pekerja, Pertamina berharap aspirasi sebagai global energy champion dapat tercapai dan mampu menempatkan BUMN ini di posisi 100 Fortune Global,” jelasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here