Senior Vice President Development Technology PT Pertamina (Persero), Amran Anwar. (Petrominer/Fachry Latief)

Cirebon, Petrominer — PT Pertamina (Persero) mengklaim telah berhasil mengembangkan teknologi aplikasi Enhanced Oil Recovery (EOR). Saat ini, program yang dikembangkan oleh Pertamina Upstream Technology Center (UTC) itu tengah diaplikasikan di 16 lapangan minyak dan gas bumi (migas).

“Kami telah menetapkan 16 prioritas lapangan migas dan time frame pengembangan EOR di Pertamina,” ujar Senior Vice President Development Technology Pertamina, Amran Anwar, dalam acara Media Gathering, Minggu malam (9/4).

Menurut Amran, lapangan-lapangan migas itu dikelola oleh PHE ONWJ, BOB CPP, Pertamina EP dan JOB PPEJ. Sebagian besar dengan chemical dan ada juga dengan CO2 flooding. Sementara lokasinya ada yang di onshore dan ada juga di offshore.

16 prioritas lapangan migas dan time frame pengembangan EOR di Pertamina.

Selain melakukan pengembangan sendiri, UCT juga aktif bekerja sama dengan beragam lembaga penelitian dan perguruan tinggi nasional untuk terus mengembangkan teknologi eksplorasi dan produksi migas dan panasbumi. Kerjasama dengan perguruan tinggi dan lembaga riset itu dilakukan untuk menghasilkan teknologi produksi yang efisien dan tepat guna. Teknologi itu juga disesuaikan dengan kondisi geologi, topografi dan sosial di Indonesia.

Pengembangan teknologi tersebut diprioritaskan untuk percepatan Water Flood, EOR, IOR (Improved Oil Recovery), dan aplikasi teknologi terapan di lapangan atau proyek pengembangan. Sementara aplikasi teknologi IT untuk penguatan sistem/proses bisnis maupun data terpadu yang mendukung percepatan Plan of Development (POD) maupun Plan of Further Development (POFD).

Saat ini, jelasnya, aplikasi yang tengah dijalankan di lapangan migas Pertamina antara lain Pengujian Viskositas Lapangan Bantayan, Formulasi Surfaktan SLS untuk Lapangan Rantau, Pre Feasibility Study CO2 EOR Lapangan Sukowati dan Lapangan Tambun, Pre Feasibility Study Steamflood Lapangan Batang, Implementasi software EOR predictive modeling dan pengadaan Lab EOR Tahap 2.

“Tidak hanya teknologi eksplorasi, UTC juga melakukan pengembangan dan pemanfaatan teknologi hulu migas lainnya,” papar Amran.

Dia memberi contoh Aplikasi Passive Seismik yang telah diterapkan di lapangan Pertamina EP-Asset 2 &5. Teknologi ini berguna untuk membantu mengidentifikasi Pool Hydrocarbon. Ada juga Aplikasi Pintar, yang telah dilakukan di lapangan Echo Field yang dikelola Pertamina Hulu Energi (PHE). Teknologi ini menggunakan remote control system via satelit untuk mengontrol parameter System Lift pada Offshore Platform.

“Masih banyak aplikasi lain yang sangat bermanfaat bagi peningkatan kinerja hulu migas,” jelas Amran.

Saat ini, UTC juga tengah melakukan beberapa penelitian dalam teknologi eksplorasi dan produksi migas. Antara lain; pembuatan piranti lunak pemodelan cekungan, pengembangan perangkat lunak 4 D Microgravity, Riset terapan studi kelayakan pemanfaatan bahan kimia untuk EOR dari limbah Kelapa Sawit.

“Semua penelitian ini akan berkontribusi pada langkah Pertamina untuk mendukung peningkatan produksi migas nasional,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, dalam melakukan riset, ada beberapa temuan baru yang perlu diproses hak patennya untuk melindungi setiap karya inovasi/kreasi intelektual. Misalnya pada pengembangan metode penemuan Hydrocarbon: Thermal Anomaly Based on Conductivity (PERTABOCsy) yang saat ini sedang dalam proses pendaftaran hak paten.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here