Jakarta, Petrominer – Menjadi produsen minyak dan gas bumi (migas) nomor satu di Indonesia. Ambisi ini terus didengungkan oleh PT Pertamina (Persero). Bahkan, meski produksi migasnya sebagian besar dipompa dari lapangan-lapangan yang sudah tua (mature field).

Menurut Senior Vice President Upstream Strategic Planning and Performace Evalution Direktorat Hulu Pertamina, Meidawati, produksi migas Pertamina berasal dari green field (lapangan baru) sekitar 21 persen dan lapangan tua 79 persen. Perbandingan yang signifikan inilah menjadi tantangan tersendiri bagi Pertamina dalam mengelola cadangan migasnya.

“Untuk porsi produksi, green field 21% dan mature field 79%. Perbandingan ini sangat signifikan, bagaimana kami mempunyai lapangan mature yang besar,” kata Mediawati usai tampil dalam diskusi bertajuk “Making Money From Nature Fields: The Spirit of Indonesia’s Oil and Gas Producers,” Rabu (7/11).

Dia mengakui besarnya tantangan dalam mengelola lapangan tua, terutama kontrol biaya. Bagaimanapun juga aset yang sudah tua membuat biaya pengelolaannya akan lebih mahal dibandingkan lapangan baru. Apalagi, fasilitas produksinya juga sudah tua semua.

Tantangan lainnya adalah masalah reservoir. Pasalnya, ada data yang tidak lengkap, sehingga harus melakukan korelasi dengan lapangan sekitar.

“Tantangan utamanya adalah biaya. Kalau dikembangkan tentu biaya operasinya lebih tinggi jika mengelola lapangan tua. Serta keekonomian proyek,” jelas Meidawati.

Lapangan Sukowati

Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Utama PT Pertamina EP, Nanang Abdul Manaf. Malahan, Nanang menegaskan bahwa mayoritas lapangan tua yang dikelola Pertamina EP telah berumur lebih dari 40 tahun.

Meski begitu, dia menegaskan bahwa pihaknya terus berupaya menjaga agar tidak terjadi penurunan produksi. Hal inilah yang mendorong anak usaha PT Pertamina (Persero) ini untuk terus melakukan berbagai inovasi dan optimalisasi untuk menekan laju penurunan produksi lapangan tua.

“Lapangan-lapangan tua ini masih produksi. Secara keekonomian masih masuk hitungan kami, ya kita produksikan, karena kita butuh minyak dan gas dari domestik,” kata Nanang.

Salah satu cara yang dilakukan untuk optimalisasi lapangan tua adalah memperbaiki fasilitas dan penggunaan teknologi baru. Pertamina EP juga akan meningkatkan teknologi injeksi dengan berbagai cara seperti penggunaan Electrical Submersible Pump (ESP) hingga Enhanced Oil Recovery (EOR).

Nanang mencontohkan, untuk lapangan Sukowati yang saat ini sudah dikelola 100 persen Pertamina EP ditargetkan akan mampu kembali mencapai produksi 10 ribu barel per hari. Meskipun tidak seperti produksi saat lapangan itu baru ditemukan.

“Rencana EOR di lapangan Sukowati kita sudah studi beberapa tahun terakhir ini, mana yang paling cocok untuk lapangan ini,” katanya.

Produksi migas puncak lapangan Sukowati dilaporkan pernah mencapai 40 ribu barel per hari. Dalam beberapa tahun terakhir, produksi migas di lapangan ini sudah terjun bebas ke level 6 ribu barel per hari.

“Kita akan starting di 9.000 barel per hari. Harapan kita bagaimana bisa eksekusi program yang kita canangkan ini. Supaya ini bisa terjadi dan puncaknya itu akan bisa mencapai 12 ribu barel per hari,” papar Nanang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here