Jakarta, Petrominer – PT Pertamina (Persero) memastikan langkah-langkah penanganan peristiwa munculnya gelembung gas di sekitar anjungan Lepas Pantai YYA-1 area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) berjalan cepat dan intensif. Apalagi, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini telah mengerahkan sumber daya terbaiknya.
Direktur Hulu Pertamina, Dharmawan H. Samsu, menjelaskan sesaat setelah munculnya gelembung gas di permukaan laut sekitar anjungan YY, PHE ONWJ telah bertindak cepat untuk menyatakan keadaan darurat operasi. Operator blok migas ONWJ ini pun dengan sigap melakukan pengamanan serta memastikan para pekerja dan masyarakat agar tidak beraktivitas di sekitar lokasi kejadian.
“Langkah awal yang menjadi prioritas utama yakni mengevakuasi karyawan yang berada di anjungan dan menara pengeboran (rig). Selanjutnya Pertamina melakukan isolasi dan pengamanan serta memastikan masyarakat agar tidak beraktivitas di sekitar lokasi kejadian,” ujar Dharmawan dalam jumpa pers, Kamis sore (25/7).
Menurutnya, saat ini Pertamina dan pihak terkait masih melakukan investigasi untuk mengungkap penyebab kejadian. Namun indikasi sementara menunjukkan adanya anomali tekanan pada anjungan yang menyebabkan munculnya gelembung gas dan diikuti oil spill.
Untuk mengendalikan kondisi di lapangan, Pertamina membentuk Incident Management Team (Crisis Team) di Jakarta dan Karawang. Tim ini bertugas melakukan penanggulangan tumpahan minyak, penanganan gas dengan spray, pengeboran untuk mematikan sumur, serta penanganan di anjungan.
Pada penanganan peristiwa ini, Pertamina juga telah memobilisasi 29 kapal, 3.500 meter oil boom offshore, 3.000 meter oil boom shoreline, dan 700 meter fishnet di pesisir pantai terdampak. Untuk menghentikan sumber gas dan oil spill, Pertamina akan mematikan atau menutup sumur YYA-1. Langkah ini diperkirakan memerlukan waktu sekitar 8 minggu atau 10 minggu sejak dinyatakan kondisi darurat.
“Demi memaksimalkan penanganan sumur YYA-1, saat ini Pertamina telah melibatkan Boot & Coots, perusahaan dari US yang memiliki proven experience dalam kasus serupa dengan skala yang lebih besar seperti di Gulf of Mexico,” jelas Dharmawan.
Sementara untuk penanganan terhadap dampak lingkungan akibat adanya sisa tumpahan minyak yang terbawa arus ke pantai, Pertamina melakukan upaya intensif dengan cara pembersihan pantai secara cepat dan mengangkutnya ke lokasi penampungan yang bersertifikat untuk menangani hal ini.
Saat ini, Pertamina memastikan potensi terganggunya mata pencaharian masyarakat nelayan dapat diatasi dengan baik dan bijaksana. Untuk itu, Pertamina telah membuka Posko di Pantai Karawang yang tugas utamanya melakukan sosialisasi kepada masyarakat, melakukan aktifitas penanggulangan oil spill di pantai bersama masyarakat, memberikan pelayanan kesehatan, serta berkoordinasi dengan stakeholder setempat.
“Pertamina melakukan upaya intensif dengan melibatkan seluruh sumber daya termasuk kolaborasi dari eksternal yang memiliki kapabilitas menangani hal ini. Kami berterima kasih pada seluruh stakeholder dan masyarakat sekitar yang telah turut berpartisipasi dan mendukung kelancaran upaya penanganan peristiwa di anjungan YYA,” tegas Dharmawan.








Tinggalkan Balasan