
Jakarta, Petrominer – Setelah sukses memproduksi Green Diesel (D-100) melalui pengolahan minyak sawit 100 persen, PT Pertamina (Persero) terus melangkah maju dan siap memproduksi green energy lainnya, seperti Green Gasoline dan Green Avtur. Ini merupakan komitmen Pertamina untuk terus menghadirkan inovasi-inovasi yang dapat berdampak luas bagi bangsa dan negara Indonesia.
Wakil Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional, Budi Santoso Syarif, menjelaskan bahwa Green Diesel diperoleh melalui pengolahan Refined, Bleached and Deodorized Palm Oil (RBDPO) 100 persen. Dalam uji coba di fasilitas existing Kilang Dumai Pertamina berhasil memproduksi Green Diesel (D-100) sebanyak 1.000 barel per hari.
“Selain Green Diesel, saat ini Pertamina juga tengah mengembangkan bahan bakar nabati (BBN) lain berbahan minyak sawit, yaitu Green Gasoline dan Green Avtur,” ujar Budi di sela-sela kunjungan ke fasilitas pengolahan Green Diesel di Kilang Dumai, Riau, Rabu (15/7).
Untuk Green Gasoline, Pertamina sudah melakukan uji coba sejak tahun 2018, 2019 dan 2020 di Kilang Plaju, Sumatera Selatan, dan Cilacap, Jawa Tengah. Namun uji coba tersebut baru mampu mengolah RBDPO 20 persen. Meski begitu, hal ini adalah yang pertama di dunia mengingat mengolah minyak sawit menjadi Green Gasoline belum pernah dilakukan dalam skala operasional.
Sedangkan uji coba mengolah minyak sawit menjadi Green Avtur akan dilakukan akhir tahun 2020 ini di Kilang Cilacap.
“Mengolah minyak sawit menjadi green diesel sudah dilakukan juga oleh beberapa perusahaan lain di dunia, namun mengolah minyak sawit menjadi green gasoline belum pernah dilakukan di dunia. Pertamina adalah yang pertama karena selama ini hal tersebut masih sebatas skala laboratorium untuk riset,” ungkap Budi
Selain di Dumai, Pertamina juga akan membangun Standalone Biorefinery di Cilacap dengan kapasitas 6.000 barel per hari dan Standalone Biorefinery di Plaju dengan kapasitas 20.000 barel per hari. Kedua Standalone Biorefinery ini kelak akan mampu memproduksi Green Diesel maupun Green Avtur dengan berbahan baku 100 persen minyak nabati.
Ke depan, jelas Budi, Pertamina tidak hanya mengembangkan green energy dari CPO atau minyak sawit, tetap juga dari sumber daya lainnya seperti algae, gandum, sorgum dan sebagainya. Pertamina akan terus mendayagunakan segala sumber daya alam domestik, untuk mendukung kemandirian dan kedaulatan energi nasional.
Sekarang ini, Pertamina terus berusaha mengoptimalkan sumber daya yang ada di Indonesia dengan mengoptimalkan market yang ada dalam negeri, karena cukup besar. Mengolah kelapa sawit menjadi bahan bakar memiliki TKDN (Total Kandungan Dalam Negeri) yang amat sangat tinggi dan berpotensi mengurangi defisit transaksi negara. Pasalnya, sawit adalah bahan baku domestik yang transaksinya dilakukan dengan mata uang rupiah, dengan begitu akan berdampak positif pada pertumbuhan perekonomian nasional.
Sebagaimana diketahui, Pertamina telah menggunakan FAME (Fatty Acid Methyl Ester) untuk program biodiesel sejak tahun 2006 sampai tahun 2017 atau selama 11 tahun, dengan penyerapan FAME mencapai 9,2 juta kilo liter (KL).
Pada tahun 2018, Pertamina menjalankan Program B-20 dimana penyerapan FAME sebesar 3,2 juta KL yang pencampurannya dilakukan di 69 lokasi. Melalui Program B-30, pada tahun 2019, penyerapan FAME meningkat tajam sebesar 5,5 juta KL dan tahun 2020 ditargetkan meningkat menjadi 8,38 juta KL.
“Implementasi program B20 dan B30 di tahun 2019 telah menghemat devisa negara sebesar Rp 43,8 triliun. Di tahun 2020, Pertamina menargetkan penghematan devisa sebesar Rp 63,4 triliun dengan serapan tenaga kerja sebanyak 1,2 juta orang,” ungkap Budi.

























