Rudi Rubiandini.

Jakarta, Petrominer – Harus dipamahi mengapa Pertamina dan Badan Usaha BBM menjual Pertamax seharga Rp 9.000. Sementara Malaysia sudah menjual BBM setara Pertamax Plus dengan harga Rp 4.500. Padahal saat ini, harga minyak dunia terjun bebas dari sekitar US$ 65 per barel menjadi hanya sekitar US$ 30 per barel.

Di negara Malaysia masih menerapkan subsidi, sehingga berani menjual harga Rp 4.500. Walaupun subsidinya sangat sedikit. Dibandingkan bulan sebelumnya yang sekitar Rp 7 triliun, mungkin subsidi BBM sekarang tidak sampai Rp 1 triliun. Namun dibandingkan Indonesia, dengan jumlah penduduknya sekitar sepuluh kali lipat, angka tersebut ekivalen di bawah Rp 10 triliun.

Kita ketahui anggaran yang disediakan di APBN untuk subsidi BBM tahun 2020 sekitar Rp 20 triliun. Dan mungkin dengan harga minyak yang terus turun, hampir tidak diperlukan lagi subsidi untuk BBM.

Mari kita bandingkan tiga buah peraturan yang kebetulan dibuat oleh tiga Menteri ESDM yang berbeda, yaitu Permen nomor 39 tahun 2014 oleh MESDM Sudirman Said, Permen nomor 34 tahun 2018 oleh MESDM Ignatius Jonan, dan Kepmen nomor 62K/MEM/2020 oleh Arifin Tasrif.

Ada dua hal mendasar yang telah berubah dalam faktor yang mempengaruhi harga BBM kepada masyarakat (lihat Tabel 1).

Pada Permen tahun 2014 dan 2018 Pengambilan parameter ditentukan sebulan sebelumnya, baik untuk Harga Minyak maupun Kurs Dollar, namun pada Kepmen 2020 ditentukan dua bulan sebelumnya. Sebagai perbandingan sebelum tahun 2014, pengambilan parameter hanya dilakukan 2 minggu sebelumnya, bahkan di negara Malaysia dan beberapa negara lain cukup seminggu sebelumnya.

Dalam hal cara perhitungan, Permen tahun 2014 menggunakan Harga Dasar yang diambil dari ICP (Indonesian Crude Price) ditambah nilai Alfa, yaitu biaya perolehan sampai Terminal BBM, kemudian ditambah PPn 10 persen, PBBKB 5 persen, dan ditambah Margin minimum 5 persen sampai maksimum 10 persen.

Sedangkan Permen tahun 2018, sama cara perhitungannya dengan Permen tahun 2014, tetapi Margin dibuat tetap sebesar 10 persen.

Kini dengan Kepmen 2020, perhitungannya mendasarkan pada MOPS (Means of Platts Singapore) yaitu harga produk jadi hasil olahan dari kilang yang dijual di Singapore, kemudian ditambah margin 10 persen serta ditambah Konstanta sebagai pengganti biaya Penyimpanan, transportasi, tugas satu harga, biaya operasi lainnya. Nilai Konstanta untuk BBM di bawah RON 95 sebesar Rp 1.800, sedangankan R0N 95 atau lebih sebesar Rp 2.000.

Sebagai Informasi RON 88 adalah Premium, RON 90 adalah Pertalite, RON 92 adalah Pertamax, RON 95 adalah Pertamax Plus, dan ada juga RON 98 Pertamax Turbo.

Hasil dari perhitungan dengan menggunakan Permen 2018 (paramater ICP yang dipakai) dibandingkan dengan Kepmen 2020 (parameter MOPS yang dipakai), untuk skema Waktu pengambilan paramater dua bulan sebelumnya (Skenario A), sebulan sebelumnya (Skenario B), dan Real Time atau seminggu sebelumnya (Skenario C) adalah terpapar pada Tabel-2.

Jadi dapat dimengerti mengapa Badan Usaha saat ini masih menjual BBM Pertamax RON 92 seharga Rp 9.000, dalam tabel Skenario A (parameter dua bulan lalu), diperoleh hitungan sebesar Rp 8.800.

Namun bila dihitung dengan Skenario B (parameter sebulan lalu), maka harganya hanya cukup Rp 7.100 saja, malah bila menggunakan Skenario C (parameter seminggu lalu), maka harganya hanya Rp 5.650.

Apalagi bila masih menggunakan dasar perhitungan dari ICP seperti pada Permen 2014 dan Permen 2018, hasil dari hitungan Skenario A, B, dan C, beturut-turut adalah Rp 7.200, Rp 6.000, dan Rp 4.600.

Oleh karena itu, ketika Malaysia menerapkan Pertamax Plus RON 95 seharga Rp 4.500 sementara Pertamax di Indonesia masih menggunakan harga Rp 9.000, banyak masyarakat yang terheran-heran.

Semoga dengan penjelasann tersebut dapat dimengerti duduk perkaranya, sehingga bukan kesalahan hitung dari Badan Usaha seperti Pertamina, Shell, AKR, akan tetapi memang peraturannya yang menyebabkan dalam situasi prihatin ini masyarakat belum bisa menikmati BBM murah. Masih dibutuhkan kesabaran sampai awal bulan Mei agar BBM murah mulai bisa dinikmati Rp 7.000 dan awal bulan Juni Rp 5.500.

————–
Rudi Rubiandini
Profesional Bidang Energi

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here