Jakarta, Petrominer – Pengusaha dan pengguna energi surya Indonesia menggandeng mitra dari Jerman untuk ikut mengembangkan PLTS Atap/rooftop di Indonesia. Sebuah nota kesepahaman (MoU) ditandatangani untuk merealisasikan kerjasama tersebut.

Adalah AESI (Asosiasi Energi Surya Indonesia) dan PPLSA (Perkumpulan Pengguna Listrik Surya Atap) yang mengajak mitranya, BSW (Bundesverband Solarwirtschaft e.V.)  untuk menyusun perencanaan kerjasama lebih lanjut terkait peningkatan kapasitas SDM, pengembangan pedoman standar keselamatan dan penerapan teknologi serta advokasi dalam kebijakan, peraturan dan insentif energi terbarukan, utamanya PLTS Atap/rooftop. MoU ditandatangani di sela acara 2018 Indonesia-German Renewable Energy Day, Rabu (21/11).

Menurut Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rida Mulyana, menyambut baik kerjasama tersebut.  Itu disebutnya sebagai tindak lanjut dari program kerja sama antara Indonesia dan Jerman dalam mengatasi tantangan pengembangan EBT di Indonesia.

“Jerman adalah salah satu mitra penting bagi Pemerintah Indonesia dalam mengembangkan energi terbarukan. Kerja Sama antara Indonesia dan Jerman di sektor energi terbarukan sudah sangat lama dan berjalan sangat baik selama 25 tahun,” ujar Rida.

Dia juga menegaskan bahwa Pemerintah Indonesia memerlukan dukungan dan kerja sama dari negara-negara yang telah maju dalam pengembangan energi terbarukan untuk mencapai target 23 persen energi baru dan terbarukan (EBT) pada bauran energi tahun 2025. Dukungan tersebut dapat berupa pendanaan, pengembangan teknologi, peningkatan kapasitas, dan masukan untuk pengembangan kebijakan energi terbarukan di Indonesia.

Pemerintah Indonesia, paparnya, berkomitmen untuk mewujudkan energi yang adil, yang bertujuan memberikan akses yang sama terhadap energi bagi masyarakat Indonesia. Hal itu diwujudkan melalui pengembangan infrastruktur energi dan mengoptimalkan potensi sumber energi lokal dengan ketersediaan yang terjamin, aksesibilitas, keterjangkauan, dan keberlanjutan.

“Untuk mewujudkan itu, Pemerintah melakukan upaya terbaik, di antaranya meningkatkan rasio elektrifikasi menjadi 99,9 persen pada tahun 2019 dan memaksimalkan pemanfaatan energi terbarukan untuk menjamin keberlanjutan dan keterjangkauan energi,” ujar Rida.

Dia juga menambahkan bahwa pada periode 8 tahun terakhir, rasio elektrifikasi sudah meningkat dari 67,2 persen menjadi 98,05 persen. Namun, bauran energi untuk pembangkit listrik masih didominasi energi fosil.

“Bauran energi utama untuk pembangkit listrik masih didominasi oleh energi fosil, dengan batubara sebesar 58,64%, gas 22,48%, minyak 6,18%, dan energi terbarukan sekitar 12,71%,” jelas Rida.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here