Aktivitas pemboran sumur di Jambaran Central, Proyek Jambaran Tiung Biru, Bojonegoro, Jawa Timur.

Jakarta, Petrominer – SKK Migas terus melakukan pembaruan standar Kesehatan Keselamatan Kerja dan Lindungan Lingkungan (K3LL) agar tidak ada proyek atau kegiatan peningkatan produksi yang terganggu. Langkah ini sebagai bagian dari upaya mendukung pencapaian target produksi minyak 1 juta BOPD dan gas 12 BSCFD di tahun 2030.

Deputi Operasi SKK Migas, Julius Wiratno, menjelaskan bahwa pada tahun 2021, SKK Migas telah menetapkan target dibandingkan tahun sebelumnya. Antara lain, 90 persen kinerja KKKS mendapatkan rating biru (taat) dengan 40 persen kategori hijau dan emas (lebih dari taat), serta incident rate harus lebih kecil dari angka 0,9.

“Selain melakukan usaha-usaha peningkatan produksi migas, langkah penting yang harus dilaksanakan pada tahun 2021 untuk mendukung capaian target produksi tahun 2030 adalah meningkatkan usaha menjaga operasional dan proyek hulu migas agar tidak ada kecelakaan kerja dan memastikan operasional dan proyek hulu migas tidak berhenti,” ujar Julius pada HSE Meeting Akhir Tahun 2020, yang diselenggarakan secara virtual, Kamis (10/12).

Dia menegaskan, tahun 2030 bukan waktu yang singkat bagi usaha pencapaian target produksi minyak 1 juta BOPD dan gas 12 BSCFD. Oleh karena itu, usaha peningkatan kinerja operasi hulu migas adalah suatu keharusan agar tidak ada proyek atau kegiatan produksi yang terhenti, yang akhirnya juga akan menyebabkan potensi kerugian negara karena produksi menjadi tidak optimal, penambahan biaya dan waktu penyelesaian proyek menjadi tertunda.

“Ibaratnya, kami harus memacu operasi hulu migas pada kecepatan tinggi. SKK Migas menjaganya dengan meningkatkan standar K3LL. Oleh karena itu jika ada kegiatan operasi atau proyek yang terhenti, harus dilakukan investigasi dan dicari penyebabnya agar masalah dapat segera teratasi dan kejadian tidak terulang lagi,” ungkap Julius.

Target yang ditetapkan pada tahun 2021 lebih tinggi dari target tahun 2020. Key Performance Indicator (KPI) hulu migas nasional di tahun 2020 terdiri atas dua parameter yaitu occupational safety (incident rate) < 1,0 dan proper rating 90 persen biru atau dalam kategori taat.

Sedangkan untuk tahun 2021, KPI hulu migas nasional ditingkatkan menjadi empat parameter, yaitu incident rate < 0,9; proper rating 90 persen biru (taat) dengan 40 persen kategori hijau dan emas (lebih dari taat); site restoration (ASR) 100 persen per tahapan persetujuan Pemerintah dan kewajiban hulu migas nasional sudah menerapkan HSE Dashboard dengan standar industri migas dunia.

Pada HSE Meeting ini, SKK Migas menyampaikan evaluasi kinerja kesehatan keselamatan kerja dan lindungan lingkungan (K3LL) di tahun 2020 dan rencana pelaksanaan K3LL di tahun 2021. HSE Meeting juga dimanfaatkan untuk menindaklanjuti IOG Convention 2020 melalui sosialisasi penerapan HSE Performance Index, dengan cara melakukan benchmarking dengan mengacu pada best practice worldwide dari International Association of Oil and Gas Producer (IOGP). Kegiatan ini juga dilakukan dalam rangka menuju era Industrial revolution 4.0, di mana big data, internet of things dan real time reporting merupakan keniscayaan yang cepat atau lambat akan dijalankan.

Sebenarnya, penerapan HSE Performance Index bukan hal yang baru. Benchmarking kinerja HSE mengacu pada best practice industri migas di dunia, dan sesuai dengan konsep PSC.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here