Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Sudirman Said, pada acara pencanangan Program Indonesia Terang di Maybrat, Papua Barat, Kamis (21/4).

Maybrat, Petrominer — Bertepatan dengan peringatan hari Kartini, Program Indonesia Terang (PIT) dicanangkan di desa Temel, Distrik Ayamaru Jaya, Kabupaten Maybrat, Papua Barat. Pencanangan program untuk mengalirkan listrik ke seluruh negeri ini dilakukan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said, Kamis (21/4).

Program Indonesia Terang ini diharapkan menjadi jawaban untuk desa-desa yang belum teraliri listrik. Program ini sangat diperlukan mengingat banyak wilayah di Indonesia bagian timur yang sangat sulit di akses. Ini menjadi tantangan dan konsenstrasi tersendiri bagi Pemerintah dan PLN untuk dapat segera memenuhi kebutuhan listrik warga. Mengingat sulitnya akses di 6 provinsi Indonesia Timur ini, regionalisasi sangat dibutuhkan.

“Kami sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh PLN dengan membentuk regionalisasi, sehingga tiap daerah bisa mendapatkan perhatian khusus dan terfokus. Regionalisasi ini juga relevan mengingat tantangan tiap daerah yang berbeda-beda,” ujar Sudirman Said.

Sementara Direktur PT PLN (Persero) Amin Subekti menjelaskan bahwa regionalisasi yang dilakukan saat ini akan terus diperkuat, dan tak lupa untuk meningkatkan kemampuan SDM di tiap regional. Tidak hanya itu, PLN juga akan memberikan pelatihan kepada penduduk sekitar untuk bisa mengoperasikan pembangkit listrik.

Program Indonesia Terang dimulai dari enam provinsi paling timur Indonesia. Keenamnya adalah Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Kesulitan akses di sana membuat keenamnya menjadi provinsi yang harus digarap pertama kali. Dari Timur, program ini akan digerakkan secara cepat ke bagian barat Indonesia.

“Kita memberikan fokus ke wilayah timur Indonesia Terang. Mempercepat kelistrikan atau akses ke-12 ribuan desa,” ujar Sudirman Said.

Pemanfaatan EBT

Pencanangan Program Indonesia Terang sengaja dilakukan di pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) Temel dan PLTMH Safreis. Hal ini sekaligus sebagai bukti keseriusan PLN dan pemerintah untuk pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) yang ramah lingkungan.

Kabupaten Maybrat yang mempunyai kontur berbukit-bukit memiliki beberapa potensi air yang dapat dikembangkan menjadi sumber energi listrik berskala kecil, hal ini juga nantinya akan dimanfaatkan oleh PLN untuk mengembangkan potensi alam yang ada sebagai pembangkit listrik off grid atau sekala lokal.

Sebelumnya pemanfaatan energi baru terbarukan juga telah dilakukan oleh PLN diantaranya dengan pemanfaatan PLTA 2 x 10 Mega Watt (MW) di Oriya, Genyem, Provinsi Papua. Selain itu PLN juga berhasil mengoperasikan PLTMH Prafi 2 x 1,25 MW serta sejumlah PLTMH kapasitas 500 kV dan 200 kV di Wamena.

Sementara untuk jangka panjang, PLN juga berencana untuk membangun PLTMH baru dengan kapasitas hingga 14,7 MW di Papua dan PLTMH kapasitas 7,6 MW di Papua Barat.

Selain itu PLN juga akan melakukan pembangunan PLTA 50 MW di sungai Baliyem serta akan memasang PLTS tersebar di Papua dan Papua Barat.

Saat ini untuk wilayah Papua dan Papua Barat rasio elektrifikasinya sebesar 47,2 persen dan PLN sedang mengejar target peningkatan rasio elektrifikasi Papua dan Papua Barat hingga 90,25 persen pada tahun 2020, dimana rencana pembangunannya sudah tertuang dalam RUPTL dan masuk dalam Program 35 ribu Megawatt yang digagas oleh Presiden RI Joko Widodo.

Adapun yang menjadi perhatian PLN untuk peningkatan rasio elektrifikasi di Papua dan Papua Barat yakni:

  1. Melistriki 14 Ibu Kota kabupaten yang belum terlistriki, sampai dengan tahun 2017
  2. Pengoperasian listrik 24 jam untuk seluruh desa untuk tahun 2017.
  3. Desa berlistrik diharapkan bisa mencapai 80,8 persen.
  4. Pulau terluar dalam tiga tahun kedepan sudah teraliri listrik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here