PLTP Dieng unit 1, Jawa Tengah, yang dikelola oleh Geo Dipa Energi.

Jakarta, Petrominer – Indonesia dilaporkan akan mempercepat pembangunan pembangkit listrik tenaga panasbumi (PLTP) untuk memecahkan masalah energinya. Hal ini memungkinkan karena Indonesia punya cadangan panasbumi sekitar 24 gigawatt (GW) atau 40 persen dari sumber daya panasbumi dunia.

Perusahaan data dan analitik, GlobalData, mengungkapkan bahwa Indonesia telah mengidentifikasi lebih dari 300 lokasi di seluruh wilayah, seperti Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku, untuk pengembangan potensi panasbumi tersebut.

“Negara ini telah menyiapkan dana sekitar Rp 3,7 triliun (sekitar US$ 275 juta) untuk pengembangan teknologi panasbumi. Dikelola oleh PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), dana tersebut akan digunakan terutama untuk pemberian peminjaman, penyertaan modal dan atau penyediaan data serta informasi panasbumi,” tulis GlobalData dalam laporan terbarunya berjudul “Indonesia Power Market Size, Trends, Regulations, Competitive Landscape and Forecast, 2022-2035,” yang diterima PETROMINER, Kamis (22/9).

Power Analyst GlobalData, Attaurrahman Ojindaram Saibasan, menjelaskan bahwa Indonesia telah memperbarui undang-undangnya tentang kegiatan panasbumi pada tahun 2014 lalu. Peraturan yang direvisi itu tidak lagi menganggap panasbumi sebagai ‘kegiatan pertambangan’ karena kegiatan pertambangan saat ini dilarang di kawasan hutan bernilai konservasi tinggi.

“Peraturan tersebut juga memperkenalkan bonus produksi yang wajib dibayarkan kepada pemerintah daerah di mana lapangan panasbumi berada, dan lelang telah diperkenalkan untuk wilayah kerja panasbumi (WKP) untuk mendorong partisipasi industri,” ujar Saibasan.

Indonesia telah menjadikan pengembangan PLTP sebagai salah satu prioritas utamanya dan menetapkan target untuk mencapai kapasitas kumulatif 9,3 GW pada tahun 2035. Ini untuk menyelesaikan beberapa masalah energi dan mencapai tujuan iklimnya. Mengingat tren saat ini, Indonesia diharapkan bisa mencapai kapasitas PLTP sebesar 8,1 GW pada tahun 2035.

“Namun, target itu hanya dapat dicapai jika pemerintah berhasil dalam melakukan lelang WKP tanpa penundaan, memberikan insentif untuk mengatasi biaya di muka dalam tahap eksplorasi, dan mengumpulkan lebih banyak investasi swasta asing,” paparnya.

PLTP juga diharapkan dapat membantu Indonesia mengatasi risiko yang terkait dengan ketergantungannya pada impor bahan bakar minyak (BBM) dan mengurangi beban ekonomi negara akibat subsidi BBM. Pada tahun 2021, dana sebanyak Rp 83,7 triliun dihabiskan untuk subsidi BBM dan diperkirakan akan membebani perekonomian negara sebesar Rp 77,5 triliun pada tahun 2022 ini.

“Panasbumi memegang kunci untuk mencapai target negara untuk mencapai 23 persen kebutuhan energinya dari energi terbarukan, dan memotong emisi karbonnya menjadi nol bersih (net zero) pada tahun 2060. Pemerintah juga berharap bisa mencapai rasio elektrifikasi 100 persen dan panasbumi dianggap sebagai sumber yang dapat diandalkan untuk mencapainya,” ujar Saibasan menyimpulkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here