Pekerja PGN LNG tengah mengawasi penerimaan kargo LNG dari kapal tanker LNG ke FSRU Lampung.

Jakarta, Petrominer – PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk. menyatakan siap melayani kebutuhan gas bumi nasional sesuai dengan perannya sebagai sub holding gas untuk mengelola bisnis midstream dan downstream gas bumi nasional. Hal ini seiring dengan pertumbuhan kebutuhan gas bumi nasional serta sebagai komitmen dan dukungan penuh terhadap pertumbuhan industri nasional.

“PGN yakin, dalam rangka mendukung perekonomian nasional, gas masih menjadi sumber energi yang efektif, efisien, kompetitif dan ramah lingkungan untuk industri,” ujar Direktur Utama PGN, Gigih Prakoso, Selasa (14/1).

Saat ini, jelas Gigih, PGN sebagai sub holding gas mengelola 96 persen infrastruktur gas bumi. Dengan ekspektasi Pemerintah supaya harga gas lebih murah dan efisien, dia mengatakan di tahun 2020, PGN akan berupaya keras untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pada seluruh kegiatan operasi.

Mengenai kebutuhan DMO (domestic market obligation) gas bumi dan LNG, keberpihakan Pemerintah terhadap kebutuhan gas domestik diyakini sudah cukup baik. Namun, utilisasi dari komitmen gas bumi untuk domestik masih perlu ditingkatkan, khususnya kebutuhan akan pertumbuhan infrastruktur gas yang lebih masif. Salah satu upaya untuk meningkatkan pasokan gas bumi dengan tingkat keekonomian yang diminta oleh beberapa pihak adalah DMO gas.

“Selain DMO gas untuk menjawab solusi pasokan gas yang berkelanjutan, PGN juga akan mengelola bisnis gas bumi secara terintegrasi pada jaringan gas konvesional termasuk non pipa CNG dan LNG,” tegasnya.

Menurut Gigih, PGN siap mengemban tugas menjadi agregator gas bumi, apabila DMO gas diberlakukan, dengan menyalurkannya ke seluruh sektor secara efektif dan efisien. Dia berharapn, dengan konsep agregator yang mengintegrasikan pasokan di hulu dan infrastruktur hilir oleh sub holding gas, maka penyaluran gas bumi ke end user bisa lebih efektif, termasuk subsidi silang antar kawasan di wilayah Indonesia.

“Dari hasil diskusi dengan Pemerintah, PGN akan mengembangkan bisnis-bisnis baru. DMO gas menjadi salah satu solusi untuk menjaga pertumbuhan industri nasional, yang tentunya dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder secara jangka panjang yaitu pemerintah dan investasi hulu yang menarik,” ungkapnya.

Memasuki tahun 2020, PGN telah bersiap untuk mengembangkan infrastruktur gas secara masif baik di tahun ini maupun dalam jangka pendek menengah. Pertama, PGN berupaya meningkatan perluasan pembangunan jaringan transmisi Gresik-Semarang dengan panjang 272 km. Sedangkan untuk pembangunan jaringan distribusi gas bumi, ditargetkan lebih dari 180 km, dengan rincian di Jawa sekitar 60 km dan di Sumatera sekitar 120 km.

“Target tersebut akan semakin mendekatkan visi menyatukan infrastruktur pipa trans Sumatera dan Jawa,” jelas Gigih.

Dampak Masif

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PGN, Rachmat Hutama, menyatakan bahwa Jawa Timur menjadi salah satu concern PGN.

Menurut Rachmat, agar bisa memberikan dampak yang makin masif, PGN akan mengembangkan terminal LNG Teluk Lamong dengan kapasitas 40 Bbutd. Ini termasuk bisnis LNG filling dengan kapasitas 10 Bbutd untuk wilayah baru yang belum terjangkau infrastruktur pipa di sejumlah kota Jawa Timur bagian Selatan, Barat, dan Timur.

Selain itu, PGN juga akan melaksanakan pembangunan jaringan gas (Jargas) Rumah Tangga dengan dana APBN sebanyak 266.070 sambungan di 49 Kabupaten/Kota. Pembangunan ini ditargetkan dapat memberikan efisiensi untuk pelanggan rumah tangga, mengurangi beban subsidi, dan mengurangi impor LPG sekitar 0,24 Juta ton.

Dia menjelaskan, PGN juga akan membangun jargas mandiri di 16 Kabupaten/Kota sebanyak 633.930 sambungan rumah tangga (SR). Dengan rincian pada tahun 2020 sebanyak 50.000 SR dan sisanya 583.930 SR akan dikembangkan tahun 2021.

Tak berhenti sampai disitu, pada program tahun 2020 akan dilakukan gasifikasi Kilang Pertamina. Terutama untuk Kilang Cilacap dan Kilang Balikpapan dengan volume 47 Bbutd, sehingga dapat mengefisiensi bahan bakar kilang Pertamina dan produk turunannya.

“Yang sudah dilakukan tahun 2019 yaitu Kilang Balongan. Sekarang sudah menggunakan gas, pipa PGN dan Pertagas telah disinkronkan sehingga bisa menyalurkan gas sekitar 20 Bbutd,” ungkap Rachmat.

Lebih lanjut, dia mengungkapkan, program-program pengembangan infrastruktur ini akan memberikan benefit berupa kehandalan kapasitas infrastruktur LNG dan gas pipa domestik, mendorong tambahan peningkatan utilisasi gas bumi domestik sampai dengan 130 Bbutd atau setara dengan 23 ribu BOEPD (barrel oil eqivalent per day), serta meningkatkan kemampuan PGN di pasar internasional sebagai global player.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here