Kopi Pelagio. Indonesia Power Kamojang POMU bersama mitra binaan Kampung Pelag melakukan budidaya kopi Arabica Java Preanger di Garut, Jawa Barat. (Petrominer/Fachry Latief)

Garut, Petrominer – Kopi merupakan salah satu komoditas internasional dan telah dibudidayakan di lebih dari 50 negara. Dua varietas pohon kopi yang dikenal secara umum yaitu kopi robusta (coffea canephora) dan kopi arabika (coffea arabica).

Selanjutnya, kedua varietas kopi tersebut dikembangkan dan diberi nama sesuai dengan lokasi penanamannya. Salah satunya adalah kopi priangan varietas Pelagio. Diberi nama seperti itu karena ditanam di Kampung Pelag.

Varietas ini sangat diminati para pencinta kopi lokal dan luar daerah. Sejak lama, komoditas ini menjadi salah satu andalah warga setempat dalam mengais rezeki dan meningkatkan taraf ekonomi mereka. Kampung Pelag berlokasi di Desa Sukarilah, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Hal inilah yang menggugah PT Indonesia Power untuk ikut membantu pengembangan para petani kopi di Kampung Pelag. Sejak tahun 2011, anak perusahaan PT PLN (Persero) ini melakukan pendekatan dan dilanjutkan dengan pembinaan sekitar 80 petani kopi. Para petani tersebut semula hanya sebagai petani memetik dan menjual dalam bentuk green bean dengan harga cukup murah.

Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), Indonesia Power pun memberikan segala bentuk bantuan dan pembinaan kepada para petani kopi. Hasilnya, saat ini, para petani sudah bisa menjual kopi dalam kemasan roaster dengan harga mencapai Rp 600.000 per kg.

“Animo masyarakat pun mulai bergairah untuk merawat dan menanam kembali kopi Pelagio. Apalagi, komoditas ini bisa meningkatkan taraf hidup mereka,” ujar Head of Corporate Communication Indonesia Power, Rahmi Sukma, di sela-sela kunjungan ke Pelagio Café, Garut, Jum’at (13/3).

Rahmi menjelaskan, kopi jenis Pelagio merupakan salah satu jenis kopi tertua di Indonesia.  Kopi Arabica Java Preanger ini merupakan jenis kopi yang langka karena hanya terdapat di Kampung Pelag yang terletak di ketinggian 1.300 mdpl.

Seperti diketahui, kopi dibawa Belanda ke Indonesia sekitar tahun 1662. Dan daerah Priangan menjadi daerah pertama atau project pilot Belanda dalam upaya budidaya kopi di Nusantara. Maka munculah istilah Prianger Stelsel (tanam paksa di wilayah Priangan). Salah satu daerah penanaman kopi di zaman Preanger Stelsel tersebut adalah wilayah Kampung Pelag yang sekarang ini.

“Tapi jangan kaget dengan harganya. Karena rasanya yang kas ditambah mungkin ada nilai sejarah di dalamnya, Kopi varietas Kampung Pelag dengan nama keren Pelaggio ini harganya selangit, bisa menembus Rp 600 ribu per kg,” ungkapnya.

Kopi jenis arabica ini belum memiliki varietas khusus dan sedang diteliti oleh BALITRI (balai peneliti tanaman industri dan penyegar). Kopi dengan kategori Jagur ini dapat tumbuh dengan baik di ketinggian diatas 700 mdpl. Kopi Arabica Java Preanger memiliki keunggulan yaitu tanpa ada reboisasi dapat tumbuh dan produksi selama 100 tahun.

(Kir ke kanani) Head of Corporate Communication PT Indonesia Power, Rahmi Sukma, Vice President Public Relation PT PLN (Persero), Dwi Suryo Abdullah, dan Direktur Operasi 1 Indonesia Power, M. Hanafi Nur Rifa’i, saat menikmati Kopi Pelagio di Pelagio Cafe, Garut, Jum’at (13/3).

Mitra Binaan

Rahmi menjelaskan, Indonesia Power Kamojang Power Generation O&M Services Unit (Kamojang POMU) bersama mitra binaan Kampung Pelag melakukan budidaya kopi Java Preanger. Budidaya tersebut dengan memanfaatkan lahan milik masyarakat Pelag khususnya Kelompok Sinergi Jaya seluas 35,7 hektar dan lahan milik Perhutani seluas 42,60 hektar. Saat ini, telah menghasilkan 1,2 ton kopi untuk kisaran total hasil per panen.

Asal mula sejarah kerjasama Kampung Pelag dengan Kamojang POMU berangkat dari pemberitaan di sebuah surat kabar nasional tahun 2010 yang mengangkat sebuah berita di Kampung Pelag, yang mayoritas penduduknya buta aksara. Kamojang POMU bergerak menuju ke kampung tersebut untuk meninjau kebenaran berita surat kabar nasional tersebut.

Melalui program CSR Kamojang POMU, dibentuklah suatu program menuju Kampung Pelag Mandiri. Diawali tahun 2011 tahap perintisan untuk memberantas buta aksara dilaksanakan, dilanjutkan tahun 2012 hingga tahun 2014 tahap penguatan dengan pembangunan ruang kelas baru, pembangunan posyandu, rumah pintar, pemberian modal untuk kopi Java Preanger, peningkatan kapabilitas guru, pembentukan koperasi, dan pipanisasi air bersih.

Pada tahap pengembangan di tahun 2015, Kamojang POMU memperbaiki infrastruktur dan komposting. Dilanjutkan tahun 2016 masuk ke tahap pemandirian, Kamojang POMU fokus untuk pemakaian kompos untuk budidaya kopi Java Preanger dan perubahan perilaku & pola pikir masyarakat menuju kampung mandiri.

Di tahun 2017, exit strategy untuk Kampung Pelag adalah Kampung Pelag yang mandiri dari aspek pendidikan, kesehatan, serta ekonomi. Dan pada tahun 2018 penguatan kelembagaan ekonomi berupa pembangunan koperasi Kampung Pelag.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here