Gamil Abdullah.

Jakarta, Petrominer – Efektif 1 Mei 2020, OPEC+ telah memangkas produksinya dengan total komitmen sebesar 9,7 juta barel per hari. Pasar pun merespon positif. Ini terlihat dari lonjakan harga minyak yang signifikan sejak akhir April 2020 lalu.

Setelah reli-reli panjang, Brent menembus angka psikologis 30 dan bertengger di US$ 30,9 per barel (per 6 Mei 2020 pukul 13.00 WIB) dari semula US$ 22,74 per barel (28 April 2020), atau naik 36 persen. Sedangkan WTI, untuk periode yang sama, sampai naik dua kali lipat dari, US$ 12,34 menjadi US$ 24,64 per barel.

Pergerakan harga minyak dunia.

Meskipun begitu, kondisi tersebut masih jauh dari posisi harga di bulan Januari 2020, saat kedua jenis minyak mentah itu masih bertengger di US$60-an per barel.

Setelah Cina mengakhiri lockdown di Wuhan dan seluruh Propinsi Hubei pada 8 April 2020, disusul kemudian beberapa negara Eropa mengendurkan lockdown, ada secercah harapan bahwa perlahan ekonomi mulai menggeliat. Negara-negara Eropa seperti Austria, Bulgaria, Cekoslovakia, Denmark, Finlandia, Jerman, Islandia, Italia, Norwegia, Polandia, Swedia, Spanyol, dan Swiss juga ikut mengendurkan lockdown (CNN, 16 April 2020). Negara-negara ini adalah yang pertama di Eropa menerapkan lockdown dan pembatasan sosial sangat ketat. Sementara Inggris tengah mempertimbangkan untuk mengendurkan lockdown (wired.co.uk, 2 Mei 2020).

Begitu pula di Amerika Serikat, negara bagian Georgia, Oklahoma, Alaska, dan South Carolina telah mengendurkan lockdown. Disusul Colorado, Mississippi, Minnesota, Montana, dan Tennessee. New York berencana akan menyusul (Aljazeera.com, 27 April 2020). Bahkan Donald Trump terkesan sudah tidak sabaran untuk mencabut lockdown karena ekonomi AS yang sudah sedemikian terpukul.

Namun pergerakan harga minyak ke depan masih dibayang-bayangi oleh ketersediaan storage karena pasokan berlebih di bulan April dan pemangkasan produksi yang ditengarai belum mengimbangi turunnya permintaan minyak dunia. Kestabilan harga juga bakal dipengaruhi oleh kontraksi ekonomi global dan ketidakpastian kapan berakhirnya pandemi Covid-19.

“Setelah Brent berhasil bertengger di level US$ 30 per barel, bagaimana proyeksi harga minyak ke depan? Lagi-lagi tergantung kondisi supply-demand dan kapan pandemi Covid-19 berakhir”

Sebetulnya, pemangkasan produksi minyak tidak hanya terjadi di kelompok OPEC+ saja. Rendahnya harga minyak yang ekstrim bulan April 2020 lalu juga telah memaksa beberapa negara non OPEC+ telah mengurangi produksinya, misalnya Amerika Serikat dan Kanada. Hal itu terlihat dari pemakaian rig pengeboran dan kegiatan perekahan hidrolik (hydraulic fracturing) yang turun drastis.

Sementara itu, dari sisi berkurangnya permintaan (demand drops), terdapat estimasi perhitungan yang berbeda-beda dan angkanya pun seringkali jauh beda. Perhitungan International Energy Agency (IEA), rata-rata di Q2-2020 year-on-year permintaan minyak turun sekitar 21,8 juta barel per hari dengan jurang terdalam terajdi bulan April dengan penurunan permintaan sekitar 28,5 juta barel per hari.

Sedangkan menurut perhitungan OPEC, permintaan minyak di Q2-2020 year-on-year turun hanya 11,9 juta barel per hari.

Namun menurut ramalan IEA, permintaan lebih cepat pulih menjelang akhir tahun dibandingkan ramalan OPEC. Meski begitu, permintaan belum kembali ke level 100 juta barel per hari seperti tahun 2019.

Perkiraan permintaan minyak dunia.

Begitu pula dengan pertumbuhan ekonomi dunia di tengah pandemi Covid-19. Terdapat berbagai estimasi yang berbeda. Menurut IMF-World Economic Outlook April 2020, ekonomi global 2020 diproyeksikan berkontraksi tajam hingga -3 % (minus tiga persen) karena tingginya “human cost” akibat pandemi. Negara-negara maju berbasis industri menjadi penyumbang kontraksi ekonomi terbesar. Sedangkan The Economist Intelligence Unit memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia -2,2 %.

Bagaimana dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2020? Juga terdapat estimasi yang berbeda-beda, mulai dari yang optimis sampai pesimis.

Menurut berbagai berita di bulan April, Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi +2,3%. Sementara Standard & Poor’s Global Ratings (S&P), The Economist Intelligence Unit (EIU), dan International Monetary Fund (IMF) masing-masing memproyeksikan pertumbuhan ekonomi +1,8%, +1%, dan +0,5%. Sebetulnya besar-kecilnya angka tidak menentukan optimis atau pesimis, tinggal mana yang lebih realistis.

Setelah Brent berhasil bertengger di level US$ 30 per barel, bagaimana proyeksi harga minyak ke depan? Lagi-lagi tergantung kondisi supply-demand dan kapan pandemi Covid-19 berakhir. Cukup banyak pihak yang merasa optimis bahwa harga minyak akan terus rebounding dan kembali ke level US$ 60 pada tahun 2021.

Mengapa demikian? Sebagaimana diketahui, para operator migas global saat ini telah memangkas belanja modal (capex) dan belanja operasional (opex) pada kisaran 10 sampai 60 persen. Banyak kegiatan eksplorasi dan pengembangan lapangan tertunda, yang berakibat pada ketiadaan tambahan produksi di masa mendatang. Ditambah dengan adanya lapangan-lapangan yang hanya berproduksi menurut baseline. Karena itulah, diperkirakan akan terjadi kekurangan pasokan ketika nanti permintaan pulih.

Bagi Indonesia yang sudah jadi negara net importir minyak sejak tahun 2004 memang bisa serba salah. Jika harga minyak kelewat tinggi, negara membutuhkan lebih banyak devisa untuk mengimpor minyak, nilai Rupiah tertekan, dan beban subsidi meningkat. Sebaliknya, jika harga minyak kelewat rendah, penerimaan negara dari sektor migas akan turun drastis.

Selain itu, intensitas kegiatan eksplorasi dan produksi migas akan menurun karena tidak ekonomis. Sehingga pada akhirnya multiplier effect yang dihasilkan oleh cluster industri hulu migas tidak jalan. Harga minyak di level US$ 60-80 per barel cukup optimal bagi negara seperti Indonesia.

Tak lupa kita panjatkan doa, semoga pandemi Covid-19 segera berlalu agar ekonomi dapat bergulir.

——————————–
Gamil Abdullah
(Praktisi Migas, Anggota IATMI)

Disclaimer: artikel ini merupakan opini pribdi penulis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here