Jakarta, Petrominer – Masyarakat Ketahanan Energi Indonesia (MKEI) mendukung penuh atas inisiatif inisiatif Presiden Prabowo Subianto dalam membentuk Badan Industri Mineral. MKEI juga mengapresiasi penunjukan Brian Yulianto sebagai kepala badan tersebut, yang dilantik di Instana Negara, Senin (25/8).
Ketua Umum MKEI, Awaf Wiraja, mengatakan penunjukan Brian Yuliarto sebagai seseorang yang lekat dengan science and technology akan semakin mendorong perkembangan industri mineral Indonesia. Apalagi, badan baru tersebut akan berfokus pada pengembangan industri logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth minerals.
“Tentunya kami dari MKEI mendukung penuh atas inisiatif Presiden dalam pembentukan lembaga ini. Penggunaan LTJ juga sejalan dengan program prioritas pemerintah dan harapannya bisa mendatangkan kemaslahatan yang sebesar-besarnya untuk rakyat Indonesia,” ungkap Awaf, Selasa (26/8).
Menurutnya, masifnya pengembangan dan pemanfaatan LTJ melalui Badan Industri Mineral ini bisa menjadi pendongkrak pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo. Langkah ini diharapkan juga bakal mendukung beberapa program prioritas seperti ketahanan energi, penguatan pertahanan dan keamanan negara, penguatan pendidikan-sains-teknologi serta melanjutkan hilirisasi dan industrialisasi berbasiskan sumber daya alam.
Saat dilantik sebagai Kepala Badan Industri Mineral, Brian masih merangkap sebagai Mendiktisaintek. Meski begitu, lembaga baru ini tidak berada di bawah naungan Kemendiktisaintek maupun Kementerian ESDM.
“Melihat latar belakang pendidikan beliau (Brian Yuliarto) sebagai seseorang yang lekat dengan science and technology, saya yakin industri mineral Indonesia akan semakin cepat perkembangannya,” tegasnya.
Tabel Periodik LTJ
LTJ adalah sekumpulan 17 unsur kimia yang terdapat pada tabel periodik. Jenis logam ini tidak selangka namanya, namun penemuan logam ini biasanya menyebar dan dalam jumlah yang sedikit. Sektor industri berteknologi tinggi saat ini kerap kali menggunakan LTJ, seperti pada peralatan militer, baterai kendaraan hingga perangkat pemandu rudal nuklir dan industri lainnya. Karena itulah, banyak negara yang mengincar jenis logam ini.

Melansir dari website brin.go.id, ke-17 unsur tersebut terdiri dari lanthanum (La), cerium (Ce), praseodymium (Pr), neodymium (Nd), promethium (Pm), samarium (Sm), europium (Eu), gadolinium (Gd), terbium (Tb), dysprosium (Dy), holmium (Ho), erbium (Er), thulium (Tm), ytterbium (Yb), and lutetium (Lu) termasuk Scandium (Sc) dan Y (Yttrium).
Di Indonesia, potensi LTJ tersebar di berbagai daerah seperti Sibolga, Kepulauan Riau, Ketapang, Mamuju dan Papua Barat. Berdasarkan data tahun 2019, terdapat paling tidak 28 lokasi potensi LTJ dan baru 30 persennya saja yang sudah dilakukan eksplorasi awal.
Mengutip dari website narotama.ac.id, ada potensi di daerah Bangka Belitung (186.663 ton monasit dan 20.734 senotim), dalam bentuk lateri (Sulawesi Tengah 443 ton, Kalimantan Barat 219 ton dan Sumatera Utara 19.917 ton). Kemudian hasil penyelidikan Badan Geologi, Kementerian ESDM, di lumpur Lapindo terdapat LTJ jenis Serium dan Mineral Kritis pada jenis Lhitium dan Stronsium.









Tinggalkan Balasan