Jaringan transmisi listrik Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 275 kilo Volt (kV) (Tol Listriki) yang membentang antara Payakumbuh hingga Padang Sidempuan, Sumatera Barat.

Jakarta, Petrominer – Pemerintah memastikan pembangunan pembangkit listrik Energi Baru Terbarukan (EBT) dapat dilakukan tanpa harus menunggu perubahan Rencana Usaha Penyediaan tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero). Ini sebagai upaya untuk meningkatkan pemanfaatan EBT dalam bauran energi pembangkit listrik.

“Ini untuk mendorong agar pembangunan pembangkit EBT lebih cepat. Tambahan pembangkit EBT tidak perlu perencanaannya masuk RUPTL. Kalau PLN setuju, bisa dimasukkan ke RUPTL selanjutnya,” ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, saat menyampaikan RUPTL PLN 2019-2028, Rabu (20/2).

Dengan begitu, jelas Jonan, pembangunan pembangkit listrik EBT di luar yang ada di RUPTL PLN 2019-2028 dapat dilakukan tanpa harus menunggu perubahan RUPTL, selama sistemnya memadai.

Menteri ESDM telah mengesahkan RUPTL PLN 2019-2028. Hal itu tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 39 K/20/MEM/2019, tanggal 20 Februari 2019.

Direktur Utama PLN menyampaikan permohonan pengesahan RUPTL PLN 2019-2028 kepada Menteri ESDM pada 14 Pebruari 2019 lalu. Ini sebagai perubahan terhadap RUPTL PLN 2018-2027. Permintaan pengesahan tersebut sesuai dengan ketentuan Pasal 14 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2012 tentang Kegiatan Usaha Penyediaan Tenaga Listrik dimana RUPTL disahkan oleh Menteri ESDM.

Dalam RUPTL PLN 2019-2028, penambahan infrastruktur ketenagalistrikan yang direncanakan dibangun sampai dengan tahun 2028 adalah: pembangkit tenaga listrik sebesar 56.395 MW, jaringan transmisi sepanjang 57.293 kms, gardu induk sebesar 124.341 MVA, jaringan distribusi sepanjang 472.795 kms, dan gardu distribusi sebesar 33.730 MVA.

Khusus untuk pembangkit tenaga listrik, beberapa proyek mengalami perubahan lingkup atau kapasitas, dan pergeseran tanggal operasi komersial atau Commercial Operation Date (COD). Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan pertumbuhan listrik. Namun demikian, sebagai upaya untuk meningkatkan keandalan sistem, dalam RUPTL ini juga terdapat tambahan beberapa proyek baru.

Melalui RUPTL PLN 2019-2028, Kementerian ESDM menginstruksikan kepada PLN agar terus mendorong pengembangan EBT. Target penambahan pembangkit listrik dari EBT adalah sebesar 16.714 MW untuk mencapai target bauran EBT minimum 23 persen pada tahun 2025 dan seterusnya.

“Jadi ini kita dorong terutama EBT supaya bisa lebih cepat, karena ada UU yang mewajibkan bahwa 23 persen dari bauran energi itu harus dari EBT di tahun 2025,” ujar Jonan.

Selain itu, penggunaan teknologi pembangkit listrik yang ramah lingkungan terus didorong pemanfaatannya. Hal ini dilakukan antara lain dengan mendorong penerapan teknologi PLTU Clean Coal Technology (CCT).

Kementerian ESDM juga menginstruksikan kepada PLN agar bauran energi dari gas dijaga sebesar minimum 22 persen pada tahun 2025 dan seterusnya, guna mendukung integrasi pembangkit EBT yang bersifat intermittent (Variable Renewable Energy).

Pemerintah juga berkomitmen bahwa pemanfaatan gas untuk pembangkit listrik memprioritaskan gas di mulut sumur (wellhead). Terkait penggunaan BBM untuk pembangkit listrik, dibatasi maksimal 0,4 persen mulai tahun 2025 yang digunakan hanya untuk daerah perdesaan dan kawasan 3T (Terdepan, Tertinggal, dan Terluar).

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here