Jakarta – Tak terbantahkan, cadangan minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia kian merosot. Namun dengan situasi itu, justru ada harapan dari kawasan timur Indonesia.
Di kawasan timur tersebut, potensi sumber daya migas sangat menjanjikan dan siap untuk dieksplorasi. Meski begitu, tetap saja bakal ada halangannya. Karena itu, harus dipastikan bahwa kegiatan pencarian migas di kawasan tersebut dapat berjalan sesuai harapan.
Ahli geologi membagi kawasan geologi Indonesia berdasarkan kondisi geologi bawah permukaan dan sejarah kegiatan eksplorasi. Berdasarkan dua hal tersebut, kawasan timur dimulai dari Selat Makassar sampai ujung timur Indonesia. Sementara kawasan barat berada di lokasi sebaliknya.
Kegiatan eksplorasi dan produksi migas di kawasan barat sudah dilakukan sejak masa kolonial Belanda. Kegiatan di wilayah ini relatif lebih mudah karena secara umum lokasi cadangannya berada pada kedalaman dangkal dan infrastruktur yang mendukung juga sudah tersedia. Namun di sisi lainnya, cekungannya tergolong mature sehingga sulit mengharapkan temuan baru yang besar dari kawasan ini.
Saat ini, semua praktisi hulu migas melirik ke kawasan timur Indonesia. Meskipun kegiatan eksplorasi di kawasan tersebut masih minim, namun potensi adanya penemuan cadangan migas yang besar dan sangat signifikan.

Beberapa contoh penemuan cadangan besar di kawasan tersebut adalah Lapangan Jangkrik di Selat Makassar, Lapangan Abadi di Laut Arafuru, dan enam lapangan yang memasok gas untuk proyek Tangguh LNG di Papua Barat.
Data menunjukkan bahwa cadangan migas terbukti di kawasan timur Indonesia mencapai 1,8 miliar barel setara minyak atau barrel oil equivalent (BOE). Sedangkan sumber daya migas yang belum terbukti diperkirakan sekitar 11,7 miliar BOE.
Dengan kedua data ini, potensi sumber daya yang belum teridentifikasi di wilayah timur diperkirakan jauh lebih besar dari itu.
Terlepas dari potensi yang menjanjikan tersebut, eksplorasi migas di kawasan timur juga penuh tantangan. Seperti kompleksitas struktur, minimnya data, dan yang paling utama adalah lokasinya terpencil sehingga lebih menyulitkan untuk kegiatan operasi.
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) telah melakukan berbagai upaya untuk mendorong kegiatan eksplorasi yang sudah lama terkonsentrasi di kawasan barat untuk bergerak ke timur. Berbagai upaya, seperti workshop, studi, dan pendekatan persuasif kepada para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKS) telah dilakukan untuk mendorong eksplorasi di kawasan timur.
Dalam tiga tahun terakhir, Divisi Eksplorasi SKK Migas juga telah melakukan join studi dengan Kontraktor KKS, perguruan tinggi, dan mitra lainnya untuk mempelajari konsep geologi kawasan timur Indonesia. Tujuan dari studi ini adalah menyusun konsep geologi baru, lengkap dengan detail pembahasan seluruh aspek petroleum system, bagi kawasan timur.
Studi ini akan dibukukan dalam satu memoar yang akan menjadi panduan untuk mengurangi risiko-risiko eksplorasi di kawasan timur.
Upaya ini tentu perlu didukung oleh semua pemangku kepentingan karena kendala eksplorasi tidak melulu persoalan teknis. Bahkan SKK Migas mencatat bahwa tantangan yang mendominasi eksplorasi saat ini justru dari aspek nonteknis, seperti perizinan, penolakan masyarakan, dan lain-lain.
Kawasan timur tidak hanya menjanjikan peluang, juga mengandung risiko dengan segala kompleksitas teknis di dalamnya. Butuh investor dengan kemampuan dana yang kuat dan mampu menanggung risiko besar untuk melakukan pencarian migas di cekungan-cekungan dalam kawasan tersebut. Seluruh pemangku kepentingan perlu menyadarinya, sehingga dapat bersinergi menciptakan iklim investasi yang kondusif.
Urgensi dukungan bersama ini semakin menguat di tengah harga minyak dunia yang tidak bersahabat. Dalam acara the 41st Indonesian Petroleum Association (IPA) Convention and Exhibition yang berlangsung di Jakarta Convention Centre (JCC) bulan Mei 2017 lalu, para pelaku industri kembali menekankan pentingnya iklim investasi yang kondusif di Indonesia.
Presiden IPA Christina Verchere mengatakan, saat ini perusahaan migas di seluruh dunia bergerak di tengah keterbatasan modal investasi akibat rendahnya harga minyak dunia. Perusahaan-perusahaan pun merespons hal ini dengan menyesuaikan rencana investasi mereka. Saat ini, seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia, berkompetisi untuk menarik investasi untuk menemukan cadangan di wilayah-wilayah yang lebih terpencil dan menantang secara teknis.
“Daya saing, efisiensi, dan reformasi regulasi merupakan kata kunci untuk menarik investasi di masa depan,” ujar Christina.
Kawasan timur Indonesia menyediakan potensi migas. Namun bisa tidaknya potensi ini dimanfaatkan sangat tergantung apakah semua elemen di Indonesia mampu bekerja sama memperkuat daya saing Indonesia dalam menarik investasi. (Adv)










Tinggalkan Balasan