Masalah pengelolaan sampah harus ditangani oleh pihak-pihak yang berkompeten dengan sampah sehingga hasilnya memuaskan. Salah satunya adalah potensi untuk diolah menjadi listrik.

Jakarta, Petrominer – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mendorong upaya penyediaan energi terbarukan berbasis biomassa setempat. Salah satunya dengan terlibat aktif dalam usaha percepatan pembangunan Pembangunan Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).

“Kebijakan ini, selain tercipta penyediaan energi listrik secara terjangkau, juga sekaligus dapat memperbaiki kualitas lingkungan,” kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM, Agung Pribadi, Jum’at (19/7).

Menurut Agung, semangat dari pembangunan PLTSa ini tidak hanya terletak pada urusan penyediaan listrik semata. Pemerintah bertekad membenahi manajemen sampah demi menciptakan lingkungan yang sehat.

“Dukungan dari Kementerian ESDM berupa implementasi program waste to energy. Membangun PLTSa bertujuan untuk membersihkan sampah itu sendiri. Sementara nilai ekonomi dari listrik yang dihasilkan adalah bonus yang patut disyukuri,” tegasnya.

Sampai tahun 2022, Kementerian ESDM berkomitmen mendorong percepatan pembangunan 12 PLTSa hingga beroperasi. Sesuai rencana, ke-12 pembangkit tersebut akan mampu menghasilkan listrik hingga 234 Megawatt (MW) dari sekitar 16 ribu ton sampah per hari.

Kot Surabaya akan menjadi kota pertama yang mengoperasikan pembangkit listik berbasis biomassa tersebut. Pembangkit berkapasitas 10 MW akan ditopong oleh volume sampah sebesar 1.500 ton/hari. Nilai investasi diperkirakan mencapai US$ 49,86 juta.

Lokasi PLTSa kedua berada di Bekasi. PLTSa tersebut punya investasi US$ 120 juta dengan daya 9 MW. Selanjutnya, ada tiga pembangkit sampah yang berlokasi di Surakarta (10 MW), Palembang (20 MW) dan Denpasar (20 MW). Total investasi untuk menghasilkan setrum dari tiga lokasi yang mengelola sampah sebanyak 2.800 ton/hari itu mencapai US$ 297,82 juta.

Lokasi lainnya, DKI Jakarta sebesar 38 MW dengan investasi US$ 345,8 juta, Bandung (29 MW – US$ 245 juta), Makassar, Manado dan Tangerang Selatan dengan masing-masing kapasitas sebesar 20 MW dan investasi US$ 120 juta.

12 lokasi Pembangkit Listrik Sampah Kota yang siap beroperasi sampai tahun 2022.

Dari 12 usulan pembangunan PLTSa tersebut, empat di antaranya memiliki perkembangan yang cukup baik dan menunggu penyelesaian di tahun ini diantaranya Surabaya, DKI Jakarta, Bekasi, dan Solo. Bahkan, pembangunan PLTSa di kota-kota tersebut dimonitor langsung oleh Presiden Joko Widodo.

“Betul, kota-kota tadi termasuk di Bali menjadi prioritas utama penanganan sampah di bawah pengawasan Bapak Presiden. Kehadiran PLTSa turut membantu mencipatkan lingkungan hidup yang berkelanjutan sesuai Nawacita Pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla,” ujar Agung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here