Foto bersama peserta acara diskusi dan media gathering SKK Migas - Petronas di Surabaya, Rabu (9/11).

Surabaya, Petrominer – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mendorong Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk memperkuat sinergi dengan media massa guna menghadapi peluang dan tantangan di masa mendatang. Apalagi, media massa memiliki peran dan fungsi penting untuk mengawal industri hulu migas di Indonesia.

Demikian disampaikan oleh Kepala Departemen Komunikasi SKK Migas Wilayah Jawa Bali dan Nusa Tenggara (Jabanusa), Indra Zulkarnain, dalam acara diskusi dan media gathering dengan para pimpinan redaksi media dari Surabaya, Gresik dan Madura, yang digelar bersama Petronas, Rabu (9/11).

Indra menegaskan, SKK Migas Jabanusa mendorong semua pihak, terutama KKKS untuk senantiasa menjalin hubungan mutualisme dengan media massa.

“Kami butuh media agar masyarakat mengetahui kinerja kami. Masyarakat harus tahu keberhasilan KKKS adalah keberhasilan semua stakeholder dengan target 1 juta barel minyak per hari. Kami butuh media untuk memberitakan kami secara positif,” ungkapnya.

Selama ini, menurut Indra, SKK Migas Jabanusa melakukan pemantauan terhadap pemberitaan media massa setiap hari. Mayoritas berita yang tayang positif dan berita negatif tidak banyak.

Alhamdulillah, berita negatif kurang dari 2 persen. Kami sangat mengucapkan terimakasih atas dukungannya media,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Indra mengingatkan bahwa ke depan banyak ikhtiar untuk menguatkan energi terbarukan. Namun, Indonesia belum bisa meninggalkan energi fosil. Apalagi, pada tahun 2030, Pemerintah menargetkan produksi 1 juta barel minyak per hari.

“Kami jawab tantangan itu dengan kerja keras. Dan target drilling kami naik dibandingkan tahun sebelumnya. Harapannya bisa menemukan cadangan baru dan menambah produksi. Perlu kami sampaikan kita yang bekerja di hulu migas optimis target dan mimpi ini akan tercapai,” katanya.

Kuncinya, menurut Indra, para pelaku industri hulu migas tidak alergi dengan media massa. Apalagi di era informasi seterbuka sekarang.

“Bahkan media massa arus utama sangat penting untuk mengonfirmasi atau membantah kabar-kabar yang muncul secara liar di media sosial. Kehadiran media massa sangat dibutuhkan pada situasi saat ini,” tegasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro, yang menjadi narasumber dalam acara diskusi. Materi yang dibawakan terkait outlook industri hulu migas tahun 2023 membuat terpesona para awak media Jawa Timur.

Menurut Komaidi, salah satu tantangan yang dihadapi industri migas saat ini adalah krisis di Eropa. Krisis geopolitik Rusia – Ukraina yang memicu sanksi  dari Uni Eropa dan AS terhadap Rusia menyebabkan terganggunya faktor fundamental  supply – demand.

Di Indonesia, menurutnya, banyak potensi migas yang perlu mendapat perhatian. Terhitung sejak akhir tahun 2021, terdapat 128 basin, 68 di antaranya un-drilled atau belum dibor.

“Sekitar 70 persen wilayah kerja migas produksi telah  mengalami penurunan produksi alamiah. Sementara biaya produksi dan pemeliharaan mature field terus meningkat sejalan dengan  penurunan kemampuan produksinya,” kata Komaidi.

Saat ini, sekitar 52 persen atau 40 WK migas produksi merupakan mature field. Sebanyak 36 WK berumur 25-50 tahun dan 4 WK berumur lebih dari 50 tahun. Riset Inter-American Development Bank (IDB)  tahun 2020 menemukan bahwa pemberian insentif  untuk mature field dapat menambah umur  keekonomian proyek rata-rata 30 tahun.

“Perbaikan fiskal dan  insentif masih  diperlukan untuk  meningkatkan investasi  migas ke depan dalam  mencapai target 1 juta BOPD minyak dan  12 BCFD gas di tahun  2030,” ungkapnya.

Namun ternyata iklim investasi migas di Indonesia dianggap kurang menarik. Indeks Kemudahan Melakukan Bisnis Tahun 2020 yang dirilis World Bank menempatkan Indonesia di peringkat 73 dari 190 negara, dan Malaysia di peringkat 12, Meksiko 60, Brazil 124, Nigeria 132, dan Venezuela 188. Survei Fraser Institute Global Petroleum tahun 2018 menempatkan Indonesia di 10 jurisdiksi yang paling tidak menarik untuk investasi, yakni peringkat ke 71 dari 80 jurisdiksi, di bawah Nigeria.

“Dalam kondisi seperti ini peran pers menjadi sangat krusial. Media massa berperan penting memberikan citra positif terhadap industri migas Indonesia. Media massa bisa dikatakan jendela atau etalase informasi bagi dunia untuk melihat bagaimana industri migas berjalan selama ini,” ujar Komaidi.

Liputan Positif

Dalam kesempatan yang sama, Sr. Strategic & Business Planning Manager Petronas, M. Ezmeer B A Rahman, yang mewakili President Director Petronas Indonesia, Yuzaini Md Yusof, mengatakan bawah acara ini diadakan dengan tujuan untuk memperkuat silaturahmi yang telah terjalin.

“Selain itu, juga untuk mengapresiasi kerja keras dari rekan-rekan media sebagai mitra dari industri hulu migas dalam penyampaian informasi mengenai kegiatan bisnis secara faktual, andal, nyata, dan lugas,” kata Rahman.

Menurutnya, Petronas sudah memperoleh manfaat dari relasi kerja sama yang baik dengan media massa. Terdapat sekitar 50 topik pemberitaan mengenai kegiatan Petronas di Indonesia dalam kurun waktu dua tahun terjalin.

“Pada tahun ini, terdapat beberapa pencapaian bisnis Petronas Indonesia yang diliput oleh media baik dalam skala nasional maupun lokal,” ujar Rahman.

Salah satunya adalah peresmian produksi pertama proyek Bukit Tua Fase-2B dan penandatanganan Kontrak Kerja Sama untuk Wilayah Kerja North Ketapang pada Juni 2022.

“Liputan positif seperti ini dapat memberikan dampak signifikan terhadap pemberitaan industri hulu migas secara keseluruhan yang tentunya akan menunjang kegiatan operasi di Wilayah Kerja masing-masing pelaku industri,” tegasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here