
Tangerang, Petrominer — Kegagalan tidak selalu menjadi akhir dari sebuah usaha. Bagi Suyanto, petani dari Desa Tampang Baru, Bayung Lencir, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, keterpurukan justru menjadi titik balik untuk membangun kembali usaha pertanian bersama Kelompok Tani Sumpal Palawija Makmur.
Suyanto mengaku pernah mengalami kegagalan dalam budidaya palawija. Keterbatasan modal, minimnya pengetahuan teknis, hingga akses pemasaran yang terbatas membuat hasil usaha kelompok tani yang dikelolanya belum optimal.
Namun, kondisi tersebut tidak membuat Suyanto dan anggota Kelompok Tani Sumpa Palawija Makmur menyerah. Melalui pendampingan Program Local Business Development (LBD) Medco E&P Grissik, kelompok tani yang beranggotakan delapan petani itu perlahan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memperluas pasar.
Hasilnya cukup signifikan. Pada tahun 2025, Kelompok Tani Sumpal Palawija Makmur mampu membukukan pendapatan sekitar Rp90 juta dan memasarkan sebanyak 23 ton semangka ke luar daerah.
“Capaian ini diraih melalui pendampingan Program Local Business Development (LBD) Medco E&P Grissik,” kata Suyanto saat mengenang kondisi kelompoknya empat tahun lalu.
Menurutnya, pendampingan tersebut memberikan perubahan nyata bagi para petani. Mereka tidak hanya mendapatkan dukungan sarana produksi, tetapi juga pemahaman mengenai teknik budidaya yang lebih baik serta akses pasar yang lebih luas.
“Sebelumnya kami pernah terpuruk karena hasil panen belum optimal. Setelah pendampingan dari MedcoEnergi, kami lebih memahami budidaya yang baik, hasil panen meningkat, dan pasar semakin luas. Program ini membantu kami bangkit dan percaya diri untuk mengembangkan usaha,” ujar Suyanto dalam diskusi di booth MedcoEnergi pada ajang IPA Convex 2026, Rabu (20/5).
Dampak Nyata
Manager Field Relations & Community Enhancement Corridor Asset Medco E&P Grissik, Sudewo, mengatakan kisah Kelompok Tani Sumpal Palawija Makmur menjadi salah satu contoh dampak program pengembangan masyarakat yang dijalankan perusahaan di sekitar wilayah operasi.
“Kami melihat kelompok ini memiliki potensi besar untuk terus berkembang dan menjadi contoh penguatan ekonomi lokal di sekitar area operasi,” ujar Sudewo.
Menurutnya, program tersebut dirancang untuk mendorong keberlanjutan dan kemandirian masyarakat, bukan menciptakan ketergantungan terhadap bantuan.
Program LBD dijalankan secara bertahap sejak tahun 2023 untuk menjawab sejumlah persoalan yang sebelumnya dihadapi petani. Tantangan tersebut antara lain keterbatasan modal, rendahnya produktivitas, minimnya pengetahuan teknis budidaya, dan belum optimalnya jaringan pemasaran.
Sebagai Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang beroperasi di Blok Corridor, Medco E&P Grissik memberikan dukungan melalui pendampingan teknis, penyediaan sarana produksi, serta fasilitasi akses pemasaran. Melalui program tersebut, pemberdayaan masyarakat diarahkan tidak sekadar memberikan bantuan, tetapi juga membangun kapasitas petani agar mampu mengelola usaha secara mandiri dan berkelanjutan.
Dalam pelaksanaannya, MedcoEnergi bersama Plantari mendampingi delapan anggota Kelompok Tani Sumpal Palawija Makmur. Pendampingan mencakup distribusi benih dan pupuk, pengelolaan lahan, pemilihan varietas, teknik pemupukan, pengendalian hama ramah lingkungan, serta penguatan kemitraan pemasaran.
“Para petani dilatih kembali dari dasar. Mereka diajarkan cara menguji keasaman tanah, memilih varietas benih unggul yang adaptif dengan iklim lokal, teknik pemupukan yang presisi, hingga menerapkan sistem pengendalian hama yang ramah lingkungan,” jelas Sudewo.
Selain meningkatkan kemampuan teknis, MedcoEnergi juga membantu menjawab persoalan pemasaran yang selama ini menjadi salah satu kendala petani. Perusahaan memfasilitasi kelompok tani untuk terhubung dengan jaringan mitra penampung skala besar sehingga pemasaran produk dapat diperluas hingga ke luar daerah.
Pendampingan tersebut turut tercermin dari perkembangan pendapatan kelompok tani. Sebelum program berjalan, kelompok mengalami kerugian pada 2022. Setelah mendapatkan pendampingan, pendapatan meningkat menjadi sekitar Rp4 juta pada 2023, kemudian Rp15 juta pada 2024, dan melonjak menjadi sekitar Rp90 juta pada 2025.
“Bahkan produksi mereka tahun lalu sebanyak 23 ton semangka mampu dipasarkan hingga ke luar kabupaten. Keberhasilan ini menunjukkan program pengembangan masyarakat yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan dampak ekonomi nyata,” kata Sudewo.

Memperkuat Kemandirian
MedcoEnergi menyatakan akan terus mendukung program pengembangan masyarakat yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi lokal. Penguatan usaha masyarakat di sekitar wilayah operasi diarahkan untuk meningkatkan kemandirian, daya saing, dan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.
Komitmen tersebut sejalan dengan kebijakan keberlanjutan dan pengembangan masyarakat MedcoEnergi, khususnya dalam penguatan ekonomi lokal, peningkatan kapasitas usaha, dan pembentukan masyarakat yang mandiri.
Direktur Utama MedcoEnergi, Hilmi Panigoro, mengatakan perusahaan menyadari pentingnya menciptakan nilai bersama bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Sesuai kebijakan keberlanjutan dan pengembangan masyarakat, MedcoEnergi menjalankan berbagai inisiatif strategis untuk memperkuat kapasitas lokal, mendukung kemandirian masyarakat, serta berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan dalam jangka panjang.
“Bagi MedcoEnergi, pertumbuhan perusahaan berjalan seiring dengan penguatan masyarakat di sekitarnya. Melalui pengembangan kapasitas lokal dan pemberdayaan ekonomi, kami memperkuat fondasi sosial yang menopang keberlanjutan jangka panjang,” ujar Hilmi.
Menurutnya, komitmen tersebut menjadi bagian integral dari upaya MedcoEnergi mewujudkan pertumbuhan yang berkelanjutan.









Tinggalkan Balasan