, ,

Listrik PLN Terangi 4 Desa di Timor Tengah Selatan

Posted by

Jakarta, Petrominer – Melalui program listrik desa, PT PLN (Persero) kembali berhasil melakukan penyambungan listrik di daerah yang sulit dijangkau melalui program listrik desa. Akses jalan yang sulit dan berlumpur tidak menyurutkan semangat para petugas PLN untuk melistriki daerah-daerah terpencil tersebut.

Kali ini, 900 warga di empat desa Kecamatan Kokbaun, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah dapat menikmati listrik PLN. Keempat desa tersebut adalah Desa Niti, Desa Sabnala, Desa Koloto, dan Desa Lotas.

“Kami terus berkomitmen untuk menghadirkan listrik hingga ke seluruh pelosok tanah air. Listrik untuk semua,” tutur General Manager PLN Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Agustinus Jatmiko, Minggu (12/7).

Agustinus menjelaskan, untuk mengalirkan listrik ke empat desa tersebut, PLN membangun Jaringan Tegangan Menengah (JTM) sepanjang 14 kms (kilometer sirkit), Jaringan Tegangan Rendah (JTR) 21 kms, dan 5 buah gardu dengan total kapasitas 250 kilo Volt Ampere (kVA).

“Akses jalan yang berlumpur, serta medan berat berhasil dilalui dalam proses pembangunan jaringan listrik ke Kecamatan Kokbaun,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, menurut Agustinus, terkadang petugas PLN harus berputar lewat jalur lintas selatan melewati Kabupaten Malaka. Hal tersebut tidak menjadi hambatan namun justru dijadikan tantangan dengan semangat energi optimisme untuk menerangi Nusantara.

Camat Kokbaun, Wilgo Nenometa, berharap kehadiran listrik dapat membuat warga lebih produktif dan meningkatkan perekonomiannya. Warga juga bisa lebih hemat dalam pengeluaran setiap bulannya.

“Warga bisa lebih hemat, karena sebelumnya warga mengunakan lampu pelita untuk penerangan di malam hari, dengan biaya setiap bulan sekitar Rp 100.000. Namun sejak listrik menyala, warga membeli token Rp 50.000 dan sampai sekarang belum beli lagi token,” ujar Wilgo.

Begitu juga bagi rumah ibadah. Untuk kegiatan ibadat Gereja, biasanya membeli BBM di Betun Rp 200.000 per bulan. “Namun kini, beli token Rp 200.000 belum habis digunakan,” ungkapnya.

Bupati Timor Tengah Selatan, Egusem Pieter Tahun, berharap masyarakat ikut serta menjaga aset milik PLN agar listriknya tetap menyala.

“Kalau ada pohon di bawah jaringan, harus sering dirabas agar tidak mengganggu aliran listrik. Kalau ada gangguan lapor ke PLN, jangan diperbaiki sendiri karena berbahaya,” ujar Egusem.

Hingga saat ini, rasio desa berlistrik Kabupaten Timor Tengah Selatan telah mencapai 96,04 persen. Sementara desa berlistrik di Provinsi NTT mencapai 94,09 persen hingga Juni 2020.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *