, ,

Listrik 24 Jam Membuka Jalan Cita-Cita Anak Desa Patialo

Posted by

–

Mandailing Natal, Petrominer – Di balik perbukitan sekitar tujuh kilometer dari jalan utama Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, 108 kepala keluarga di Desa Patialo bertahun-tahun menjalani malam dengan penerangan seadanya. Ketika matahari tenggelam, lampu teplok dan pelita menjadi sumber cahaya untuk meneruskan aktivitas yang belum selesai.

Bagi anak-anak, malam berarti belajar dengan cahaya yang terbatas. Ini, seolah-olah menjadi batas bagi banyak cita-cita mereka.

Bagi guru mengaji, minyak tanah menjadi penentu apakah kegiatan belajar masih bisa dilanjutkan. Sementara bagi mereka yang memiliki mimpi lebih jauh, keterbatasan listrik dan jaringan komunikasi membuat perjalanan menuju cita-cita menjadi lebih berat.

Asmaul Husna adalah salah satunya.

Putri asli Patialo itu berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Namun, sebelum berangkat ke negeri yang berjarak ribuan kilometer dari kampung halamannya, Husna harus melewati satu tantangan yang bagi banyak orang mungkin sederhana, yakni belajar dari rumah.

Keterbatasan itu tidak membuat Husna menyerah. Dia terus belajar hingga akhirnya berhasil meraih kesempatan menempuh pendidikan di Al-Azhar.

Namun, kisah Husna bukan satu-satunya cerita tentang bagaimana keterbatasan penerangan pernah membatasi aktivitas warga Patialo.

Nurlina Lubis, guru ngaji di desa tersebut, masih mengingat bagaimana anak-anak harus belajar mengaji ditemani nyala lampu teplok. Cahaya yang redup menjadi penerang sekaligus penanda bahwa kegiatan belajar tidak selalu bisa berlangsung lama.

“Dulu ngaji di sini pakai lampu teplok. Kalau minyak tanah habis, anak-anak jadi tidak bisa mengaji lagi. Mereka sedih,” ujar Nurlina.

Kini, Mulai Berubah

Melalui program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) Pemerintah melalui Kementerian ESDM, Desa Patialo resmi menikmati aliran listrik PLN selama 24 jam. Bagi warga, kehadiran listrik bukan sekadar perubahan dari gelap menjadi terang, melainkan perubahan dalam cara mereka menjalani hari.

Rumah-rumah yang sebelumnya bergantung pada penerangan terbatas kini memiliki akses listrik sepanjang waktu. Anak-anak mempunyai ruang belajar yang lebih leluasa, kegiatan masyarakat dapat berlangsung lebih panjang, dan peluang untuk mengembangkan usaha lokal terbuka lebih besar.

Bagi M. Jamil Lubis, pekebun kayu manis di Patialo, masuknya listrik PLN membuat desanya merasakan manfaat pembangunan yang selama ini dinantikan. Dia menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah dan PLN.

“Sebagai warga Desa Patialo, saya mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah yang telah membantu sehingga listrik PLN bisa masuk ke desa kami,” ujar Jamil.

Perubahan tersebut juga menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal. Bupati Mandailing Natal, Saipullah Nasution, menilai tersedianya listrik yang stabil memberi masyarakat ruang untuk mulai merencanakan pengembangan ekonomi dan potensi desa.

Bagi PLN, menghadirkan listrik ke wilayah seperti Patialo bukanlah pekerjaan sederhana. Kondisi geografis berupa perbukitan dan keterbatasan akses menjadi tantangan tersendiri dalam membangun jaringan distribusi.

Direktur Distribusi PLN, Arsyadany Ghana Akmalaputri, mengatakan kondisi tersebut tidak menjadi alasan untuk menghentikan perluasan akses listrik.

“Membangun jaringan distribusi di wilayah seperti Desa Patialo adalah wujud komitmen PLN untuk hadir di tengah masyarakat. Medan berbukit dan akses jalan yang terbatas tidak menjadi penghalang, melainkan pendorong bagi seluruh personel PLN untuk memberikan upaya terbaik dan perencanaan teknis yang matang,” ujar Arsyadany.

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menempatkan akses listrik sebagai bagian penting dari pembangunan masyarakat. Menurut dia, listrik tidak hanya berkaitan dengan penerangan, tetapi juga membuka akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, kegiatan ekonomi, dan berbagai aktivitas produktif lainnya.

Kehadiran listrik di Patialo pun membawa makna yang berbeda bagi setiap warga. Bagi Jamil, listrik berarti kesempatan bagi desa untuk bergerak lebih maju. Bagi Nurlina, berarti anak-anak dapat belajar mengaji tanpa lagi bergantung pada minyak tanah.

Bagi Husna, mungkin maknanya lebih jauh lagi, yakni sebuah pengingat bahwa cahaya yang sederhana dapat membantu seseorang menempuh perjalanan yang luar biasa jauh.

Dari sebuah desa di lembah Mandailing, nyala listrik kini tidak hanya menerangi rumah-rumah warga. Ia membuka waktu yang lebih panjang untuk belajar, bekerja, beribadah, dan membangun kehidupan.

Dan bagi anak-anak Patialo, ketika malam tidak lagi menjadi batas, cita-cita pun memiliki ruang yang lebih luas untuk tumbuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *