, , ,

Krisis Hormuz Ancam Asia, Transisi Energi Bersih Perlu Dikebut

Posted by

Jakarta, Petrominer – Krisis energi global akibat konflik di Iran dan terganggunya jalur distribusi energi dunia karena penutupan Selat Hormuz menunjukkan betapa rentannya negara-negara di Asia, termasuk Indonesia. Percepatan transisi menuju energi bersih dipandang sebagai langkah strategis yang harus dilakukan. Selain untuk melindungi ekonomi domestik dari lonjakan harga energi global, upaya ini sekaligus memperkuat keamanan energi jangka panjang. 

Menurut Komisi Transisi Energi (Energy Transitions Commission/ETC), perbedaan utama antara krisis energi kali ini dan krisis sebelumnya terletak pada upaya pemerintah di berbagai negara dalam menyiapkan sistem energi alternatif yang mudah diterapkan. Negara-negara Asia pun diingatkan agar mengambil respon cepat dalam menghadapi krisis energi saat ini.

Dalam laporan terbarunya bertajuk “Lessons on Energy Security after the Hormuz Crisis: How Accelerating the Clean Energy Transition Builds Resilience Against Future Price Shocks,” yang diperole PETROMINER, Jum’at (15/5), ETC menegaskan bahwa mempercepat penerapan energi alternatif dapat mengurangi permintaan minyak dan gas lebih dari 20 persen pada tahun 2035.

Ini tercermin dari kebijakan Pemerintah Spanyol, yang menerapkan 57 persen energi terbarukan untuk sistem kelistrikan, hanya terkena dampak paling rendah di Uni Eropa dengan kenaikan harga US$ 50 per megawatt-hour (MWh). Sementara negara lainnya seperti Singapura dengan pembangkit listrik yang 95 persen bergantung pada gas, menghadapi tekanan harga yang tinggi, hingga di atas US$ 200 per MWh.

“Krisis saat ini menunjukkan bahwa ketergantungan bahan bakar fosil tidak hanya merupakan risiko iklim tetapi juga kerentanan ekonomi dan strategis. Sistem energi bersih lebih terdistribusi, lebih efisien dan kurang terpapar guncangan harga yang diciptakan oleh ketergantungan terus menerus pada bahan bakar yang diperdagangkan,” kata Co-Chair ETC, Adair Turner.

Selat Hormuz menjadi titik hambatan energi paling penting di dunia.

Krisis energi saat ini menyebabkan efek paling besar bagi negara berkembang dan negara yang bergantung pada impor. Laporan ini mencatat, penutupan Selat Hormuz telah mengganggu pengiriman 18,4 juta barel minyak per hari, dan 110 miliar meter kubik LNG per hari.

“Sekitar 84 persen minyak mentah dan lebih dari 80 persen LNG yang transit di Hormuz ditujukan untuk pasar Asia,” tulis laporan ETC.

Harga minyak acuan Asia naik dari sekitar US$ 70 per barel menjadi US$ 90-120 per barel pada Maret 2026. Sementara harga LNG naik dari sekitar US$ 10-12 per MMBtu sebelum krisis menjadi di atas US$ 25 per MMBtu. Harga minyak dan gas yang lebih tinggi langsung masuk ke transportasi, makanan, energi rumah tangga dan biaya industri.

“Selama beberapa dekade kami telah membangun sistem energi yang boros, tidak aman, dan mudah berubah. Tiga perempat populasi dunia bergantung pada bahan bakar yang tidak mereka kendalikan, dihargai di pasar yang tidak mereka pengaruhi, rentan terhadap guncangan yang tidak dapat mereka cegah. Pertanyaan yang menentukan sekarang adalah apakah pemerintah bertindak untuk membangun sistem yang lebih tangguh atau untuk mempertahankan sistem yang sudah rentan terhadap gangguan,” ujar Co-Chair ECT, Jules Kortenhorst.

Lebih lanjut, laporan ETC menyebutkan bahwa mempertahankan sistem energi fosil yang sangat tergantung dengan aliran komoditas akan membuat biaya yang ditanggung ke depan lebih besar. Sebaliknya, 70-90 persen dari biaya energi bersih digunakan untuk modal di awal. Setelah sistem terbangun, tenaga surya, angin, baterai, dan jaringan listrik, akan menghasilkan energi selama bertahun-tahun, dan terlepas dari gangguan pasar. 

Respon Indonesia

Beberapa negara di Asia mulai merespons krisis melalui berbagai kebijakan efisiensi penggunaan energi. Indonesia termasuk negara yang telah membatasi pembelian BBM untuk kendaraan pribadi, sebagai langkah mengendalikan konsumsi energi.

Sebelumnya, demi mengamankan pasokan, Pemerintah Indonesia telah mencari sumber minyak dan gas dari negara lain seperti Rusia. Namun, Policy Strategist CERAH, M. Dwiki Mahendra, menyayangkan langkah yang diambil ini hanya berfokus sebagai respons jangka pendek.

“Seharusnya pendekatan kerja sama bilateral yang telah dilakukan dapat pula diterapkan lebih gencar oleh Pemerintah Indonesia dalam mendorong proses transisi ke energi terbarukan, terkhusus dalam situasi krisis saat ini. Melalui langkah tersebut, percepatan energi terbarukan, kendaraan listrik, PLTS atap, serta elektrifikasi rumah tangga dipandang sebagai cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil impor yang harganya sangat fluktuatif,” ungkapnya.

Sementara di tingkat multilateral, forum seperti G20, ASEAN, dan mekanisme pendanaan iklim maupun skema serupa harus dimanfaatkan secara aktif untuk menarik pembiayaan hijau. Termasuk untuk mendukung ambisi Pemerintah Indonesia membangun 100 gigawatt (GW) energi surya sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional.

“Krisis Hormuz telah membuktikan bahwa energi fosil rentan terhadap situasi geopolitik yang membentuk ketergantung terhadap rute pasok yang stabil. Kerentanan tersebut hanya dapat dijawab secara permanen oleh transisi energi,” ujar Dwiki menambahkan.