Palembang, Petrominer – PT Pertamina (Persero) telah sukses melakukan konversi kilang Plaju di Palembang, Sumatera Selatan, menjadi green refinery pertama di Indonesia. Itu bisa dicapai setelah melalui serangkaian kajian dan ujicoba. Selain menghasilkan bahan bakar ramah (BBM) ramah lingkungan, kilang ini juga mampu memproduksi LPG yang tentunya juga ramah lingkungan.

“Setelah kilang Plaju, kita juga akan lakukan di kilang Balikpapan, Kilang Balongan dan Kilang Cilacap. Jadi kita akan tambah kapasitasnya sehingga perlahan yang B20 juga akan kita campur, jadi ada beberapa opsi,” ujar Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, usai mendampingi Menteri ESDM Ignasius Jonan mengunjungi Refinery Unit (RU) III Pertamina di Plaju, Palembang, Kamis (17/1).

Saat ini, jelas Nicke, unit RFCC Kilang Plaju yang berkapasitas 20,5 Million Barrel Steam Per Day (MBSD) mampu menghasilkan green fuel yang lebih ramah lingkungan sebanyak 405 ribu barel per bulan atau setara 64.500 kilo Liter per bulan. Selain itu, kilang ini juga menghasilkan produksi LPG ramah lingkungan sebanyak 11.000 ton per bulan.

Dalam jangka panjang, Pertamina telah melakukan kerjasama dengan ENI untuk mengembangkan kilang-kilang Pertamina menjadi green refinery. Perusahaan minyak asal Italia ini dikenal sebagai pelopor konversi kilang pertama di dunia.

“Kerjasama ini merupakan bagian dari komitmen Pertamina dalam menyediakan bahan bakar ramah lingkungan sekaligus mengoptimalkan sumber daya alam dalam negeri untuk menciptakan ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan energi nasional,” ucap Nicke.

Selain itu, Pertamina juga sedang menjajaki kerjasama dengan PTPN untuk suplai kelapa sawit sebagai bahan baku green fuel. Dengan begitu, BBM yang dijual tetap terjangkau bagi masyarakat Indonesia

Dalam kesempatan itu, Nicke memaparkan serangkaian kajian dan ujicoba dalam program konversi kilang tersebut.

Pada Agustus – September 2018, dilakukan ujicoba dengan metode Advanced Cracking Evaluation (ACE) Test. Hasilnya, menunjukkan RBDPO (Refined Bleached Deodorized Palm Oil) berpotensi dapat diolah di Kilang Plaju dengan skema co-processing. Ini merupakan salah satu opsi metode produksi green fuel melalui proses pengolahan bahan baku minyak nabati dengan minyak bumi secara bersamaan menjadi green fuel.

Pada Oktober – November 2018, dilanjutkan penyiapan berbagai sarana dan prasarana seperti line, tangki dan jetty serta sekaligus menyiapan dry stock RBDPO. Pada Desember 2018, dilakukan ujicoba skema co-processing dengan injeksi RBDPO secara bertahap 2,5 hingga 7,5 persen. Hasilnya cukup menggembirakan, karena bisa memproduksi bahan bakar ramah lingkungan dengan octane number hingga 91,3.

Ringkasnya, proyek tersebut mengolah minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) yang telah dihilangkan getah, bau dan pengotor lainnya untuk diolah lebih lanjut menjadi bahan bakar ramah lingkungan, seperti green diesel dan green avtur.

Ini menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di dunia yang berhasil mengimplementasikan Co-Processing CPO menjadi green gasoline dan green LPG untuk skala komersial. Keberhasilan di Plaju ini akan terus dikembangkan pada kilang lainnya seperti Kilang Cilacap, Balongan dan Dumai. Bahan bakar yang dihasilkan pun akan diperluas seperti green avtur dan green diesel yang lebih ramah lingkungan.

Menteri ESDM mengapresiasi inisiatif proyek ini. Selain ramah lingkungan, secara ekonomis CPO juga dapat mengurangi impor bahan bakar minyak. Karena itulah, Pemerintah terus mendorong Pertamina untuk berubah dari pengolah energi fosil menjadi sebagian pengolah energi yang terbarukan, seperti kelapa sawit.

Ini sejalan dengan upaya Pemerintah untuk terus mendorong pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT). Hal ini juga merupakan Komitmen Pemerintah untuk mencapai bauran energi nasional sebesar 23 persen pada tahun 2025. Komitmen pemanfaatan EBT ini meliputi dua sektor yang terbesar, yaitu kelistrikan dan transportasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here