, , ,

Ketika CSR Berubah Menjadi Jalan Kemandirian

Posted by

Balikpapan, Petrominer – Di sebuah rumah produksi, jamur tiram tak lagi sekadar dipanen lalu dijual mentah. Dari bahan yang sama, tangan-tangan anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Berseri mengolahnya menjadi keripik, sambal, kerupuk, bakso, hingga nugget.

Perubahan itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi para perempuan di KWT Berseri, keterampilan mengolah jamur berarti bertambahnya pilihan untuk memperoleh penghasilan, sekaligus mengubah hasil kebun menjadi produk dengan nilai jual lebih tinggi.

Kisah tersebut menjadi salah satu wajah program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) yang dijalankan Grup PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) di Zona 9 Kalimantan. Pada semester pertama 2026, program PPM yang dikelola melalui PT Pertamina EP Sangatta, Sangasanga, Tanjung Field, serta PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) telah menjangkau lebih dari 750 penerima manfaat langsung.

Yang dibangun bukan semata bantuan, melainkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan potensi yang sudah mereka miliki.

Nilai Ekonomi Baru

Di Sangatta, perubahan itu terlihat melalui Program Bintang Pertiwi yang dikembangkan Pertamina EP Sangatta Field. Program ini mendorong penguatan ekonomi masyarakat melalui pengolahan jamur, amplang, dan hortikultura sekaligus memperkenalkan praktik pertanian berkelanjutan.

Kini, mereka memiliki keterampilan dan peralatan untuk mengolah hasil panen menjadi berbagai produk makanan. KWT Berseri juga telah memiliki 11 rumah kumbung jamur tiram melalui pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan.

Ketua KWT Berseri, Sri Subekti, mengatakan pelatihan dan bantuan peralatan telah membuka kesempatan bagi anggota kelompok untuk mengembangkan usaha.

“Terima kasih kepada Pertamina EP Sangatta Field yang telah memfasilitasi pelatihan dan pemberian bantuan peralatan untuk dapur produksi kami dan telah mengadakan pelatihan yang sangat bermanfaat bagi anggota KWT Berseri,” ujar Sri.

Penguatan tidak berhenti pada keterampilan. Dukungan bahan pembibitan dan alat produksi diberikan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memenuhi permintaan jamur tiram putih di pasar lokal.

Bahkan, salah satu kelompok dalam program Bintang Pertiwi telah mencatatkan penghasilan bersih lebih dari Rp24 juta.

Program tersebut diarahkan untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap input pertanian berbahan kimia. Dampaknya mulai terlihat pada sisi ekonomi.

Sebanyak 20 petani yang terlibat mengalami peningkatan pendapatan sekitar Rp1 juta–Rp2 juta per petani. Penggunaan pupuk NPK juga dapat ditekan sehingga biaya produksi berkurang hingga Rp5 juta setiap siklus panen.

Artinya, pemberdayaan tidak berhenti pada transfer pengetahuan. Ketika teknologi tepat guna dan cara produksi yang lebih efisien diterapkan, manfaatnya dapat dihitung dari pendapatan yang meningkat dan biaya yang berkurang.

Di Tanjung Field, pendekatan serupa dilakukan melalui sejumlah program, antara lain SEKARA JIRAK, LESTARI Belimbing, BASMA, K-INTEGRA, dan Bintang Borneo.

Program tersebut mengembangkan ekonomi masyarakat berdasarkan potensi lokal. Hasilnya antara lain melahirkan produk amplang ikan Haruan dengan keuntungan kelompok mencapai 30 persen, memperkuat legalitas usaha, serta mendorong pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai ekonomi.

Produktivitas pertanian dan peternakan juga diperkuat melalui peningkatan kapasitas serta pemanfaatan teknologi tepat guna.

Perusahaan juga menyediakan ruang praktik bagi alumni pelatihan barber agar keterampilan yang telah diperoleh tidak berhenti sebagai sertifikat, tetapi dapat berkembang menjadi peluang ekonomi.

Lebih dari Sekadar Program

Di PHSS, program PPM dikembangkan pada bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan infrastruktur sosial. Bentuknya antara lain pengembangan UMKM dan wisata melalui Program Jagoan Usaha PHSS, peningkatan kapasitas pertanian, perikanan dan peternakan, penguatan akses air bersih dan layanan kesehatan, hingga peningkatan fasilitas pendidikan dan Posyandu.

Pendampingan juga berlanjut bagi alumni pelatihan barista dan barber, penguatan Program BIOKOSMO, serta peningkatan kompetensi melalui pelatihan dan sertifikasi.

General Manager Zona 9, Dadang Soewargono, mengatakan program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) melalui PPM dirancang agar masyarakat memiliki kapasitas dan kemandirian yang semakin kuat.

Menurutnya, program tersebut merupakan bagian dari penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG) dan Environment, Social, Governance (ESG) dalam kegiatan operasi hulu migas. Program PPM juga mencakup bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, infrastruktur, serta penanganan bencana.

Bagi PHI, keberlanjutan program sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat dan pemerintah daerah. Karena itu, program dirancang berdasarkan potensi sekaligus persoalan yang dihadapi setiap wilayah.

Manager Communication Relations & CID, PHI Dony Indrawan, mengatakan PHI bersama anak perusahaan dan afiliasinya menjalankan program PPM sesuai karakter dan potensi wilayah masing-masing.

“Setiap tahun, kami berinvestasi pada lebih dari 100 program PPM yang melibatkan masyarakat dan pemerintah daerah di sekitar wilayah operasi perusahaan di Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Selatan,” ungkap Dony.

Kolaborasi dengan masyarakat dan pemerintah daerah, menurutnya, menjadi bagian penting agar manfaat program dapat terus berjalan setelah pendampingan dilakukan.

“Di setiap program, kami senantiasa melibatkan seluruh pemangku kepentingan, terutama masyarakat dan pemerintah daerah, dalam pelaksanaan program-program CID untuk menciptakan manfaat yang dapat dinikmati bersama (creating shared value) serta menjaga keberlanjutan program-program tersebut,” ucap Dony.

Di titik itulah CSR menemukan maknanya yang lebih panjang. Bukan membuat masyarakat terus bergantung pada bantuan, melainkan membantu mereka memiliki kemampuan untuk berdiri, mengembangkan usaha, dan menentukan sendiri arah pertumbuhannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *