Jakarta, Petrominer – Meskipun pertumbuhan ekonomi global masih disertai adanya ketidakpastian di pasar keuangan, namun pertumbuhan bisnis kabel di Indonesia cukup menjanjikan. Hal tersebut dapat dilihat pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019, di mana pemerintah mengalokasikan Rp 415 triliun untuk anggaran infrastruktur.

“Fokus infrastruktur antara lain ditujukan bagi pembangunan jalan, bandara, pelabuhan, energi dan ketenagalistrikan, irigasi bendungan serta embung,” ujar Presiden Direktur PT Kabelindo Murni Tbk (Kabelindo), Elly Soepono, usai Rapat Umum Pemegang Saham Kabelindo di Jakarta, Jum’at (3/5).

Menurut Elly, sebagian dari anggaran untuk pembangunan infrastruktur tersebut tersebar dalam belanja kementerian. Anggaran Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mencapai Rp 108,2 triliun sedangkan untuk anggaran Kementerian Perhubungan Rp 38,1 triliun, serta anggaran Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rp 4,98 triliun.

Dari anggaran infrastruktur ESDM, sebagian akan digunakan untuk pembangunan ketenagalistrikan, mulai jaringan transmisi, kapasitas gardu induk, kapasitas gardu distribusi, hingga upaya peningkatan rasio elektrifikasi.

“Pembangunan infrastruktur oleh pemerintah termasuk infrastruktur ketenagalistrikan itu akan memberikan efek domino pada pembangunan proyek-proyek yang digarap oleh pihak swasta. Tentunya, semua ini akan memberikan dampak positif pada kinerja usaha Kabelindo di tahun 2019 dan tahun-tahun berikutnya,” paparnya.

Dalam kesempatanitu, Elly menyatakan pihaknya telah mengambil langkah antisipasi dalam menanggapi kerjasama Pemerintah Jawa Barat dengan International Copper Association (ICA) untuk mengaudit perangkat listrik setiap rumah penduduk di Jawa Barat.

“Perseroan tengah mempersiapkan tambahan investasi Rp 20 miliar guna memproduksi satu produk perangkat listrik yang terkait dengan proyek tersebut. Tahun ini, perseroan menargetkan akan mampu menjual produk-produk kabel senilai Rp 1,7 triliun. Angka ini didasarkan pada penjualan semester I tahun ini yang sudah melampaui Rp 500 miliar,” jelasnya.

Tahun 2018, Kabelindo membukukan penjualan konsolidasian Rp 1.243,5 miliar atau naik Rp 28 miliar dibandingkan tahun 2017.

Laba kotor tahun 2018 naik 14,66 persen yaitu dari Rp 105,9 miliar menjadi Rp 121,4 miliar. Sedangkan laba sebelum pajak tahun 2018 mencapai Rp 64,5 miliar, naik 44,81 persen dibandingkan tahun 2017 yang mencapai Rp 44,5 miliar.

Sementara laba bersih senilai Rp 40,7 miliar, turun 7,55 persen dibandingkan tahun 2017 yang mencapai Rp 44,0 miliar. Hal ini disebabkan di tahun 2017, pajak tangguhan mencapai Rp 11,8 miliar, sementara pada tahun 2018 adalah Rp 7 miliar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here