(Dari kiri ke kanan) Takahisa Hiura selaku Direktur; Toshihiko Terao selaku Direktur Utama; Cahyadi Wijaya selaku Komisaris Independen; Sulim Herman Limbono selaku DIrektur; dan Andri Adhitya selaku Direktur Independen

Jakarta, Petrominer – Persaingan dalam bisnis kabel di kawasan Asia termasuk di Indonesia tahun ini diprediksi masih berlangsung ketat. Ini dipicu oleh terus naiknya harga bahan baku baik tembaga maupun aluminium dalam beberapa waktu terakhir.

Kondisi tersebut akan memaksa semua produsen berupaya merebut peluang pasar yang cukup besar sesuai kebutuhan. Upaya itu dilakukan meskipun perolehan laba (margin profit) relatif lebih kecil.

“Menghadapi hal tersebut, Perseroan telah mempersiapkan sejumlah langkah strategis agar usahanya tetap eksis sebagai produsen pemasok kebutuhan kabel untuk proyek besar di dalam negeri maupun di kawasan Asia,” ujar Presiiden Direktur PT Sumi Indo Kabel Tbk., Toshihiko Terao, usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang berlangsung di Jakarta, Senin (10/9).

Terao menjelaskan bahwa tahun 2017, Perseroan mencapai omzet penjualan US$ 141 juta atau meningkat 9,5 persen dibanding tahun sebelumnya. Nilai ini juga mencakup total ekspor US$ 94 juta.

“Tingginya nilai penjualan tersebut tidak dapat dipisahkan dari faktor pendorong naiknya harga bahan baku,” paparnya.

Namun demikian, dari total penjualan tersebut, Perseroan hanya memperoleh laba US$ 1,7 juta, meleset dari target pencapaian US$ 4,1 juta. Pasalnya, setahun lalu terjadi kenaikan harga bahan baku yang cukup siqnifikan di pasar internasional. Selain itu, Perseroan juga harus menurunkan pendapatannya sekitar 26 persen dari target sebelumnya.

“Meski begitu, kami tetap menjaga kualitas produk yang kebanyakan sudah memenuhi Standard Nasional Indonesia (SNI) wajib,” jelas Terao.

Dalam kesempatan itu, dia juga menegaskan bahwa pihaknya tetap bertekad untuk terus mendukung proyek yang sudah berjalan saat ini, antara lain pengadaan proyek pembangkit listrik PT PLN (Persero), proyek infrastruktur, sejumlah projek pendukung transportasi, proyek industri komersil, petrokimia, serta berbagai projek minyak dan gas. Perseroa melihat kebutuhan kabel untuk sejumlah projek tersebut, masih sangat besar.

Sejak tahun 2016, Sumi Indo Kabel telah membuat variasi produk, yakni dengan produk kawat khusus otomotif dan alat-alat elektronik lain, yang dapat menunjang kinerja. Total penjualan kawat khusus untuk keperluan industri otomotif tahun 2017, mencapai US$ 15 juta.

“Saat ini, pangsa pasar produk kami di Indonesia sudah makin meningkat, di mana sekitar 40 persen dari produksi dijual di Indonesia, sedangkan lainnya untuk memenuhi permintaan pasar internastioal antara lain Negara Negara ASEAN dan Timur Tengah,” ujar Terao.

Margin Profit Menipis

Terao mengatakan, menghadapi persaingan bisnis kabel di kawasan Asia saat ini, bukan hal yang mudah, karena selain tuntutan kualitas yang tinggi, mereka juga menuntut agar harga menjadi semakin kompetitif. “Ini adalah tantangan yang sulit, namun untuk mempertahankan segmen pasar yang sudah dimiliki perseroan di sejumlah negara saat ini, menjadikan perusahaan harus melakukan penyesuaian, walau dengan margin profit yang tipis,” jelasnya.

Diperkirakan persaingan bisnis kabel tahun 2018 ini masih akan berlangsung ketat. Namun perseroan telah mengantisipasi hal tersebut dengan strategi pola dasar pemikiran SEQCD (Safety, Environment, Quality, Cost and Delivery) sebagai pedoman operasional perseroan dengan mempertahankan kualitas, distribusi harga, dan lain lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here