Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita.

Jakarta, Petrominer – Pemerintah terus berupaya melakukan percepatan pembangunan infrastruktur digital dalam rangka mendukung penerapan industri 4.0. Seperti halnya infrastruktur fisik, infrastruktur digital merupakan unsur yang penting bagi pengembangan sektor industri.

“Infrastruktur digital akan memacu daya saing sehingga lebih kompetitif di pasar global. Selain itu juga mutlak diperlukan dukungan dari teknologi fundamental industri 4.0, antara lain artificial intelligent, internet of things, wearables (augmented reality dan virtual reality), advanced robotics, serta 3D printing,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Jum’at (12/3).

Agus menjelaskan, Pemerintah telah meluncurkan peta jalan Making Indonesia 4.0 untuk memacu tujuh sektor prioritas yang akan menjadi pionir penerapan industri 4.0. Ketujuh sektor tersebut adalah industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, elektronik, otomotif, kimia, farmasi, serta alat kesehatan.

“Semua sektor tersebut dinilai mampu memberikan kontribusi yang besar hingga 65 persen terhadap PDB nasional. Target besarnya dari Making Indonesia 4.0, yakni menjadikan Indonesia masuk dalam 10 besar perekonomian dunia pada tahun 2030,” ungkapnya.

Guna mencapai sasaran tersebut, Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, yang membina tiga sektor prioritas dalam Making Indonesia 4.0, yaitu industri otomotif, elektronika, dan peralatan kesehatan, bertekad mendorong penggunaan big data dan artificial intelligent agar sektor manufaktur tersebut dapat melangkah cepat ke arah transformasi digital.

“Kami sangat mengapresiasi industri-industri binaan kami yang telah sukses menerapkan industri 4.0, antara lain PT Astra Honda Motor dan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia. Ada juga PT Schneider Electric Manufacturing Batam yang telah menjadi model bagi perusahaan manufaktur lainnya untuk dapat menerapkan industri 4.0,” papar Direktur Jenderal ILMATE Kemenperin, Taufiek Bawazier.

Menurut Direktur Astra Honda Motor, David Budiono, teknologi artificial intelligent dan big data telah terbukti membuat industri manufaktur yang menerapkannya mampu beroperasi lebih maksimal, efisien, dan berdaya saing sekaligus mengurangi kecelakaan kerja.

“Sensor-sensor yang dipasang pada lini produksi, warehouse, purchasing, dan lainnya semua akan masuk ke dalam big data. Kemudian, peran dari AI untuk mengolah informasi dan mengkobinasikan data antardivisi sehingga proses di AHM menjadi lebih efisien,” tutur David.

Sejalan hal tersebut, Ditjen ILMATE terus mendorong agar industri 4.0 bisa diterapkan oleh seluruh sektor binaannya. Kemenperin telah memiliki program yang dapat mendukung sektor industri menuju arah transformasi digital, di antaranya melalui program INDI 4.0 untuk mengukur kesiapan dan pendampingan kepada perusahaan industri manufaktur dalam mengimplementasikan industri 4.0. Kemudian, pelaksanaan INDI 4.0 Awards sebagai pemberian penghargaan kepada industri yang sudah siap untuk bertransformasi ke era industri 4.0.

“Kami juga punya Program Pelatihan Manager Transformasi Industri 4.0, untuk menyiapkan personel menjadi pemimpin dalam penerapan industri 4.0 di perusahaan,” ujar Direktur Industri Elektronika dan Telematika, Ali Murtopo Simbolon.

Menurut Ali, program-program tersebut diyakini dapat mengakselerasi Indonesia dalam mewujudkan pembangunan instrastruktur digital. Dengan penguatan transformasi digital, kami optimistis pada tahun 2021 ini sektor industri akan bangkit sehingga turut mendorong pemulihan ekonomi nasional.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here