Direktur Megaproyek Pengolahan & Petrokimia Pertamina, Ignatius Tallulembang.

Bali, Petrominer – Proyek modernisasi dan pembangunan kilang yang sedang digarap PT Pertamina (Persero) diyakini mampu akan meningkatkan kapasitas kilang hingga dua kali lipat. Proyek yang dikenal dengan Refinery Development Master Plan (RDMP) dan Grass Root Refinery (GRR) ini akan menambah kapasitas kilang Pertamina saat ini, dari 1 juta barel per hari (bph) menjadi 2 juta bph.

Menurut Direktur Megaproyek Pengolahan & Petrokimia Pertamina, Ignatius Tallulembang, Pertamina telah menjadikan RDMP dan GRR sebagai dua fokus inisiatif strategis dalam rangka menuju perusahaan migas kelas dunia.

“Untuk mencapai standar kelas dunia ini, Pertamina akan meningkatkan kapasitas kilang melalui pembangunan 4 RDMP dan 2 GRR serta sekaligus mengintegrasikannya ke dalam pabrik petrokimia untuk mengembangkan bisnis baru dengan dukungan sumber daya manusia handal, teknologi terkini berkelas dunia serta mengedepankan aspek HSSE,” ujar Tallulembang ketika menjadi pembicara utama dalam kegiatan Refining Petrochemicals World (RPW) 2019 di Bali, Rabu (15/5).

Megaproyek RDMP dan GRR, jelasnya, sekaligus akan meningkatkan kemampuan pengolahan crude dari sweet crude menjadi sour crude dengan kandungan sulfur sekitar 2 persen. Selain itu, Yield of Valuable juga akan naik menjadi sekitar 95 persen dari sebelumnya 75 persen.

“Kilang Pertamina ini nantinya akan menghasilkan produk BBM yang ramah lingkungan standar Euro5, serta akan menghasilkan produk Petrochemical berkisar 6.600 Kilotonnes Per Annum (KTPA) dari sebelumnya sebesar 600 KTPA, sehingga bisa mengurangi impor produk petrokimia secara signifikan,” ujar Tallulembang.

Hadirnya kedua proyek besar ini diharapkan bisa meningkatkan produksi minyak sehingga 100 persen, memenuhi kebutuhan energi nasional serta mendukung pertumbuhan industri petrokimia dan memperkuat bisnis hilir Pertamina.

Pertamina terus berupaya meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) karena proyek yang dijalankan memiliki kebutuhan material dan jasa dengan standar yang tinggi untuk megaproyek yang saat ini sedang dijalankan Pertamina. Karena itu, Pertamina juga membutuhkan produsen manufaktur dalam negeri agar dapat meningkatkan kinerjanya dalam berbagai aspek, seperti spesifikasi produk, ketepatan waktu hingga harga.

RPW 2019 merupakan ajang bagi para pemimpin & pelaku industri Minyak & Gas (Migas) khususnya di bidang Refinery & Petrochemicals untuk membahas tantangan, peluang hingga tren pasar bertujuan sebagai sarana mencari solusi dalam berbagai permasalahan yang umun ditemui dalam sektor ini.

Kegiatan ini terbagi dalam Sesi Pleno Eksekutif dan Diskusi Panel menghadirkan 40 pembicara dari dalam dan luar negeri serta diikuti 350 peserta yang berkecimpung dalam bisnis Refinery & Petrochemicals, Engineering Procurement and Construction (EPC) hingga penyedia teknologi.

Mengusung Tema “Transformasi Digital dan Inovasi Proses untuk Masa Depan Hilir yang Berkelanjutan”, kegiatan ini menjadi ajang bagi Direktorat Megaproyek & Pengolahan Petrokomia Pertamina untuk menyampaikan berbagai proyek besar Pertamina sesuai dengan target yang ingin dicapai.

“RPW 2019 bagi kami merupakan ajang mencari partner yang tepat dalam menjalankan project-project yang kami miliki. Antusiasmenya sangat luar biasa, sehingga kami pun bisa memperoleh opsi dalam berbagai aspek pemilihan partner,” ujar Tallulembang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here