Jakarta, Petrominer – Persaingan di bidang bisnis kabel kian ketat menyusul bertambahnya produsen kabel dalam negeri. Asosiasi Pabrik Kabel Indonesia (Apkabel) mencatat kenaikan anggota hingga mencapai 55 pabrikan. Meski begitu, pasar di dalam negeri masih terbuka lebar bagi para pelaku bisnis kabel nasional.

Menyikapi hal itu, PT Kabelindo Murni Tbk. menyatakan tetap yakin dapat bersaing. Apalagi, produk Kabelindo sudah dikenal secara luas, karena mengandalkan baik kualitas maupun distribusi yang cukup bersaing. Tambahan investasi pun telah disiapkan untuk merebut pasar tahun 2018 ini.

“Tahun ini, perseroan akan melakukan tambahan investasi (Capex – Capital Expenditure) Rp 10 miliar. Tambahan modal tersebut akan menambah kapasitas produksi kabel bagi perusahaan manufaktur yang memproduksi kawat dan kabel terkemuka di Indonesia,’ ujar Direktur Kabelindo, Feronika Lukman, dalam paparan publik (Public Expose) yang digelar pekan lalu.

Menurut Feronika, kinerja perseroan pada semester pertama tahun ini belum mencerminkan prospek bisnis kabel tahun 2018. Alasannya, pesanan baru muncul sejak April 2018.

“Awal April 2018, order besar mulai masuk dari PT PLN (Persero) yang merupakan pelanggan utama bagi perseroan,” paparnya.

Berbicara mengenai penggunaan kabel, sementara ini kekuatan pasar masih pada berada pada produksi kabel tembaga. Sedang permintaan kabel berbasis aluminium baru mulai meningkat, seiring dengan semakin tingginya penggunaan kebutuhan di bidang telekomunikasi dan infrastruktur lainnya. Tahun ini, Kabelindo berencana akan memproduksi kabel tembaga 7.000 ton, sementara produksi kabel aluminium direncanakan kurang lebih 1.000 ton.

Proyek Pemerintah

Sebelumnya dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Kabelindo, Elly Soepono, memprediksi volume pekerjaan pembangunan oleh pemerintah tahun 2018, masih sangat banyak.

“Anggaran Pembangunan Pemerintah Indonesia di bidang infrastruktur tahun 2018 cukup besar, yang mencapai Rp 410,4 triliun. Dari anggaran tersebut, ada enam sasaran utama infrastruktur yang akan dibangun, yaitu jalan, jembatan, jalur kereta api, pelabuhan bandar udara, dan terminal, di mana proyek-proyek tersebut terkait dengan produk perseroan,” jelas Elly.

Menghadapi rencana pembangunan tersebut, paparnya, Kabelindo telah mempersiapkan sejumlah langkah strategis, antara lain membuat perencanaan produksi yang lebih baik, mengatur penyediaan bahan baku, hingga mengatur pendistribusian ke wilayah yang lebih jauh.

Selain bersumber dari APBN 2018, proyek tersebut juga terkait dengan pengerjaan mega proyek listrik 35.000 MW, ditambah pembangunan fast track tahap I dan II yang tertunda dari tahun-tahun sebelumnya.

Untuk peluang ekspor, jelasnya, sementara ini Kabelindo masih berfokus pada pemenuhan kebutuhan lokal yang permintaannya cukup besar. Permintaan datang dari sejumlah proyek yang sedang berlangsung di Indonesia, meliputi pembangunan jalan dan jembatan termasuk terowongan, bandar udara, dermaga dan pelabuhan, pengembang perumahan, industri, perkantoran, dan projek infrastruktur lainnya. yang secara keseluruhannya dilengkapi dengan jaringan listrik.

Selain itu masih ada juga pembangunan kabel untuk mendukung pengerjaan, baik di bidang kabel untuk bangunan, instrumen, enamel, termasuk juga serat optik dan kabel yang mendukung pengembangan bidang telekomunikasi dan informasi di abad digital saat ini.

Elly mengatakan tahun 2017, Kabelindo berhasil meningkatkan penjualan mencapai Rp 1,2 triliun atau naik Rp 228,1 miliar dibanding tahun sebelumnya yang senilai Rp 987,4 miliar. Peningkatan yang sama masih diharapkan terjadi tahun ini kerena semakin meluasnya pembangunan yang akan membutuhkan pasokan kabel.

Dari total penjualan konsolidasi tersebut, Kabelindo memperoleh laba kotor Rp 105,9 miliar dengan laba bersih mencapai Rp 44,0 miliar atau naik Rp 22,8 miliar dibanding tahun sebelumnya. Dari laba bersih tersebut, RUPS telah menyepakati akan membagikan dividen tunai sebesar Rp 10,00 per lembar saham.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here