Menteri ESDM, Ignasius Jonan.

Jakarta, Petrominer – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, menegaskan kembali dukungannya terhadap penggunaan energi baru terbarukan (EBT) dan meminta PT PLN (Persero) agar dapat mempercepat proses pengembangan pembangkit EBT di Indonesia.

Hal itu disampaikan ketika membuka acara diseminasi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN (Persero) Tahun 2019-2028 di kantor pusat PLN, Senin (18/3).

Jonan mengungkapkan, perubahan RUPTL PLN tahun 2018-2027 dilakukan karena adanya dinamika pertumbuhan kebutuhan listrik dan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan. Karena itulah, perlu dilakukan perubahan terhadap lingkup dan kapasitas pembangkit, pergeseran commercial operation date (COD), dan penambahan proyek baru untuk peningkatan keandalan sistem ketenagalistrikan.

Pada kesempatan tersebut, dia kembali menegaskan dukungannya terhadap penggunaan EBT dan meminta PLN agar dapat mempercepat proses pengembangan pembangkit EBT di Indonesia.

“Pemerintah menetapkan energi baru terbarukan dalam bauran energi minimal 23 persen di tahun 2025. Ini tantangan yang amat besar. Sehingga Pemerintah memutuskan inisiatif pembangkit EBT di bawah 10 MW tidak perlu ada dalam RUPTL, tujuannya mengejar bauran energi yang berasal dari EBT,” ungkap Jonan.

Melalui RUPTL PLN 2019-2028, Kementerian ESDM telah menginstruksikan kepada PLN agar terus mendorong pengembangan energi terbarukan. Dalam RUPTL terbaru ini, target penambahan pembangkit listrik dari energi terbarukan hingga tahun 2028 adalah sebesar 16.714 MW.

Menurut Jonan, hal terpenting lainnya adalah perluasan akses listrik, Rasio Elektrifikasi tahun lalu (2018) naik sebesar 14% dibanding empat tahun terakhir. “Sesuai arahan Presiden, energi harus berkeadilan, tantangannya (harga) harus terjangkau,” tegasnya.

Jonan juga meminta PLN dapat merealisasikan target di tahun 2028 yang tertuang dalam RUPTL, seperti total rencana pembangunan pembangkit sebesar 56.395 MW, jaringan transmisi tenaga listrik sepanjang 57.293 kms, gardu induk sebesar 124.341 MVA, jaringan distribusi sepanjang 472.795 kms, dan gardu distribusi sebesar 33.730 MVA.

Dalam RUPTL 2019-2028 ini, Pemerintah juga mendorong penggunaan teknologi pembangkit listrik yang ramah lingkungan. Hal ini telah dilakukan antara lain dengan mendorong penerapan teknologi PLTU Clean Coal Technology (CCT). Kementerian ESDM juga menginstruksikan kepada PLN agar bauran energi dari gas dapat dijaga sebesar minimum 22% pada tahun 2025 dan seterusnya, guna mendukung integrasi pembangkit EBT yang bersifat intermittent (Variable Renewable Energy).

Pemerintah juga berkomitmen bahwa pemanfaatan gas untuk pembangkit listrik memprioritaskan gas di mulut sumur (wellhead). Terkait penggunaan BBM untuk pembangkit listrik, dibatasi maksimal 0,4 persen mulai tahun 2025 yang digunakan hanya untuk daerah perdesaan dan kawasan 3T (Terdepan, Tertinggal, dan Terluar).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here